Ruteng, VoxNTT.com – Dosen dari Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng memaparkan hasil kajian mengenai capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).
Tes menuntut perubahan fundamental, dari sekadar angka di atas kertas menjadi kebijakan yang memanusiakan siswa.
Dosen Unika Ruteng, Marianus Tapung menegaskan, selama ini dunia pendidikan sering terjebak dalam positivisme regresif, di mana nilai ujian hanya dijadikan instrumen penghakiman untuk melabeli siswa pintar atau kurang pintar.
“Pendidikan bukan tentang mencetak skor seragam. Kami mendorong transformasi menuju humanisme progresif. Setiap angka dalam TKA harus dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami kebutuhan unik setiap individu siswa, bukan alat untuk mematikan potensi mereka,” ujar Manto dalam paparannya dalam kegiatan diskusi strategis yang dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi NTT Wilayah VI, Adrianus Ngongo para pengawas, dan beberapa Kepala SMA di Kabupaten Manggarai, pada Kamis, 5 Februari 2026.
Ia mengatakan, studi ini menggunakan beberapa level analisis statistik mulai dari statistik deskriptif, Latent Profile Analysis (LPA) untuk memetakan tipologi kompetensi siswa, analisis kluster dan analisis Regresi Logistik Multinomial untuk memetakan profil siswa berdasarkan kondisi sekolah.
“Kini saatnya kita mengubah data menjadi daya dan temuan menjadi tindakan nyata. Masa depan siswa kita di perguruan tinggi dan dunia kerja ditentukan oleh keberanian kita hari ini untuk mengambil langkah strategis yang lebih bermakna,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Dosen Unika Ruteng yang lain, Petrus Redy P. Jaya menjelaskan, ditemukan lima profil akademik yang berbeda, mulai dari profil yang sangat unggul hingga kelompok yang masuk kategori “At-Risk” (Berisiko).
“Keberhasilan akademik siswa tidak berdiri sendiri di ruang hampa,” kata Petrus.
Kata dia, data menunjukkan adanya korelasi kuat antara level individu dan institusi. Iklim keamanan sekolah dan kebhinekaan yang terekam dalam Rapor Pendidikan terbukti menjadi prasyarat utama terciptanya resiliensi psikologis siswa dalam menghadapi tantangan akademik.
Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan tiga langkah manajemen pendidikan yang asimetris dan tepat sasaran.
“Transformasi kepemimpinan kepala sekolah harus beralih peran dari sekadar pengelola administratif menjadi pemimpin instruksional yang fokus pada kualitas pembelajaran,” ujarnya.
Petrus menyampaikan diferensiasi pedagogis sekolah diminta memberikan perlakuan berbeda berdasarkan profil siswa. Contohnya, intervensi khusus literasi bagi kelompok tertentu dan penguatan numerasi dasar bagi kelompok lainnya.
Kebijakan Berbasis Data (Evidence-Based Policy) pemerintah daerah didorong untuk mengalokasikan sumber daya (guru berkualitas dan sarana prasarana) secara lebih adil ke sekolah-sekolah yang berada dalam kluster “perlu intervensi” guna memperkecil jurang mutu antarwilayah.
“Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai untuk mulai menerapkan kebijakan berbasis bukti,” tutupnya.
Penulis: Isno Baco

