Betun, VoxNTT.com – Desa Lotas di Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan wilayah yang sebagian besar berada di perbukitan. Kondisi geografis tersebut membuat sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor perkebunan sebagai sumber utama penghidupan.
Komoditas yang paling diandalkan masyarakat setempat adalah jagung dan kemiri. Namun, hasil produksi kedua komoditas tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.
Desa Lotas berbatasan dengan Desa Nani di bagian utara. Di bagian selatan, desa ini berbatasan dengan Desa Muke dan Desa Benahe. Sementara itu di bagian timur berbatasan dengan Desa Barene, dan di bagian barat berbatasan dengan Desa Naiusu serta Desa Webetun.
Secara administratif, wilayah Desa Lotas memiliki luas sekitar 2,5 kilometer dengan kondisi topografi yang didominasi dataran tinggi serta beberapa perbukitan.
Kepala Desa Lotas, Maria Theresia Toli mengatakan, kondisi wilayah yang berbukit membuat desa tersebut rawan bencana, terutama saat musim hujan.
“Yang mana ketika musim hujan tiba, di wilayah Desa Lotas rawan akan terjadinya longsor yang dapat mengakibatkan lumpuhnya aktivitas masyarakat,” jelas Maria, Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurut Maria, sektor pertanian sebenarnya menjadi potensi utama desa. Namun hasilnya belum stabil karena faktor alam.
“Sebagian besar penduduk bergantung pada hasil perkebunan, akan tetapi hasil pertanian tidak selalu bagus karena dipengaruhi oleh cuaca,” ujarnya.
Ia merinci jumlah penduduk Desa Lotas sebanyak 574 jiwa yang terdiri dari 275 laki-laki dan 299 perempuan. Sementara jumlah kepala keluarga tercatat sebanyak 574 KK.
Dari sisi pendidikan, terdapat 73 warga yang menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD), 16 orang tamatan SMP, 13 orang tamatan SMA, dan tiga orang lulusan perguruan tinggi.
Maria menjelaskan secara umum masyarakat Desa Lotas bekerja sebagai petani. Seluruh penduduk desa tersebut juga menganut agama Katolik.
Dalam kehidupan sosial budaya, masyarakat Desa Lotas masih mempertahankan tradisi adat yang dikenal dengan Hamis Batar. Tradisi ini merupakan ritual atau syukuran masyarakat atas hasil panen jagung.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggunakan bahasa Dawan dan Tetun.
Dari sisi ekonomi, jagung dan kemiri menjadi komoditas utama masyarakat. Sementara angka kemiskinan di desa tersebut tercatat sebesar 13,92 persen.
Struktur pemerintahan Desa Lotas dipimpin oleh Kepala Desa Maria Theresia Toli dengan Sekretaris Desa Paulinus Fatin. Perangkat desa lainnya yakni Kaur Pelayanan Rosalinda Maleno, Kaur Kesejahteraan Petronela Nahak, Kaur Perencanaan Katarina Usu, Kaur Pemerintahan Maria Metkono, Kaur Keuangan Wilfridus Talelu, dan Kaur Umum Fridolin Tae.
Selain itu terdapat empat kepala dusun yakni Kepala Dusun Baikfeu Fransiskus Usu, Kepala Dusun Fautmet Thomas Leni Kase, Kepala Dusun Benahe Yakobet Faot, dan Kepala Dusun Obaki Anania Maleno. Pelayanan publik di desa tersebut saat ini hanya tersedia di kantor desa.
Menurut Maria, selain memiliki potensi pertanian, Desa Lotas juga menghadapi sejumlah persoalan, salah satunya belum adanya batas wilayah administratif yang jelas dengan wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
“Batas wilayah yang belum jelas, karena Desa Lotas berada persis di antara perbatasan Kabupaten Malaka dan Kabupaten TTS,” katanya.
Ia mengatakan persoalan batas wilayah tersebut menjadi masalah administratif yang paling menonjol di desa tersebut.
Kendati demikian, ia menegaskan hingga kini persoalan tersebut belum memicu konflik horizontal antarwarga.
“Diharapkan untuk segera menetapkan batas-batas wilayah Lotas yang jelas, sehingga mengurangi gesekan sosial yang terjadi di wilayah Desa Lotas,” ujarnya.
Penulis: Ronis Natom

