Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Dia dalam Keheningan
Gagasan

Dia dalam Keheningan

By Redaksi15 Februari 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Siswa dari Seminari St Yohanes Paulus Il Labuan Bajo

Hari itu, 7 Februari 2026. Hari kedua saya mengikuti ret-ret. Saya menulis ini pukul 08.55 WITA, tepat di depan wisma putra sebelum memasuki renungan pertama di hari ini. Sejuk, adem, dan tenang.

Kira-kira seperti itu suasana yang saya rasakan di tempat duduk keramik panjang ini, saya berusaha untuk tenang dan mencari kedamaian untuk mendamaikan diri. Tempat ini jauh dari pemukiman masyarakat, tetapi tenang untuk melihat kembali dinamika hidup masyarakat.

Begitu banyak orang mengatakan hening itu mahal, tetapi bagi saya hening sebenarnya jauh dari kata mahal. Hening tidak membuat janji tentang kapan dia datang dan kapan dia pergi. Bagi saya hening itu kebutuhan. Dia tidak mahal, tidak juga murah.

Hening itu sebenarnya usaha manusia untuk melihat diri. Memang bukan secara fisik dan biologis, tetapi kebutuhan akan sadar diri agar manusia dapat sadar. Hening membuat kita menepi dan bersandar sejenak, berusaha untuk bercermin melihat apa yang berada jauh di dalam diri.

Hening itu abadi, tinggal siapa yang mau menyapa. Kita sibuk dengan urusan kita, tetapi hening telah lama beristirahat menunggu siapa yang hendak menyapa. Dia tidak egois dan sombong.

Siapa yang datang dia menyapa dan ketika pergi dia memberikan tinta. Bukan hanya tinta pena di atas kertas, tetapi hati menjadi tempat paling nyaman dia menggores.

Bukan luka yang dia gores, tetapi tulisan yang tak tersampaikan di dalam hati. Jauh dia menusuk, dalam namun tidak menyakitkan. Dia memang seperti itu, bukan seperti pedang.

Dia juga tidak seperti senja, karena dia abadi dan akan tetap hidup. Kita bingung hening itu di mana? Kita tidak tahu harus melangkah ke mana? Hening itu harga yang tak dapat dijual, hening itu sebenarnya ada dalam diri.

Sejauh mana kita pergi dan sebanyak apa yang kita dapat, hening adalah rumah paling nyaman untuk menepi.

Semua itu terdengar sulit, tetapi sebenarnya itu bergantung sejauh mana kita membutuhkannya.

Apakah hening harus di tempat sepi? Itu merupakan opsi bukan kewajiban. Hening dan keheningan sejati adalah diri.

Tidak harus jauh dan sepi, kita hanya membutuhkan ketenangan, menjauhi diri dari keramaian dan membangun suasana damai dalam diri. Jadi hening itu sebenarnya tidak mahal seperti yang dikatakan orang-orang, sebenarnya dia murah karena itu adalah kebutuhan.

Kita mesti menganggapnya sebagai kebutuhan. Dengan menjadikannya sebagai kebutuhan, maka kita mempunyai dorongan untuk mendapatkannya. Sama halnya dengan makanan, kita membutuhkannya. Kita berusaha mendapatkan makanan sama seperti mencari keheningan, yakni dengan usaha yang besar.

Oleh karena itu, keheningan sejati adalah upaya manusia untuk kembali melihat diri. Ini bukan tentang apa dan siapa, tetapi ini merupakan usaha yang mesti hidup dalam diri kita semua. Tidak harus di tempat mewah, hati yang sederhana dengan penuh kerinduan akan keheningan adalah keheningan sebenarnya.

Keheningan yang tidak hanya tenang, tetapi juga alam yang ikut mendukung menghantar saya pada tulisan ini. Di dalam keheningan itu terdapat satu panorama yang sebenarnya tak dapat dijelaskan dengan kata dan juga frasa. Sederhana, namun terkandung seribu makna. Ya Patung Itu “Patung Bayi Yesus”.

Dari seribu makna yang terkandung, saya merefleksikan dua hal dari patung indah itu. Hal yang saya perhatikan ialah bagaimana Yesus membuka dan memberikan tangan kecilnya bagi setiap orang yang hendak menghampiri-Nya. Dari hal tersebut, saya merefleksikan dua hal yang membuat saya tergugah, mungkin juga anda yang sedang membacanya.

Pertama, Tuhan senantiasa membuka hati-Nya untuk mendengarkan dan menopang hidup kita manusia. Melihat realitas yang terjadi dewasa ini, begitu banyak fenomena yang sering terjadi, salah satunya bunuh diri.

Kita sering kali terjebak dalam kerangka berpikir yang menghantar kita pada kebinasaan, kita sulit untuk mencari solusi yang dapat menghantar kita pada penyelesaian masalah yang ideal.

Kita sering kali bingung kita mesti melangkah ke mana, tetapi hanya satu jawaban yang mungkin sering kali kita ragukan, yakni Yesus.

Kita mungkin sulit untuk percaya akan hal tersebut, tetapi percayalah Dia tidak akan pernah meninggalkan manusia dalam keadaan apapun. Sejauh mana iman kepercayaan kita, sejauh itu Ia menopang kita dalam hidup.

Kedua, Tuhan meminta kesedian kita untuk memanggul salib-Nya di dunia modern saat ini. Begitu banyak tantangan manusia dan dunia dewasa ini, terkadang mengenakan, tetapi sebenarnya membuat kita jauh dari Tuhan dan jatuh dalam dosa.

Patung tersebut mengungkapkan sebuah panggilan suci bagi setiap orang yang telah percaya.

Apakah kita bersedia memanggul salib di dunia modern saat ini? Ini sebenarnya adalah pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban, kita semua sebenarnya mempunyai tanggung jawab moral untuk mengontrol dan membimbing sesama agar tidak terjebak dalam pola pikir dan pola hidup yang keliru.

Itu bukanlah kesalahan, tetapi itu adalah kekeliruan, oleh karena itu kita semua mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki berbagai kekeliruan yang terjadi dewasa ini.

Kiranya melalui tulisan ini, kita dapat menyadari bahwa keheningan merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi manusia.

Dengan keheningan kita menyadari keberadaan kita, di sana pula kita akan menemukan jawaban dari segala persoalan hidup kita. Tuhan adalah jawaban paling pasti yang hidup dan diam dalam keheningan.

Andra Geraldo
Previous ArticlePoco Leok: Luka Atas Nama Pembangunan
Next Article Enam Proyek Jalan APBD 2025 di Manggarai Berstatus KDP, DPRD Minta Kontraktor Ditindak Tegas

Related Posts

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.