Ruteng, VoxNTT.com – Masyarakat Desa Benteng Poco, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi krisis sumber mata air yang menghambat pemanfaatan lahan hortikultura. Keterbatasan pasokan air membuat potensi lahan pertanian di desa tersebut belum dapat dimaksimalkan.
Desa Benteng Poco memiliki luas wilayah sekitar 475 hektare dengan lahan kosong yang cukup luas untuk pengembangan hortikultura. Namun, potensi itu belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena warga kesulitan mendapatkan sumber air.
Kepala Desa Benteng Poco, Basilius Rahmat mengatakan, sebagian besar warga masih bergantung pada proyek air minum Pamsimas serta proyek air minum dari dana desa yang dibangun pada 2024. Sumber air tersebut berada di Kampung Tengkutok dan diambil dari Desa Wudi.
“Letaknya itu di Kampung Tengkutok, sekitar 2 kilometer dari Poco. Tahun 2024 ada proyek Pamsimas dan ada proyek dari dana desa yang kami bangun disitu yang sumber mata airnya diambil dari Desa Wudi. Setiap hari warga harus kesitu untuk mendapatkannya,” kata Basilius saat berbincang dengan VoxNtt.com, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurut Basilius, jarak sumber air yang cukup jauh membuat warga harus berjalan sekitar dua kilometer setiap hari hanya untuk mendapatkan air bersih. Kondisi ini juga menjadi kendala utama bagi pengembangan sektor pertanian.
Ia mengatakan, krisis sumber mata air di wilayah desa menjadi persoalan besar karena tidak mampu menopang aktivitas pertanian dan perkebunan warga.
“Lahan banyak tetapi yang menjadi kendalanya krisis sumber mata air, sehingga lahan tersebut belum bisa dikelola. Untuk mendapatkan air minum saja warga harus menempuh jarak 2 kilometer setiap hari apalagi kalau kita omong lahan holtikultura, mau ambil dari mana,” tutur Basilius.
Saat ini sebagian warga hanya mengandalkan air hujan untuk menunjang pertanian, terutama pada sawah tadah hujan. Namun hasilnya dinilai belum maksimal.
Basilius mengatakan pemerintah desa pernah berupaya membuka pasokan air melalui jalur perpipaan dari sumber mata air Wudi di Kecamatan Cibal. Upaya tersebut tidak bertahan lama karena kualitas air menjadi keruh saat musim hujan.
“Sehingga kalau kita omong tentang pemanfaatan lahan hortikultura masih sangat jauh dari harapan karena memang sumber mata air kita tidak ada,” ujar Blasius.
Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian terhadap kondisi tersebut agar pemanfaatan lahan hortikultura di desa itu dapat dimaksimalkan, terutama untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makanan Bergizi Gratis di Manggarai.
Keluhan serupa disampaikan warga Bealalang, Desa Benteng Poco, Iffon Lidyani. Ia mengatakan masyarakat berharap ada bantuan dari pemerintah atau pihak ketiga untuk mencari sumber mata air baru di wilayah tersebut.
Menurut dia, pencarian sumber air dapat dilakukan jika tersedia peralatan teknologi yang memadai.
Iffon menuturkan di dekat rumahnya terdapat bak penampung air yang dapat dimanfaatkan jika sumber air berhasil ditemukan.
“Dekat rumah saya ada bak penampung, cocok sekali kalau bak itu dipakai untuk jadi pasokan air. Lahan kami banyak tetapi dengan kesulitan air seperti ini semuanya tidak bisa dimanfaatkan,” kata Iffon.
Berdasarkan data Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional, target periode 2025–2029 menetapkan akses rumah tangga terhadap air minum aman sebesar 42,56 persen, sedangkan akses rumah tangga terhadap jaringan perpipaan ditargetkan mencapai 40,20 persen.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menjalankan berbagai program untuk mengatasi persoalan krisis air dan sanitasi.
Desa Benteng Poco merupakan hasil pemekaran dari Desa Poco sebagai desa induk dan kini telah berstatus desa definitif. Desa ini berada di jalur jalan raya Ruteng–Reo dengan infrastruktur jalan dan listrik yang relatif memadai.
Wilayah desa seluas sekitar 475 hektare itu terdiri dari dua dusun, tiga RW, dan tujuh RT. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, wiraswasta, sopir, dan buruh.
Jarak Desa Benteng Poco menuju pusat Kecamatan Wae Ri’i di Timung sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 60 menit. Sementara jarak menuju ibu kota Kabupaten Manggarai di Ruteng sekitar 15 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.
Penulis: Berto Davids

