Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Liturgi Kematian Anak-anak Kita
Gagasan

Liturgi Kematian Anak-anak Kita

By Redaksi6 Februari 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Aloysius Wudi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Aloysius Wudi

Alumnus Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Ada yang retak di timur nusantara ini. Bukan tanah yang gempa. Bukan langit yang runtuh. Tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi, lebih mematikan: jiwa anak-anak yang memilih pulang lebih awal ke tanah.

Di NTT, bunuh diri anak bukan lagi berita. Ia sudah jadi liturgi kematian yang kita rayakan dengan diam. Dengan scroll. Dengan lupa. Kematian yang dipilih adalah gugatan paling telanjang terhadap hidup yang kita tawarkan.

Seorang anak yang bunuh diri tidak sedang “lari dari masalah.” Ia sedang memberikan jawaban paling jujur atas pertanyaan yang tidak pernah berani kita ajukan: apakah hidup yang kita bangun ini layak untuk diperjuangkan? Dan jawabannya di mata anak-anak yang memilih tali tambang, racun tikus, atau tebing adalah: tidak.

Bukan karena mereka lemah. Tapi karena kita yang membangun dunia yang terlalu berat untuk pundak yang masih harus belajar merangkak.

Kemiskinan di pulau ini bukan takdir. Ia adalah kekerasan yang dipelihara.

Jangan bicara soal “keterbatasan sumber daya” atau “wilayah terpencil.” Itu alibi bagi ketidakpedulian. NTT miskin bukan karena Tuhan pelit. NTT miskin karena ada yang mereka yang rakus. Karena kaum kursi empuk dan semua kita yang hidup nyaman di pusatnya membangun republik ini dengan pondasi eksploitasi: tanah dirampas, hasil bumi dihisap, manusianya dibiarkan mati perlahan.

Kemiskinan di sini punya nama dan alamat: anak yang seragamnya dijahit dari karung beras. Ibu yang melahirkan tanpa bidan. Bapak yang mabuk bukan karena suka, tapi karena mabuk lebih murah daripada harap.

Dan anak-anak ini tumbuh di tengah reruntuhan itu, tanpa cukup makan, tanpa cukup sekolah, tanpa cukup alasan untuk percaya bahwa besok akan lebih baik.Lalu kita heran mereka memilih mati? Kita baru ngomong “mental health” setelah mayatnya dingin?

Bunuh diri anak adalah teologi terbalik: ketika neraka ada di bumi, surga jadi pelarian.

Ini yang paling menyakitkan. Anak-anak ini tidak mati karena tidak percaya Tuhan. Mereka mati karena terlalu percaya. Mereka percaya bahwa di sana, di seberang napas terakhir ada tempat yang lebih baik. Tempat yang tidak lapar. Tidak diejek. Tidak dipukul. Tidak sendirian.

Surga bagi mereka bukan lagi eskatologi. Ia adalah geografi alternatif. Destinasi terdekat dari penderitaan. Dan kita? Kita yang masih hidup, yang masih nyaman, yang masih bisa scroll sambil makan mie instan kita punya nyali bilang: “Sabar ya, Nak. Ujian dari Tuhan.” Maka kelirulah teologi kita jika Tuhan dituduh sebagai dalang penderitaan anak-anak.

Kita tidak butuh simpati. Kita butuh pembongkaran sistem.

Berhenti kirim doa di media sosial kalau besoknya kau diam saat ada kebijakan yang merampas anggaran pendidikan dan kesehatan. Berhenti pasang lilin kalau kau masih mendukung ekonomi yang membuat orang tua harus memilih antara sekolah anak atau makan malam.

Bunuh diri anak adalah gejala. Diagnosisnya: sistem yang sakit. Negara yang absen. Masyarakat yang buta. Orang dewasa yang gagal. Dan obatnya bukan seminar motivasi atau hotline bunuh diri. Itu aspirin untuk kanker stadium akhir.

Yang kita butuhkan adalah revolusi: ekonomi yang adil, pendidikan yang memanusiakan, budaya yang tidak mengkultuskan diam dan tahan, orang dewasa yang berani hadir bukan cuma secara fisik, tapi secara emosional, dengan telinga yang terbuka dan pelukan yang tidak menghakimi.

Hadir. Kata yang paling sederhana tapi paling langka.

Satu orang dewasa yang benar-benar hadir bisa jadi perbedaan antara anak yang hidup dan anak yang memilih mati. Satu guru yang melihat muridnya bukan sebagai angka rapor. Satu tetangga yang bertanya, “Kamu baik-baik saja?” dan benar-benar menunggu jawaban. Satu orang tua yang memeluk alih-alih memarahi.

Tapi kita semua sibuk. Sibuk kerja. Sibuk di medsos. Sibuk dengan hidup kita sendiri sampai lupa bahwa ada anak-anak yang sedang menghitung hari terakhir mereka.

Setiap anak yang bunuh diri adalah nubuat yang gagal.

Mereka seharusnya jadi guru, petani, penulis, pemimpin. Mereka seharusnya jadi yang membangun ulang pulau ini dari reruntuhan. Tapi kita kehilangan mereka sebelum mereka sempat jadi apa-apa.

Dan dalam kehilangan itu, kita kehilangan masa depan. Kita kehilangan pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan, revolusi-revolusi yang akan mereka pimpin, lagu-lagu yang akan mereka nyanyikan. Kita kehilangan mereka. Dan harusnya kita tidak pernah diampuni untuk itu.

Pulau ini punya tanah yang subur. Langit yang luas. Laut yang dalam. Tapi apa gunanya semua itu kalau anak-anaknya memilih dikubur sebelum sempat hidup? Bunuh diri anak bukan takdir. Ia adalah pilihan, pilihan kita yang membangun dunia yang terlalu kejam untuk mereka huni. Dan kalau kita masih diam, kita semua pembunuh.

Untuk anak-anak yang tidak sempat jadi dewasa. Maaf kami terlambat. Maaf kami tidak cukup hadir. Maaf dunia ini terlalu berat untuk kalian.

Aloysius Wudi
Previous ArticleFKUB Manggarai Gelar Dialog Persaudaraan Semesta Bertema Ekologi Iman
Next Article Ritel Modern,  Meja Kasir dan Kerukan Recehan

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.