Ruteng, VoxNTT.com – Sejak 28 Januari 2026, warga Kampung Munta, Desa Bangka Ara, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, bergotong royong membangun tembok penahan tanah untuk melindungi rumah milik Regina Uner, 62 tahun.
Pembangunan dilakukan di atas lahan miring yang rawan longsor dan mengancam keselamatan rumah sederhana milik janda lansia tersebut.
Regina Uner selama ini tinggal bersama adiknya yang juga berstatus janda dan tidak memiliki anak.
Kondisi rumah mereka dinilai rentan, terutama setelah tanah di sekelilingnya mulai menunjukkan tanda-tanda membahayakan.
Warga setempat kemudian berinisiatif melakukan kerja bakti secara swadaya tanpa menunggu bantuan pemerintah.
Dalam kegiatan tersebut, Bhabinkamtibmas Kecamatan Cibal Barat, Bripka Agustinus Yatarten, turut hadir dan terlibat langsung dalam proses pembangunan.
Ia tidak hanya melakukan pendampingan, tetapi juga mengoordinasikan warga selama kerja bakti berlangsung.
“Saya kumpul dan ajak warga kerja bakti. Kita gali, ratakan tanah, lalu bangun tembok penahan supaya rumah ini lebih aman,” kata Agustinus kepada VoxNtt.com pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Agustinus menyebutkan, pembangunan tembok penahan dilakukan sepenuhnya secara swadaya tanpa menggunakan anggaran pemerintah.
Dana yang digunakan berasal dari kontribusi pribadi serta dukungan jejaring sosial.
“Dananya pembuatan tembok penahan saya dapat dari kumpulan teman dan kenalan,” ujar Agustinus.
“Uang yang terkumpul dari teman dan warga sebesar Rp5.550.000.”
Menurut Agustinus, dana tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan selama proses kerja bakti, terutama konsumsi bagi para pekerja.
“Uang itu digunakan untuk biaya makan dan minum tukang. Warga yang datang kerja bawa beras masing-masing. Lauknya saya beli, dan sayurnya disiapkan oleh ibu-ibu kelompok,” jelasnya.
Pembangunan tembok penahan hingga kini masih berlangsung secara bertahap.
Dalam proses tersebut, seorang anak perempuan Regina yang telah berkeluarga dan berasal dari Selayar turut diajak tinggal sementara untuk membantu kebutuhan dapur para pekerja.
“Sekarang ada anak perempuan yang sudah bersuami orang Selayar. Kita ajak tinggal sama dan bantu masak untuk tukang saat kerja,” kata Agustinus.
Ia juga menyampaikan harapan agar setelah pembangunan selesai, keluarga Regina dapat memperoleh pendampingan yang lebih berkelanjutan.
“Harapan saya, kalau rumah ini sudah jadi, anaknya bisa tinggal dan menjaga kedua nenek ini,” tambahnya.
Jika masih terdapat sisa dana, Agustinus menyebut akan memprioritaskan pembangunan fasilitas sanitasi bagi Regina.
“Kalau masih ada sisa uang, rencananya akan kami gunakan untuk pembuatan WC bersih untuk nenek Regina Uner,” ujarnya.
Agustinus juga membuka ruang partisipasi masyarakat luas untuk mendukung kelanjutan pembangunan.
“Dan kami berharap ada uluran tangan kasih dari saudara semua, sehingga bisa membantu kami memperlancar semua proses pembangunan ke depannya,” katanya.
Kontributor: Leo Jehatu

