(Masa Prapaskah, Tahun A; Minggu, 22 Februari 2026; Kej 2:7-9; 3:1-7 ; Mzm 51:3-4.5-6a.12-13.14-17; Ul:3a; Rm. 5:12-19; Mat 4:1-11)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Semua bacaan hari ini berbicara tentang tentang kontras Adam Lama vs Adam Baru. Yang satunya menerima dari Allah sendiri kehidupan pada awal penciptaan, tetapi juga membawa dosa asal dalam sejarah manusia. Yang satunya membawa sejarah keselamatan dalam sejarah manusia. Ia menebus dosa manusia, dan mengeluarkannya dari kutukan dan maut akibat dosa.
2
Penciptaan manusia adalah insiatif Allah sendiri yang menggabungkan karyaNya terdahulu (debu tanah) dengan nafasNya sendiri. Manusia kemudian ditempatkan di Taman Eden. Ini yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi (Kej 2:7-9; 3:1-7). Taman Eden dan pohon di tengah taman itu menjadi tonggak moral dan tiang spiritual. Keduanya adalah prasasti perjanjian antara manusia dan Allah. Allah mempercayakannya kepada manusia dan manusia harus percaya kepada Allah. Artinya, dia bertanggung jawab akan semua ciptaan.
3
Rupanya sang penggoda, sang ular cerdik, memasuki sisi lemah manusia: (a) rayuan tentang kuasa: manusia akan menjadi seperti Allah, (b) popularitas pengetahuan: manusia akan tahu tentang yang baik dan yang jahat, dan (c) legasi historis dan keabadian: manusia tidak akan mati. Adam dan Hawa pun lebih percaya pada sang ular daripada Allah. Karena itu keduanya ditelanjangi dari rahmat, serta diusir dari Taman Eden. Dan dengan itu dosa masuk dalam sejarah manusia. Inilah kisah Adam Lama.
4
Dalam bacaan kedua (Rm. 5:12-19), Paulus berbicara tentang dosa, pelanggaran, penghakiman, dan penghukuman yang masuk ke dunia karena satu orang, yaitu Adam Lama. Dengan itu, semua orang berada di bawah kuasa maut. Namun kasih karunia Allah dan pembenaran lebih besar, dan masuk ke dunia karena satu orang, yaitu Yesus Kristus sebagai gambaran Adam Baru.
5
Berbeda dengan Sang Adam Lama dan Hawa istrinya yang terkena tipu daya iblis dalam wujud ular, Sang Adam baru, yaitu Yesus Kristus menundukkan iblis dan menolak godaannya. Ini dikisahkan dalam bacaan Injil (Mat 4:1-11). Ia menggoda Yesus dalam tiga wujud: (1) ubah batu jadi roti: roti simbol kebutuhan dasaf fisik dan simbol harta dan kekayaan; (2) Yesus dibawa ke bubungan Bait Allah: tempat religius, simbol kekudusan dan popularitas, karena disaksikan banyak orang yang berdoa; (3) lalu Ia dibawa ke puncak gunung dari mana dapat dilihat semua kerajaan dunia: ini adalah simbol kekuasaan. Yesus menolak ketiganya, dan mengusir sang iblis. Hal ini tentu berbeda dengan Sang Adam Lama yang terusir dari Taman Eden, karena takluk pada godaan.
6
Iblis sang penggoda akan terus mencobai kita seperti dilakukannya kepada Adam Lama dan istrinya, dan kepada Adam Baru Yesus Kristus. Ia menawarkan perspektif hidup yang lain dari Allah. Godaan makan dan minum enak padahal sedang sakit dan akan menyebabkan sakit. Godaan untuk cari popularitas dan viralitas dengan cara yang kurang etis atau kurang mendidik. Memotong, memfitnah, dan berlaku kasar kepada orang lain demi harta, kuasa, dan poluritas. Bergaya hidup hedonis, konsumtif, dan materialis demi standar hidup yang ilusi dan alienatif dengan mengorbankan kebutuhan utama sambil berutang, menipu, atau korupsi.
7
Menelantarkan dan menindas orang kecil demi kepentingan pribadi dengan berkedok kepentingan umum. Merusak alam dan budaya demi harta, kuasa, dan popularitas.
8
Di sini kita berada antara dosa, maut, penghukuman di satu pihak dan di pihak lain, kasih karunia dan pembenaran dari pihak Allah sendiri. Semoga lewat doa, puasa, dan sedekah yang dikuatkan oleh Roh Allah, kita mendapat kasih karunia dan keselamatan dari Allah sendiri.

