Oleh: Florentina Ina Wai
Kabut selalu turun di lembah Bole Wote, seakan enggan memberi ruang bagi matahari untuk menyingkap rahasia yang bersemayam di balik pepohonan tua. Pohon-pohon itu berbisik pada angin, menyimpan kisah yang hanya bisa dimengerti oleh satu manusia terakhir: Meme Tupa.
Ia penjaga alam kuno, penghubung antara tanah dan langit, antara manusia dan roh hutan. Tubuhnya rapuh, namun matanya menyimpan cahaya ribuan tahun.
Namun, di balik ketenangan itu, sebuah teror sedang tumbuh, seperti ular yang bersembunyi di balik akar.
Di rumah panggung kepala suku, putranya terbangun dengan tubuh basah oleh keringat dingin. Mimpi yang menjeratnya malam itu bukan sekadar bunga tidur.
Ia melihat kakaknya yang telah lama mati berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat bagai kain kafan. Di pelukan sang kakak, seorang bayi perempuan cantik dengan mata sejernih istrinya yang sedang hamil tua.
Tapi keindahan itu retak seketika. Jemari mungil bayi itu dipenuhi luka merah yang mengelupas, persis seperti penyakit istrinya. Bayi itu menangis tanpa suara, dan di sudut kamar, bayangan Meme Tupa berdiri, merapal mantra yang seolah memindahkan kutukan ke dalam rahim istrinya.
Kabar mimpi itu menjalar cepat, seperti api yang melahap padang rumput kering. Pagi harinya, pasar-pasar dipenuhi bisikan yang berubah menjadi teriakan: “Meme Tupa mencuri jiwa anak yang belum lahir!” Sang penjaga alam kini dituduh sebagai suanggi, pencabut nyawa. Akal sehat terkubur di bawah gunung prasangka.
Malam itu, desa mendidih. Obor-obor menjilat langit, teriakan massa membelah angkasa. Pintu gubuk Meme Tupa didobrak, kayu tua itu mengerang, menyerah pada amarah manusia. Putra kepala suku berteriak dengan mata merah membara: “Keluar kau, Suanggi!”
Meme Tupa muncul di ambang pintu, kebaya tuanya lusuh, warnanya menyatu dengan tanah dan akar. Ia tampak seperti bagian dari bumi itu sendiri. Dengan suara setenang telaga ia berbisik: “Mampirlah, Nak. Ada teh akar untuk istrimu.” Sebuah tawaran kesembuhan di tengah badai kebencian.
Namun kata-kata itu justru menjadi bahan bakar amarah. Caci maki menghujani wajahnya, kayu-kayu besar menghantam tubuh renta yang sudah melengkung. Puluhan pria dari berbagai suku bersatu, bukan untuk menjaga desa, melainkan untuk mengeroyok seorang perempuan tua. Sebuah persatuan yang lahir dari kegilaan.
Meme Tupa jatuh. Kebaya tanahnya bersimbah darah. Saat napas terakhirnya terlepas, bumi bergetar. Pohon-pohon merintih, angin berubah menjadi badai dingin. Alam murka karena darah penjaganya ditumpahkan oleh tangan-tangan yang ia beri makan.
Fajar datang dengan dingin yang menusuk. Namun keanehan baru saja dimulai. Warga yang kembali ke rumah mendapati wajah mereka luntur di cermin. Guratan hidung, bibir, mata, semuanya hilang, rata seperti batu kali. Identitas manusia mereka lenyap, diganti kehampaan.
Di rumah panggung, bayi perempuan itu lahir. Namun matanya bukan lagi jernih seperti ibunya. Di dalam kelopak mungil itu, bersemayam mata tua Meme Tupa. Bayi itu menatap ayahnya dengan ketenangan telaga, lalu membuka mulut. Suara serak Meme Tupa bergema: “Teh akarnya sudah siap, Nak… Mengapa kalian belum juga mampir?”
Sekejap, gubuk Meme Tupa yang hangus berdiri kembali, utuh seperti semula. Waktu terlipat. Warga Bole Wote terjebak dalam lingkaran kutukan: setiap malam mereka akan membunuh Meme Tupa, setiap pagi mereka akan mendengar suara bayi menawarkan teh akar. Sebuah hukuman abadi dari tanah yang tak pernah lupa.

