Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur
Kita masih berada dalam zaman yang mendewa-dewakan kecepatan. Hemat saya, manusia tampaknya semakin kehilangan kesabaran untuk “berani berpikir sendiri.”
Informasi datang seperti gelombang besar yang tidak pernah mengenal kata lelah untuk berhenti. Hal ini semakin jelas, jika kita teliti melihat dalam lanskap media sosial, berita, opini, potongan video, tangkapan layar percakapan, hingga rumor yang belum tentu jelas asal-asulnya.
Semua yang telah saya sebutkan di atas bergerak dengan satu intensionalitas yang sama yakni, “menjadi viral.” Di dalam koridor digital, ukuran kebenaran seringkali bukan lagi “rasio yang tajam dan jernih,” melainkan seberapa cepat sebuah narasi menyebar seperti kanker dan seberapa ramai ia diperbincangkan.
Situasi yang sedang tidak baik-baik saja di atas, dapat kita jumpai, lihat hampir setiap hari di media sosial. Sebuah vidio pendek bisa memicu kemarahan kolektif dalam hitungan jam. Sebuah potongan pernyataan yang dipotong dari konteksnya dapat menyalahkan bara perdebatan nasional.
Orang-orang berlomba menjadi yang pertama berkomentar, “ah itu urusan saya, pendapat saya paling benar,” dan masih banyak lagi. kecepatan menjadi mata uang baru dalam gelembung dunia opini.
Namun, dalam perlombaan yang seru itu, sesuatu yang lebih fundamental sering tertinggal, yang tertinggal itu bernama “rasio.”
Rasio tidak lagi memimpin percakapan publik, ia justru dijadikan budak untuk tinggal di belakang layar, tertimbun oleh gelombang komentar yang tanpa jeda.
Saya dengan vokal mengatakan, inilah “paradoks masyarakat digital.” Sekali lagi, kita hidup di era yang sering disebut sebagai “era informasi, yang sering menjelma sebagai monster,” tetapi banjir informasi justru sering membuat manusia semakin “malas berpikir.”
Ada begitu banyak orang merasa cukup mengikuti arus opini yang sudah lebih dulu ramai, viral, dan menyenangkan sensasi. Orang lebih tertarik melihat apakah narasi itu sedang “trending.” Rasio secara lembut, perlahan-lahan “dipenjarakan oleh raksasa viralitas.”
Kebanaran tidak lagi diuji melalui pemikiran yang kritis dan sistematis, tetapi melalui “popularitas yang tumpul.”
Untuk masuk lebih ke dalam, saya harus mendalami lagi lebih keras tentang filsuf yang pemikirannya cukup sulit. Immanuel Kant, itulah filsuf yang saya maksud. Dalam konteks ini, gagasan atau corak pemikiran “Sapere Aude” dari Kant menjadi terasa sangat relevan bahkan mendesak.
Pada abad ke-18, Kant mengumandangkan semboyan keras pencerahan yang sederhana tetapi hemat saya sangat radikal, “Sapere Aude” yang saya terjemahkan (beranilah berpikir sendiri).
Bagi Kant, pencerahan bukan sekadar kemajuan pengetahuan, melainkan keberanian manusia untuk keluar dari ketergantungan intelektual. Manusia sering hidup dalam apa yang ia sebut sebagai “ketidakdewasaan yang dibuat sendiri,” sebuah kondisi di mana seseorang sebenarnya mampu berpikir, tetapi memilih untuk tidak melakukannya karena lebih mudah mengikuti opini orang lain.
Ini ada kaitannya dengan kerumunan, kerumunan digital yang memiliki daya tarik kuat. Ia memberikan rasa kebersamaan yang instan. Ketika seseorang mengikuti opini yang sedang viral, ia merasa menjadi bagian dari sesuati yang lebih besar. Ada sensasi solidaritas, sensasi keterlibatan, bahkan sensasi moralitas kolektif.
Namun di balik arsip sensasi itu, sering tersembunyi bahaya yang lebih tajam yakni, hilangnya keberanian untuk “berpikir secara mandiri.” Orang zaman ini, tidak lagi bertanya apakah sebuah opini benar, tetapi apakah opini itu sedang populer.
Panorama di atas terlihat jelas dalam berbagai kasus aktual di kalangan masyarakat modern. Ada begitu banyak peristiwa sosial dan politik yang langsung ditelanjangi dan dihakimi oleh publik diital bahkan sebelum fakta-fakta lengkapnya muncul.
Potongan video yang belum tentu utuh bisa langsung memicu gelombang kemarahan dalam berbagai kalangan. Nama seseorang atau kelompok tertentu bisa tiba-tiba menjadi “trending” bukan karena analisis yang matang, melainkan karena algoritma mempercepat penyebaran “kanker yang berupa emosi kolektif yang brutal.”
Dalam hitungan jam, bahkan menit, seseorang dapat menjadi “pahlawan atau penjahat” di mata publik, tanpa mekanisme refleksi kritis yang memadai.
Kultur dalam lingkaran digital semacam ini menciptakan epistemologi tumpul yang bisa disebut sebagai “pengadilan viral.”
