Oleh: Bonifasius Mantur, S.Pd, Gr
Staf guru SMA Katolik St. Josef Freinademetz, Tambolaka- Sumba Barat Daya
Setiap pagi, saya merapikan seragam yang sudah mulai memudar warnanya. Saya berdiri di depan cermin, menatap wajah yang mencoba tetap tegak demi anak-anak bangsa yang menanti di ruang kelas.
Orang-orang memanggil saya “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,” namun terkadang gelar itu terasa seperti beban yang membungkam suara perut yang lapar.
Antara Papan Tulis dan Tagihan
Dunia melihat saya sebagai pelita, tapi mereka jarang melihat lilin yang hampir habis terbakar. Di sekolah, saya berbicara tentang mimpi besar, tentang kesuksesan, dan tentang masa depan yang cerah.
Namun, saat bel pulang berbunyi, saya kembali ke rumah dengan kenyataan yang berbeda: Dompet yang menipis sebelum bulan mencapai tengahnya.
Rasa malu saat harus menunda pembayaran utang di warung sebelah. Kecemasan yang muncul setiap kali anak saya bertanya kapan mereka bisa memiliki sepatu baru.
Pengabdian yang Menyakitkan
Ada luka yang tak terlihat dalam profesi ini, sebuah pilu yang tidak pernah sembuh. Pilu itu muncul ketika dedikasi saya selama Empat Tahun hanya dihargai dengan angka yang bahkan tak cukup untuk membayar martabat hidup yang layak.
Kami diminta untuk mencetak generasi unggul, namun kami sendiri sering kali harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup.
Banyak yang berkata, “Ikhlaslah, pahalamu besar di surga.” Saya percaya itu. Tapi, bukankah guru juga manusia yang butuh hidup tenang di dunia?
Harapan yang Tersisa
Saya tetap mengajar bukan karena saya sudah cukup secara materi, tapi karena saya tidak tega membiarkan masa depan anak-anak itu ikut redup.
Namun, kejujuran ini harus tetap disampaikan: di balik senyum seorang guru di depan kelas, sering kali ada hati yang sedang berdarah menahan sesak karena kesejahteraan yang hanya menjadi angan-angan.
Sampai kapan pilu ini akan menetap? Entahlah. Saya hanya terus melangkah, membawa kapur dan harapan, meski raga ini lelah dipeluk kemiskinan yang seolah enggan beranjak.

