(Minggu Prapaskah III, Tahun A; Selasa, 10 Maret 2026; Dan 3:25.34-43; Mzm 25:4bc-5ab.6.7bc.8-9; Mat 18:21-35)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Kesempurnaan hidup bagi orang Kristen bukan terutama karena kita tidak pernah berbuat dosa. Tetapi setiap kali berdosa, kita harus bangun. Menyesal. Bertobat. Memberikan maaf. Hidup itu penuh dengan jatuh bangun. Kebaikan dan kebenaran sering muncul setelah jatuh dalam luka dosa yang berat. Kedua bacaan hari ini menunjukkan hal itu kepada kita. Tuhan menerima orang berdosa. Asalkan dia bertobat.
2
Dalam bacaan pertama (Dan 3:25.34-43), Azarya berdoa mohon ampun kepada Tuhan atas dosa bangsa Israel. Mereka sangat menyesal. Ingin memperbaiki diri. Persembahan yang indah bagi para pendosa bukanlah kurban bakaran. Bukan kurban sajian atau ukupan. Tetapi hati yang remuk redam. Hati yang hancur bagi dosa. Hati baru mau dibangun kembali dalam belaskasih Allah. Kekudusan hidup berarti mati bagi dosa, dan hidup bersama Allah.
3
Dalam bacaan Injil (Mat 18:21-35), Yesus mengajarkan agar kita mengampuni tanpa hitungan. Tanpa batas. Namun supaya mendapat ampunan tanpa batas. Kita juga harus minta maaf tanpa batas. Dengan itu, Allah tanpa batas akan memberikan pengampunan. Kerahiman itu harus bersifat timbal balik, sirkular, dan berefek domino. Hamba yang diampuni dalam Injil seharusnya mengampuni hamba lainnya yang berhutang padanya. Itu tidak dia lakukan. Pengampunan yang adalah buah cinta dan pisau pembunuh dosa harus bersifat timbal-balik.
4
Bacaan suci hari ini mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal ini yang merupakan sirkulasi tobat:
Pertama, kesempurnaan hidup Kristen, bukan terletak dalam hal bahwa kita tidak melakukan dosa, atau sesama kita tidak melakukan dosa terhadap kita. Tetapi terletak dalam hal bahwa pada saat kita melakukan dosa, kita harus bertobat dan meminta maaf kepada sesama dan kepada Tuhan. Hal itu dilakukan dengan tulus hati. Tanpa syarat dan tanpa imbalan.
5
Kedua, pertobatan dan pengampunan adalah sebuah jaringan hidup. Karena itu dia harus bersifat timbal-balik, dan menjadi semangat hidup yang harus dibagikan secara cuma-cuma. Saat kita diampuni kita juga mengampuni sesama kita.
6
Ketiga, pengampunan dari sesama dan belaskasih Tuhan jangan menjadi alasan bagi kita untuk merancang dosa atau lalai yang menghantar kita pada dosa baru. Jangan memaafkan diri dalam dosa kecil apapun. Tetapi juga jangan menghukum diri sampai tak bisa keluar dari rasa bersalah. Jangan juga kita tidak melakukan apa pun karena takut dosa. Pasifitas ini adalah juga dosa kemalasan. Resiko jatuh dalam dosa yang tak diprediksi demi sebuah karya besar adalah sebuah tanggung jawab moral dan spiritual. Spiritualitas tobat adalah berada selalu dalam semangat konflik dengan dosa. Walaupun kita tahu kita jatuh dalam dosa yang sama lagi. Tapi kita tetap berkanjang dalam semangat yang sama, yaitu sadar akan dosa dan melawannya. Utang moral dan spiritual kita setiap saat adalah bertarung melawan dosa.
7
Keempat, dosa yang banyak kita lakukan adalah dosa ekologis: buang sampah, menyisahkan nasi, lupa matikan listrik, lupa matikan keran air, menyakiti hewan, menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan, dll. Perlu tobat ekologis.

