Kupang, VoxNTT.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena meminta konsep NTT Mart dapat dikembangkan di berbagai komunitas, mulai dari komunitas sosial hingga gereja. Pemerintah daerah membuka peluang bagi masyarakat untuk membangun pusat pemasaran produk lokal tersebut.
Hal itu disampaikan Melki saat meresmikan NTT Mart by OSOP Perdana di SMKN 2 Kupang bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurut Melki, produk yang dipajang di NTT Mart, khususnya di lingkungan sekolah, harus didominasi oleh karya siswa, bukan barang dari luar.
“Jangan yang dipajang di NTT Mart ini produk dari luar sekolah. Harus perbanyak produk dari sekolah sendiri,” katanya.
Ia mencontohkan konsep serupa yang telah diterapkan di lingkungan gereja, di mana produk komunitas menjadi barang yang paling banyak dipasarkan.
“Sekarang komunitas mana yang mau bikin NTT Mart silakan. Karena NTT Mart ini harus bisa menjamur di mana saja,” jelasnya.
Melki juga menanggapi kritik yang membandingkan NTT Mart dengan jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret.
Menurut dia, perbandingan tersebut tidak tepat karena ritel nasional telah melalui proses panjang dan memiliki jaringan distribusi kuat.
“Memang tidak sama, karena mereka sudah melewati proses yang panjang. Kita ini baru start. Jadi tidak sama,” jelasnya.
Meski demikian, ia membuka ruang kritik agar konsep NTT Mart terus berkembang.
“NTT Mart ini bisa dikritik. Kita membuka diri, silakan kritik. Yang penting kita sudah mulai dengan niat baik untuk membantu masyarakat berproduksi,” ungkapnya.
Melki menjelaskan NTT Mart terhubung dengan konsep OSOP (One School One Product) dan OCOP (One Community One Product) agar produk masyarakat memiliki akses pasar.
Ia mencontohkan kualitas produk lokal yang dinilai mampu bersaing, seperti meja marmer buatan siswa SMK Negeri 5 Kupang.
“Saya beli meja marmer dari SMKN 5 seharga Rp4,5 juta karena barangnya bagus. Kalau saya suruh orang hotel beli pun tetap masuk kelas,” ujarnya.
Melki juga menekankan pentingnya masyarakat NTT mengonsumsi produk lokal guna mengurangi ketergantungan pada barang dari luar daerah. Ia menyebut tingginya konsumsi produk luar berkontribusi pada kondisi ekonomi daerah.
“Tahun 2025 NTT defisit sekitar Rp51 triliun, mayoritas di belanja makan minum. Karena itu kita harus mulai produksi dan konsumsi produk sendiri,” jelasnya.
Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat yang menjual pisang ke pasar, tetapi membeli produk olahan dari bahan yang sama.
“Kita jual pisang bertandan-tandan di pasar, tapi pulang beli pisang molen. Padahal kita bisa buat sendiri,” katanya.
Menurut Melki, pengembangan NTT Mart juga mendapat dukungan dari berbagai perbankan, baik bank Himbara maupun Bank NTT.
Ia bahkan menilai konsep tersebut berpotensi menjadi model pengembangan UMKM berbasis komunitas dan pendidikan di tingkat nasional.
“NTT bisa jadi pilot project. Model NTT Mart ini juga sedang menjadi pemikiran pengembangan UMKM di tingkat pusat,” pumgaksnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambros Kodo mengatakan, NTT Mart di sekolah bertujuan membangun ekosistem kewirausahaan bagi siswa.
Selama ini, kata dia, banyak produk kreatif siswa hanya berhenti di ruang praktik tanpa memiliki akses pasar.
“Sekolah tidak hanya mengurus kecerdasan akademik, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa,” kata Ambros.
Ia menjelaskan NTT Mart akan menjadi pusat pemasaran produk kreatif siswa sekaligus laboratorium bisnis bagi siswa untuk belajar manajemen ritel, pemasaran digital, hingga layanan pelanggan.
“Lulusan kita tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja baru,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Melki membeli papan catur seharga Rp600 ribu di NTT Mart by OSOP SMKN 2 Kupang. Produk tersebut merupakan karya siswa yang dibuat dari bahan kayu bekas hasil daur ulang.
Selain papan catur, gubernur juga melihat berbagai produk lain yang dipamerkan, seperti tempat tisu, meja kecil, pintu, hingga jendela yang diproduksi siswa jurusan teknik konstruksi.
Ketua Program Teknik Konstruksi Perumahan SMKN 2 Kupang, Fransisca Skolastika mengatakan sebagian besar produk yang dijual merupakan hasil karya siswa dari sisa bahan praktik di bengkel sekolah.
“Kami menggunakan bahan sisa-sisa kayu yang sebelumnya dipakai untuk praktik. Dari bahan tersebut anak-anak membuat barang yang lebih berguna seperti papan catur dan tempat tisu,” jelas Fransisca.
Ia mengatakan selama ini pemasaran produk masih terbatas di lingkungan sekolah. Namun sejak peluncuran NTT Mart, produk siswa mulai dikenal lebih luas dan mulai dibeli masyarakat.
“Selama ini pembelinya kebanyakan guru atau orang yang datang langsung ke sekolah. Sekarang dengan adanya NTT Mart, produk anak-anak sudah mulai bisa dipasarkan keluar,” ujarnya.
Meski demikian, kapasitas produksi masih terbatas karena proses pembuatan dilakukan oleh siswa dalam kegiatan praktik belajar.
Penulis: Ronis Natom

