(Minggu Prapaskah II, Tahun A; Sabtu, 7 Maret 2026; Mik 7:14-15.18-20; Mzm 103:1-2.3-4.9-10.11-12; Luk 15:1-3.11-32)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Tuhan sering digambarkan secara salah sebagai pribadi yang mengutuk dan menghakimi. Kedua bacaan hari ini menunjukkan kepada kita, sisi lain dari Allah sebagai gembala dan bapa yang penuh belaskasih dan mengampuni dosa kita.
2
Dalam bacaan pertama (Mik 7:14-15.18-20), Nabi Mikha dalam doanya menggambarkan Tuhan sebagai gembala yang setia mencari domba tersesat, menyayangi, memaafkan pelanggaran, menghapus kesalahan, dan mengampuni dosa umatNya. Ia menghidupkan kawananNya dan melempar sisi kegelapan hidupnya.
3
Dalam bacaan Injil (Luk 15:1-3.11-32), Allah digambarkan sebagai Bapa yang menghargai kebebasan anakNya, memberi apa yang menjadi haknya, dan ketika ia hilang tersesat, dan kembali kepadaNya akan menerimaNya dengan penuh sukacita.
4
Kedua bacaan hari ini mengajakan kita untuk merenungkan
Pertama, gambaran Allah sebagai gembala dan bapa menunjukkan Allah yang dekat dan ada bersama kita. Ia tidak jauh. Seorang gembala pasti selalu berada di tengah kawanan ternaknya. Seorang Bapa pasti selalu bersama anaknya. Ternak dan anak adalah bagian hidup dan cara berada seseorang. Ini adalah predikat yang melekat pada keberadaan dan kelanjutan hidupnya. Di sini ada tanggung jawab dan sikap terbuka dalam relasi dari hati ke hati. Ada sikap menghormati pertumbuhan seseorang yang jatuh dan bangun, namun di pihak lain ada kesetiaan, kasih sayang, pengampunan, dan bimbingan.
5
Kedua, dosa berarti menjauhi gembala dan bapa yang dekat dengan kita. Dosa sering terjadi saat berada dalam kelimpahan dan rasa bosan. Ternak menjauh saat rumput banyak dan berpikir semakin jauh ada rumput yang lebih lezat lagi. Dosa menghantar kita ke dunia lebih rendah yang dimetaforkan sebagai tempat terpencil dan kandang hewan. Bertobat berarti kembali ke kandang gembala dan rumah Bapa.
6
Ketiga, gembala dan Bapa berarti menjauhi dan membuang sikap menjadi racun (toksik) bagi sesama seperti ditunjukkan si sulung. Ia mempakumati dan mengkotakkan hidup seseorang pada masa lalunya. Padahal manusia belajar jatuh bangun dalam hidupnya. Ia seperti air mengalir yang sering hilang muncul, keruh dan bening. Ia seperti pohon yang sering terpotong, tumbang, tapi bisa bertunas kembali dan bertumbuh lebih besar dan berbuah lebat.
7
Keempat, kedua bacaan hari ini menggambarkan lingkungan hidup ternak dan manusia: padang gembalaan dan ladang tempat kandang babi. Dosa berfoya-foya adalah dosa yang tidak langsung menghabiskan sumber daya alam. Ini dosa ekologis. Perlu pertobatan ekologis.

