Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Pilu yang Tidak Pernah Sembuh
Sastra

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

By Redaksi3 Februari 20262 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bonifasius Mantur
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Bonifasius Mantur, S.Pd, Gr
Staf guru SMA Katolik St. Josef Freinademetz, Tambolaka- Sumba Barat Daya

Setiap pagi, saya merapikan seragam yang sudah mulai memudar warnanya. Saya berdiri di depan cermin, menatap wajah yang mencoba tetap tegak demi anak-anak bangsa yang menanti di ruang kelas.

Orang-orang memanggil saya “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,” namun terkadang gelar itu terasa seperti beban yang membungkam suara perut yang lapar.

Antara Papan Tulis dan Tagihan

Dunia melihat saya sebagai pelita, tapi mereka jarang melihat lilin yang hampir habis terbakar. Di sekolah, saya berbicara tentang mimpi besar, tentang kesuksesan, dan tentang masa depan yang cerah.

Namun, saat bel pulang berbunyi, saya kembali ke rumah dengan kenyataan yang berbeda: Dompet yang menipis sebelum bulan mencapai tengahnya.

Rasa malu saat harus menunda pembayaran utang di warung sebelah. Kecemasan yang muncul setiap kali anak saya bertanya kapan mereka bisa memiliki sepatu baru.

Pengabdian yang Menyakitkan

Ada luka yang tak terlihat dalam profesi ini, sebuah pilu yang tidak pernah sembuh. Pilu itu muncul ketika dedikasi saya selama Empat Tahun hanya dihargai dengan angka yang bahkan tak cukup untuk membayar martabat hidup yang layak.

Kami diminta untuk mencetak generasi unggul, namun kami sendiri sering kali harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Banyak yang berkata, “Ikhlaslah, pahalamu besar di surga.” Saya percaya itu. Tapi, bukankah guru juga manusia yang butuh hidup tenang di dunia?

Harapan yang Tersisa

Saya tetap mengajar bukan karena saya sudah cukup secara materi, tapi karena saya tidak tega membiarkan masa depan anak-anak itu ikut redup.

Namun, kejujuran ini harus tetap disampaikan: di balik senyum seorang guru di depan kelas, sering kali ada hati yang sedang berdarah menahan sesak karena kesejahteraan yang hanya menjadi angan-angan.

Sampai kapan pilu ini akan menetap? Entahlah. Saya hanya terus melangkah, membawa kapur dan harapan, meski raga ini lelah dipeluk kemiskinan yang seolah enggan beranjak.

SMA Katolik St. Josef Freinademetz SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka
Previous ArticlePolres Manggarai Akan Tertibkan Parkir Liar Mahasiswa di Depan Kampus Unika St. Paulus Ruteng
Next Article Tak Hanya di Pota, Masalah Irigasi Juga Mengantui Petani Nanga Baras

Related Posts

Realita Gelap Pergaulan Bebas di Kalangan Gen Z

1 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Kemiskinan di Sumba Barat Daya: Antara Potensi Alam dan Beban Adat yang Mahal

22 Februari 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.