Ende, VoxNTT.com – Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Ende menyelenggarakan seminar akademik sebagai rangkaian kegiatan menjelang Wisuda Sarjana Tahun 2026.
Kegiatan yang digelar pada Jumat, 13 Februari 2026, di Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD itu mengusung tema “Dipilih untuk Diutus: Mewujudkan Sarjana yang Berbuah Nyata melalui Kolaborasi dan Karya Kontekstual”.
Panitia penyelenggara, Ignasius Suswakara mengatakan, seminar ini bertujuan membekali calon lulusan agar memiliki kesiapan mental dan profesional sebelum terjun ke tengah masyarakat.
Menurut dia, gelar Sarjana Pendidikan Keagamaan Katolik (S.Pd) tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga membawa konsekuensi perutusan.
“Hal ini memiliki makna dan tujuan yang lebih jauh dari entitas akademik yang terisolasi,” tegas Ignasius.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut berpijak pada landasan teologis Yohanes 15:16 yang menekankan dimensi missio atau perutusan.
Secara filosofis, kata dia, para lulusan juga diarahkan untuk mengalami perubahan paradigma (metanoia) agar mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ignasius menilai, langkah ini merupakan respons atas tantangan era disrupsi di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores.
Guru agama, kata dia, kini dihadapkan pada kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, serta perkembangan teknologi yang pesat.
“Guru agama masa kini dihadapkan pada kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, serta kemajuan teknologi yang pesat,” ujar Ignasius.
Oleh karena itu, lanjut dia, STIPAR Ende menetapkan tiga kapasitas utama yang harus dimiliki lulusan yakni kapasitas teologis-pastoral, kapasitas sosial-pemberdayaan, dan kapasitas adaptif-inovatif.
Dalam seminar tersebut, STIPAR menghadirkan narasumber lintas perguruan tinggi di Kota Ende.
Ketua STIPAR Ende, Fransiskus Z.M. Deidhae memaparkan materi tentang integritas guru agama sebagai misionaris modern yang berfokus pada pembangunan karakter Generasi Z dan Alpha.
Ketua STPM Santa Ursula Ende, Yulita Eme menyoroti pentingnya sinergi pastoral dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk kemampuan mendeteksi persoalan sosial dan advokasi ekonomi umat di tingkat desa.
Sementara itu, Rektor Universitas Flores yang diwakili Ketua LP2M Universitas Flores, Yustina M.S.W. Pu’u memaparkan pentingnya inovasi dan literasi digital.
Ia menekankan kompetensi critical thinking, creativity, collaboration, dan communication (4C) sebagai instrumen daya saing di era global.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan ritual pengutusan simbolis.
Ketua STIPAR Ende menyerahkan bibit tanaman kepada para calon wisudawan sebagai representasi komitmen untuk menghasilkan karya nyata yang berkelanjutan di tempat tugas masing-masing.
Melalui seminar ini, STIPAR Ende berharap para lulusan memiliki kepercayaan diri untuk memasuki dunia kerja, baik di sektor formal maupun informal, serta memahami tanggung jawab pengabdian sebagai sarjana pastoral dalam memberdayakan masyarakat secara utuh.
Kontributor: Anselmus DW Atasoge

