Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Seni Mencintai di Tengah Badai Kekerasan dan Pengkhianatan
Gagasan

Seni Mencintai di Tengah Badai Kekerasan dan Pengkhianatan

By Redaksi5 Februari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Florentina Ina Wai
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Florentina Ina Wai

Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende

Di ambang tahun 2026, dunia seakan berdiri di tepi jurang krisis integritas dan kemanusiaan. Dari layar berita, kita disuguhi parade kebiadaban domestik dan pengkhianatan yang mencabik nalar.

Namun, di tengah riuh yang memuakkan itu, kisah seorang pria sederhana dari Vietnam bernama Tri, yang merawat istrinya, Tho, hingga hembusan napas terakhir pada Februari ini, muncul bagai cahaya yang menembus kabut.

Ia bukan sekadar cerita viral, melainkan sebuah puisi hidup yang menampar kesadaran kita: bahwa cinta sejati adalah kekuatan yang mampu bertahan di tengah badai paling gelap.

Melalui lensa Erich Fromm dalam mahakaryanya ‘The Art of Loving’, kita dipaksa menatap kenyataan pahit: mencintai bukanlah soal menemukan pasangan yang “sempurna”, melainkan soal keberanian menjadi manusia yang berjiwa penuh kasih.

Kita hidup di era di mana kualitas fisik, kecerdasan, dan kemandirian seorang istri seolah tidak lagi menjamin keamanan.

Fakta-fakta dari 2024 hingga 2025 menjadi saksi betapa murahnya komitmen di mata sebagian pria.

Kasus Cut Intan Nabila, seorang selebgram dan mantan atlet yang cerdas, dianiaya suaminya di depan bayi mereka; kasus Ira Nandha yang membongkar perselingkuhan suaminya, seorang pilot, dengan pramugari melalui aplikasi Discord; hingga kisah Norma Risma yang suaminya berselingkuh dengan ibu mertuanya sendiri.

Semua ini menunjukkan pola mengerikan: pasangan diperlakukan bukan sebagai pendamping hidup, melainkan sebagai objek konsumsi yang bisa diganti, dikhianati, bahkan disakiti demi ego pribadi.

Erich Fromm menegaskan bahwa kegagalan dalam cinta bukanlah masalah “objek”, melainkan kegagalan “subjek” dalam menguasai seni mencintai.

Kekerasan rumah tangga dan perselingkuhan adalah tanda jiwa yang kosong; kegagalan mencintai karena kegagalan menjadi manusia yang berdaya secara batiniah.

Di sinilah Tri hadir sebagai antitesis yang suci. Dalam kemiskinan materi dan tubuh istrinya yang hancur oleh TBC kronis, ia mempraktikkan Cinta yang Matang (Mature Love).

Pertama, Care (Kepedulian): Tri membersihkan raga Tho yang rapuh, menggunakan tangannya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memelihara kehidupan. Kedua, Responsibility (Tanggung Jawab): Ia menanggapi rintihan istrinya bukan karena paksaan, melainkan panggilan jiwa.

Ketiga, Respect (Rasa Hormat): Ia melihat Tho bukan sebagai beban, melainkan manusia utuh yang layak dihormati hingga ajal menjemput. Keempat, Knowledge (Pengenalan): Ia mengenal setiap ritme napas Tho, menembus selubung rasa sakit dan menyatukan jiwanya di sana.

Kematian Tho di awal Februari 2026 mengukuhkan kemenangan spiritual Tri. Di tengah dunia yang dihuni oleh suami yang tega membakar istrinya hanya karena mie instan, atau pria yang berselingkuh meski istrinya telah memberikan segalanya, Tri menunjukkan bahwa memberi adalah ekspresi tertinggi dari kekuatan.

Ia membuktikan bahwa kemantapan karakter tidak ditentukan oleh jabatan atau status sosial, melainkan oleh kapasitas untuk tetap setia pada penderitaan orang yang dicintai.

Dunia tidak kekurangan wajah cantik, pria mapan, atau pasangan cerdas. Dunia kekurangan manusia yang mampu mencintai secara matang.

Kisah Tri dan Tho mengingatkan kita bahwa mencintai adalah pilihan sadar: tetap tinggal saat kecantikan memudar, tetap memeluk saat tubuh remuk.

Dan pada akhirnya, integritas seorang manusia tidak diukur dari seberapa besar kuasa yang ia genggam, melainkan dari seberapa besar kesetiaan yang ia rawat.

Di balik kamar sempit itu, Tri telah menyalakan obor cinta murni, seperti yang diajarkan Fromm, sebuah cahaya yang menyelamatkan martabat kita dari kegelapan moral.

Ia mengajarkan bahwa di tengah badai pengkhianatan, cinta yang matang adalah satu-satunya puisi yang mampu menegakkan kembali kemanusiaan.

Florentina Ina Wai
Previous ArticleProfil Desa Perak, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai
Next Article Nelayan Reo Temukan Ikan Duyung Panjang 3 Meter Mati di Pesisir Pantai Tempode

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.