Pengadilan ini tidak memiliki hakim yang netral, tidak memiliki prosedur pembuktian yang jelas, dan tidak memberi ruang bagi kompleksitas realitas. Yang ada hanyalah “arus opini tumpul” yang bergerak cepat dan seringkali dibalut rasa emosional.
Dalam situasi krusial semacam ini, hemat saya, “rasio kehilangan otoritasnya.” Ia tidak punya waktu lebih untuk berbicara karena percakapan atau bincang-bincang dalam lingkaran publik sudah lebih dulu dipenuhi oleh reaksi spontan.
Jika dilihat dari kacama filosofis Kant, fenomena ini mengafirmasi regresivitas dalam semangat tajam “Sapere Aude.” Manusia modern sebenarnya memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih luas daripada generasi sebelumnya. Namun, akses itu tidak otomatis melahirkan “keberanian berpikir sendiri.”
Justru episode ini menunjukan sebaliknya, kelimpahan atau banjir informasi sering membuat manusia semakin tergoda untuk menyerahkan penilaiannya kepada “kerumunan.” Daripada memaksa dan mendesak diri sendiri, lebih mudah mengikuti apa yang sudah disepakati oleh “banyak orang.”
Tentu saja, dalam hal ini pula, masalahnya lebih besar. Kerumunan tidak selalu identik dengan kebenaran. Dalam segi historisitas, kerumunan seringkali menjadi sumber kesalahan kolektif.
Opini yang diagung-agungkan publik bisa menjelma dengan sangat cepat, bahkan kontradiktif. Hemat saya, apa yang hari ini dipuja, “besok bisa dihujat.”
Apa yang hari ini dianggap benar, “besok bisa dianggap memalukan.” Ketika rasio “dikebiri” dan digantikan oleh viralitas yang nihil, masyarakat kehilangan kompas intelektualnya. Ia bergerak mengikuti gelombang emosi yang memperlihatkan topeng ketidakstabilannya.
Saya sangka, di titik ini, seruan imperatif Kant seperti peringatan yang datang dari masa lalu tetapi berbicara langsung kepada masa kini. “Sapere Aude” menuntut sesuatu yang tidak mudah, keberanian untuk tidak selalu mengikuti kerumunan.
Berani berpikir sendiri, hemat saya, berani mengambil jarak dari opini yang sedang ramai. Ia berarti bersedia menunda penilaian ketika fakta masih kabur.
Ia berarti menolak godaan untuk untuk bereaksi terlalu cepat hanya demi menjadi bagian dari “percakapan viral. Berpikir kritis atau secara mendalam membutuhkan waktu, refleksi membutuhkan jarak. Tanpa kedua unsur intelektual ini, opini publik hanya akan menjadi gema yang terus mengulang dirinya sendiri tanpa pernah benar-benar memahami realitas.
Mungkin di sinilah letak fundamental “tantangan terbesar masyarakat modern.” Kita tidak kekurangan informasi, tetapi kita kekurangan keberanian untuk memproses informasi yang telah disajikan itu secara “rasional.” Kita tidak kekurangan suara, tetapi kita “kekurangan keheningan yang diperlukan untuk berpikir.”
Dunia digital membuat manusia selalu terhubung, tetapi pada saat yang sama ia sering menjauhkan manusia dari refleksi yang mendalam. Jika hal yang “kelihatan enak, indah, namun menyimpan keburukan yang mendalam” ini terus berlanjut, maka “Sapere Aude” suatu semboyan yang pernah menjadi roh pencerahan, perlahan bisa kehilangan makna otentiknya. Pencerahan yang dulu diperjuangkan melalui “keberanian berpikir” bisa berubah menjadi sekadar “slogan sejarah.”
Saya sebagai pelajar filsafat tentunya masih memiliki harapan bahwa “hal baik yang ditawarkan oleh Kant belum sepenuhnya hilang.” Di tengah keramaian opini digital, masih ada ruang bagi individu yang “Sapere Aude” (Berani berpikir sendiri).
Mereka mungkin tidak selalu menjadi yang paling viral, tetapi mereka menjaga sesuatu yang lebih penting yakni, “integritas rasionalitas.” Mereka mengingatkan bahwa kebebasan berpikir sendiri bukan sekadar hak, melainkan lebih dari itu yakni “tanggung jawab.”
Pada akhirnya, tibalah kita di penghujung episode “Sapere Aude.” Hemat saya, pertanyaan yang diajukan oleh Immanuel Kant masih tajam dan relevan hingga hari ini, apakah manusia berani menggunakan akal budinya sendiri atau dengan kata lain beranikah manusia berpikir sendiri?
Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh opini viral, pertanyaan ini menjadi semakin penting. Sebab ketika viralitas sepenuhnya memperkosa dan memenjarakan rasio, manusia tidak hanya kehilangan kapasitas berpikiri kritis.
Ia juga kehilangan salah satu fondasi paling fundamental dari segi kemanusiaannya yakni, (keberanian untuk berpikir secara bebas).

