Oleh: Milikior Sobe
Untukmu, penjaga denyut hidupku,
ku tulis puisi ini dalam rindu yang pilu.
Semoga namaku masih kau sebut dalam doa, Mama, di setiap sujudmu kepada-Nya.
Sejak Papa memilihmu sebagai pelabuhan, Cinta tumbuh diam-diam di rahim hangat mu.
Di sana kami lahir, buah hati yang kau panggil nama,
Dalam hitungan sembilan bulan sepuluh hari penuh rahasia.
Kau gendong kami dalam pelukan yang tak pernah lelah,
Menyusui hingga dua tahun, meneteskan kasih sebagai madu.
Kau ajarkan kecerdasan dengan sabar, Bijaksana, sederhana, suci dalam hidup sosial yang kau rajut.
Setia kau dampingi langkah kami, dari usia dini hingga remaja yang mulai mencari jati diri.
Kau cinta pertama kami sebelum dunia menggoda,
Kau tetap hadir, meski kadang diam menyimpan luka.
Hatiku perih saat kami jauh demi ilmu yang lebih tinggi,
Pulang hanya sesekali, tergantung kantong dan waktu.
Namun rindu selalu pada masakan khas mu yang hangat,
dan bangga membuncah saat togak sarjana kau lihat di kepala anakmu.
Bukan keberhasilan kami semata, Mama, melainkan doamu yang menjahit mimpi menjadi nyata.
Kini kami mandiri, mengejar impian yang kau tanam,
Demi masa depan keluarga, demi harapan yang kau pegang erat.
Mama kini beruban, rambut hitam berubah putih bagai salju,
Wajah manismu lusuh oleh beban yang kau pikul sendirian.
Semangatmu kendur, tubuh dulu tegap kini merosot,
Semua demi gizi yang kau curahkan untuk kami.
Aku berdiri di ambang pintu, memandang senja yang merangkak gelap,
Rindu pada wajah yang jarang bicara, namun hatinya seluas samudra.
Kau rela menahan lapar agar kami kenyang, tersenyum di balik air mata, menyembunyikan luka dalam sujud panjang.
Kau menangis saat kami sakit, sujud memohon berkat Tuhan,
Tak pernah meminta balas, hanya ingin kami bahagia.
Saat kami punya cinta lain, hatimu diam bertanya,
“Akankah mereka masih rindu mama, seperti dulu?”
Cinta Tuhan begitu besar, Mama adalah buktinya, cinta tanpa syarat dari kandungan hingga kami dewasa. Mampukah kami membalas, merekonstruksi kasih itu, saat kami punya suami-istri, anak, dan dunia baru?
Air matamu membasahi pipi, memeluk surat putih ini erat,
Seakan memeluk kembali si kecil yang dulu manja di pangkuanmu.
Kau tersenyum pada foto di dinding, diterangi lampu redup kamar, Berdoa pelan “Anakku, Mama rindu. Lindungilah dia, Tuhan.”
Jangan lupa berdoa, dekatkan diri pada-Nya. Di bulan puasa ini, jika rezeki datang sedikit,
Berikanlah pada Tuhan, ulurkan pada sesama, seperti aku selalu ada saat kau jatuh, lalu ku kuatkan untuk bangkit lagi.
Terima kasih, Ibu,
Engkau bumi yang menjadi rahim kehidupan. Lembut, penuh kasih, menyimpan segala rahasia dalam dada. Sabar hingga puncak Golgota hidupmu tiba.
Tuhan Yesus, kuatkan ibuku.
Terima kasih, kaum hawa,
Yang melahirkan kehidupan dengan darah dan air mata.
Dunia butuh hati ibu yang lembut dan tak pernah pudar.
Salam sayang, cinta, dan rindu abadi, dari anakmu yang selalu pulang dalam doa.

