Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Kurangnya Perhatian Orang Tua pada Anak di Tengah Kesenjangan Ekonomi
Gagasan

Kurangnya Perhatian Orang Tua pada Anak di Tengah Kesenjangan Ekonomi

By Redaksi8 Maret 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
D’best Emerald Amaloka Indonesia 
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: D’best Emerald Amaloka Indonesia 

Peserta didik SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka, Sumba Barat Daya

Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya adalah salah satu masalah sosial yang perlu diperhatikan secara serius, terutama di tengah kondisi yang dihadapi banyak keluarga di Indonesia saat ini.

Kesenjangan ekonomi yang cukup signifikan telah menjadi salah satu faktor utama yang membuat jurang antara kelompok masyarakat yang mampu dan yang kurang mampu sangat terasa di berbagai daerah, mulai dari perkotaan hingga pedesaan.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga berdampak mendalam pada struktur dan dinamika hubungan dalam rumah tangga.

Hal ini membuat banyak orang dewasa yang sudah berkeluarga terpaksa bekerja keras dari pagi hingga malam hari, bahkan terkadang harus mengambil pekerjaan tambahan atau berjauhan dengan keluarga hanya untuk mencukupi kebutuhan dasar diri sendiri dan seluruh anggota keluarganya.

Banyak orang tua yang bekerja sebagai pekerja harian, buruh pabrik, atau nelayan yang harus menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah.

Bahkan ada yang terpaksa merantau ke kota besar untuk mencari penghasilan yang lebih baik, sehingga tidak dapat berada di sisi anak-anak mereka setiap hari.

Upaya yang luar biasa ini memang bertujuan untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga, namun seringkali berdampak tidak harmonis pada kualitas hubungan antara orang tua dan anak.

Keterbatasan waktu yang dimiliki orang tua mengakibatkan terjadinya kesenjangan emosional di dalam rumah tangga, dan anak-anak menjadi pihak yang paling terpengaruh karena kurang mendapatkan perhatian serta rasa kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya.

Anak-anak yang tumbuh dengan kurangnya kehadiran orang tua seringkali merasa terabaikan atau tidak dicintai, meskipun sebenarnya orang tua bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan anaknya.

Saat anak-anak menghadapi masalah kecil atau besar dalam hidupnya, mereka tidak memiliki orang yang bisa mereka konsultasikan atau yang bisa memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan.

Bahkan momen-momen penting seperti hari ulang tahun, kelulusan sekolah, atau acara keluarga lainnya seringkali tidak dapat ditemani oleh orang tua karena kesibukan bekerja.

Dampak ini sangat jelas terlihat pada perkembangan perilaku anak. Karena minimnya perhatian dan bimbingan langsung dari orang tua, anak seringkali kesulitan untuk memahami dan membedakan mana hal yang baik dan mana yang kurang baik bagi dirinya serta lingkungan sekitarnya.

Anak-anak anak tidak memiliki contoh yang jelas tentang bagaimana bersikap dengan benar, menghadapi konflik, atau membuat keputusan yang tepat.

Tanpa bimbingan yang tepat, anak-anak cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya, termasuk teman sebaya yang mungkin tidak memberikan pengaruh positif.

Anak bisa saja terlibat dalam perilaku yang tidak diinginkan seperti menyalahgunakan waktu luang, mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai, atau bahkan terjerumus ke dalam masalah hukum.

Akibatnya, anak tersebut cenderung sulit untuk diawasi dan dikontrol dengan baik. Sebab, pada masa pertumbuhan dan pembentukan karakter yang krusial saat kecil, mereka tidak mendapatkan dukungan serta arahan yang tepat dari orang tua yang seharusnya menjadi panutan utama mereka.

Tanpa dasar nilai dan norma yang kuat yang ditanamkan oleh orang tua, anak-anak akan kesulitan untuk mengatur diri sendiri dan menghadapi tantangan yang ada di kehidupan mereka.

Mereka juga cenderung memiliki rasa keamanan yang rendah dan kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain di kemudian hari.

Selain itu, kurangnya perhatian orang tua juga dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan akademis anak. Anak-anak yang mendapatkan dukungan dan bimbingan dari orang tua cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan mencapai prestasi yang baik di sekolah.

Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan perhatian cenderung merasa kurang termotivasi, memiliki konsentrasi yang rendah, dan akhirnya mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan mereka.

Hal ini bisa membuat siklus kemiskinan dan kurangnya kesempatan berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Masalah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga sendiri, tetapi juga membutuhkan perhatian dari berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga sosial, dan komunitas secara luas.

Pemerintah dapat mengambil langkah seperti menciptakan lapangan kerja yang lebih baik dengan jam kerja yang layak, memberikan dukungan ekonomi bagi keluarga miskin, serta membangun fasilitas pendidikan dan pengasuhan anak yang terjangkau.

Lembaga sosial dan komunitas juga dapat berperan dalam memberikan bimbingan dan pendampingan bagi anak-anak yang kurang beruntung serta memberikan dukungan bagi orang tua untuk bisa lebih baik dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.

D’best Emerald Amaloka Indonesia SMA Katolik St. Josef Freinademetz SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka
Previous ArticleHujan Lebat Picu Jalan Nasional Ruteng–Reo Retak dan Nyaris Putus
Next Article Minim Sarana Produksi, Potensi Lahan Kering Desa Liang Sola Belum Maksimal Dukung Program MBG

Related Posts

Rasio yang Terpenjara dalam Viralitas: Kritik Kantian atas Kemunduran Sapere Aude

8 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
Terkini

Pohon Tumbang Tewaskan Pengendara di Jalan Trans Flores Ruteng–Borong

9 Maret 2026

Lansia di Kupang Bertahan Hidup Bersama Anak 6 Tahun, Berharap Uluran Tangan

9 Maret 2026

Rasio yang Terpenjara dalam Viralitas: Kritik Kantian atas Kemunduran Sapere Aude

8 Maret 2026

Minim Sarana Produksi, Potensi Lahan Kering Desa Liang Sola Belum Maksimal Dukung Program MBG

8 Maret 2026

Kurangnya Perhatian Orang Tua pada Anak di Tengah Kesenjangan Ekonomi

8 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.