(Minggu Prapaskah III, Tahun A; Minggu, 8 Maret 2026; Kel 17:3-7; Mzm 95:1-2.6-7.8-9; R.8; Rm.5:1-2.5-8; Yoh 4: 5-42)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Air adalah kehidupan. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Air multifungsi: diminum, mandi. Masak. Untuk hewan dan tumbuhan. Peradaban dan budaya manusia dibangun dengan air. Karena air itu penting, maka orang Manggarai melihat air sebagai simbol jiwa (waé inung, wing). Bacaan hari ini berbicara tentang air.
2
Dalam bacaan pertama (Kel 17:3-7), kita mendengar orang Israel yang berjalan di padang gurun Sin merasa haus. Sementara air tidak ada. Mereka mulai marah kepada Musa. Meragukan kehadiran Tuhan. Musa menyampaikan hal itu kepada Tuhan. Atas petunjuk Tuhan, Musa memukul gunung batu di Horeb. Maka dari dalam, keluarlah air. Orang Israelpun minum dan mandi. Tuhan hadir di tengah kehausan dan kemustahialan.
3
Karena orang Israel meragukan Tuhan dan bersungut kepada Musa, maka tempat itu disebut Masa dan Meriba. Masa (berasal dari kata nissah) yang berarti pencobaan. Karena orang Israel meragukan Tuhan. Meriba (berasal dari kata rib) berarti pertengkaran atau perselisihan. Karena orang Israel mengomel dan bersungut kepada Musa. Ini adalah peringatan kepada kita, agar dalam keterbatasan dan kekurangan, kita perlu sabar. Jangan cepat marah, bersungut dan mengomel kepada mereka yang memimpin kita. Jangan juga kecewa dan putus asa, lalu meragukan Tuhan. Kemudian tidak mau berdoa lagi. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
4
Air hidup yang diberikan Tuhan adalah seorang pribadi, yaitu Yesus Kristus. Dialah gunung batu, sumber air hidup. Sama seperti Musa yang memukul gunung batu, maka air mengalir. Demikian juga, seorang prajurit menikam lambung Yesus, dan keluarlah air dan darah yang membasuh dosa kita dan menghilangkan haus kita. Kristus adalah kasih karunia Allah yang memberi pengharapan kepada kita dalam seluruh kekurangan dan dosa kita. Kristus mau mati untuk kita supaya kita yang lemah, bersalah, dan mati karena dosa, dikuatkan, dibenarkan, dan dihidupkan kembali berkat Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita dalam nama Kristus. Ini yang kita dengar dalam bacaan kedua tadi (Rm.5:1-2.5-8).
5
Dalam bacaan Injil (Yoh 4: 5-42, Yesus memperkenalkan diriNya kepada wanita berdosa Samaria sebagai sumber air hidup kekal. Dari sumur dan air fisik yang kelihatan yang menghilang haus badaniah, Yesus membawa sang wanita berdosa kepada sumur abadi dengan air yang tidak pernah mati. Yesus adalah sumur abadi yang tidak pernah kering. Aliran air bening ini membawa wanita kepada dirinya sendiri. Sumber air ini menjadi cermin hidup, yang mendorong dia untuk menjawab secara jujur siapa dirinya. Yesus sebagai sumber air hidup membersihkan jiwa dan roh manusia yang kotor. Ia juga menjawab kehausan spiritual jiwanya yang tersesat di padang belantara dunia yang kering.
6
Pesan bacaan hari ini dan yang menjadi permenungan kita.
Pertama, secara fisik air itu penting, dibutuhkan, dan kita bersungut seperti orang Israel tadi, jika air tidak ada. Namun secara simbolis dan spiritual, air menjadi pintu, jalan, dan jembatan untuk memahami kehidupan yang lebih dalam. Situasi tandus di padang gurun seperti dialami bangsa Israel menghantar kita pada kekeringan hidup kita karena dosa kita. Demikian juga, sumur Yakub dalam Injil menunjukkan salah satu sifat air, yaitu menjadi cermin bagi wajah kita. Sumur yang bening adalah titik balik untuk melihat ke dalam diri sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Ia membasuh jiwa kita yang kotor karena dosa.
7
Kedua, dalam bacaan tadi, air menjadi titik perjumpaan antara sesama dan Tuhan yang menghantar kita kepada diri kita sendiri, kepada sejarah (tadi disebut sumur Yakub), dan kepada alam. Air itu membuat perjumpaan. Saat perjumpaan itu, ada kemarahan, ada keraguan, ada ketidakjujuran. Namun dari perjumpaan itu tumbuh juga pertobatan. Air adalah titik balik dari dosa. Air adalah langkah awal untuk hidup baru, sama seperti air hujan yang membasahi tanah tempat bertumbuhnya benih yang ditanam atau bertunas kembalinya pohon yang patah.
8
Ketiga, dengan menyadari fungsi air, sama seperti Musa yang dengan tongkatnya memukul gunung batu, kita dipanggil untuk dengan sekop, tofa, dan linggis menggali tanah dan menanam pohon yang akan menangkap air hujan, dan memperbesar cadangan air bagi hidup bersama. Seperti wanita Samaria tadi, kita perlu rajin menimba air untuk menyirami tanaman dan pohon, serta memberi makan pada hewan. Kita perlu rajin memperbaiki pipa atau keran yang rusak. Kita juga perlu hemat air.
9
Keempat, melalui sakramen baptis, kita dipanggil untuk menjadi sumber air hidup. Untuk menjadi pipa atau pancuran (sosor) yang membagi air kehidupan dari sumber sejati Yesus Kristus bagi sesama dan semua makhluk hidup.

