Oleh: Florentina Ina Wai
Di Desa Nepa, kabut bagaikan kafan putih yang menyelimuti atap-atap rumah, menyembunyikan tangis yang tak sempat lahir ke udara. Bagi Oa Kewa, setiap sudut rumah kayu itu telah berubah menjadi altar pengorbanan, tempat masa kecilnya disembelih pelan-pelan oleh kesunyian yang mencekam.
Nana Todo memegang takhta tertinggi dalam silsilah darah Oa Kewa. Dalam adat Lamaholot, sosok seorang Nana adalah matahari.
Ia dihormati, disembah dalam tutur, dan kata-katanya dianggap sebagai titah yang tak boleh dibantah. Menentang Nana berarti mengundang petaka yang lebih mengerikan daripada wabah.
Ada ketakutan purba yang mendarah daging di Nepa. Jika seorang keponakan kurang ajar kepada pamannya, maka karma akan mengejar hingga ke liang lahat.
Hidupnya akan dikutuk, rezekinya akan mampet seperti aliran sungai yang terbendung batu, dan keluarganya harus menanggung beban Pate Koda Nalan, upacara tebus salah yang memakan biaya tak terhingga, menguras lumbung dan ternak hanya untuk membasuh sebuah “dosa” terhadap orang tua.
Namun, di bawah bayang-bayang jati rumah itu, Nana Todo menggunakan kedudukan sucinya sebagai jubah untuk menyembunyikan kuku serigala. Ia telah kehilangan status paman yang memanggul hasil kebun dengan senyum bersahaja.
Di mata Oa Kewa, bayangan Nana Todo yang terpantul di dinding tampak seperti akar beringin tua yang melilit leher, menyesakkan napas, namun tetap dipuja sebagai pelindung.
Inilah horor yang paling purba. Ketika pelukan yang seharusnya menjadi perisai, justru menjadi jerat yang mematikan karena berlindung di balik tameng adat yang kaku.
Malam itu, Nepa seolah menahan napas. Suara jangkrik mendadak mati, digantikan oleh gesekan langkah kaki Nana Todo yang mendekat.
Oa Kewa merasa jiwanya seperti ditarik keluar dari raga. Tubuhnya membatu, terkunci dalam kelumpuhan yang mistis.
Kesadarannya terbang jauh ke langit-langit, sebuah kematian kecil di mana raga tetap di tempat namun rohnya lari ketakutan agar tidak perlu merasakan “racun perhatian” yang menjijikkan itu.
“Jangan takut, Oa. Jika kau melawan Nana, kau akan kena karma. Kau tahu betapa mahalnya harga sebuah kesalahan di tanah ini,” bisik Nana Todo.
Suaranya terdengar seperti desis ular di balik semak, sebuah manipulasi keji yang menggunakan ketakutan akan hukum adat untuk membungkam rintihan anak manusia.
Kesedihan itu membusuk, berubah menjadi nanah yang menyumbat kerongkongan Oa Kewa saat ia menyadari sebuah kebenaran yang lebih tajam dari taring mana pun. Di tanah ini, harga martabat seorang laki-laki jauh lebih mahal daripada nyawa seorang gadis kecil.
Masyarakatnya adalah kumpulan penyembah berhala bernama “Harga Diri,” yang rela membakar masa depan anak-anak mereka demi menjaga agar dahi seorang Nana tetap tegak tanpa noda.
Hanya beberapa lempar batu dari rumah kayu yang pengap itu, balai desa Nepa riuh rendah oleh suara manusia. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di sana tampak seperti mata iblis yang menertawakan penderitaan Oa Kewa.
Di bawah atap balai desa yang luas, orang-orang dewasa duduk melingkar, menyesap kopi dan kepulan asap tembakau, membicarakan adat dengan nada-nada tinggi seolah mereka adalah penjaga surga.
“Jangan sampai ada kata-kata yang salah keluar,” gumam seorang tetua dengan suara serak. “Jika Nana tersinggung, tanah ini akan panas. Kita tidak punya ternak lagi untuk membayar Pate Koda Nalan. Satu babi pun tak ada di kandang untuk membasuh kesalahan jika lidah kita kurang ajar.”
Ketakutan akan kemiskinan akibat denda adat telah mengubah mereka menjadi pengecut yang menutup telinga terhadap jeritan yang tertahan di balik dinding jati.
Mereka lebih takut pada piring yang kosong daripada jiwa seorang anak yang bolong. Di sudut lain balai desa, horor itu berganti rupa menjadi lelucon digital yang kejam. Teman-teman sebaya Oa Kewa berkumpul mengelilingi sebuah ponsel pintar.
Suara lagu edukasi tentang area sensitif terdengar cempreng, diputar berulang-ulang hanya untuk dijadikan bahan parodi demi mengejar likes.
Mereka berjingkrak, menirukan gerakan tangan “sentuhan boleh dan tidak boleh” dengan gaya yang dibuat-buat, memancing gelak tawa yang meledak-ledak.
Gelak tawa itu terbang ke udara, menyeberangi jarak, dan masuk ke telinga Oa Kewa seperti ribuan jarum panas yang menusuk gendang telinga.
Di depan cermin retak di kamarnya, Oa Kewa menatap bayangannya yang pucat. Ia menanggalkan segala eufemisme, istilah “sopan” yang selama ini membungkus kebejatan.
“Tubuhku bukan milik adat, bukan milik keluarga, dan bukan milikmu, Nana! Tubuhku adalah tanah suci yang kau duduki paksa, dan malam ini, aku memutus garis kutuk itu!”
Suara Oa Kewa tidak lagi terdengar seperti manusia. Itu adalah lengkingan angin gunung yang membelah kesunyian parau di Nepa. Pengakuan itu meledak sebagai guntur hitam yang merobek langit kemarau yang kerontang.
Bayangan Nana Todo yang tadinya raksasa di dinding kayu, mendadak luruh dan menciut, tersapu oleh gelombang cahaya dari keberanian yang paling purba.
“Biarkan karma tidak lagi mencari jejak kakiku! Biarkan ia melesat seperti anak panah, mencari jantung mereka yang berkhianat pada darahnya sendiri! Biarkan langit mencatat, bahwa dosa yang paling berdarah adalah milikmu yang menggunakan jubah adat untuk menyembunyikan taring serigala!”
Malam itu, Oa Kewa tidak membutuhkan babi atau ternak untuk melakukan upacara pembersihan. Ia menggunakan darah hatinya yang telah membeku menjadi kristal keberanian. Ia membasuh jiwanya dari lumpur manipulasi Nana Todo dengan air mata yang berubah menjadi api.
Di luar, kabut Nepa mendadak merah, seolah-olah alam semesta sedang ikut menyaksikan sebuah kedaulatan yang direbut kembali.
Ia berdiri sendiri, menantang arus tradisi yang selama ini lebih mementingkan simbol martabat daripada nyawa yang terengah-engah.
Ia tidak lagi takut pada Pate Koda Nalan, karena ia menyadari satu hal yang paling kejam sekaligus indah.
Kehancuran sebuah tradisi jauh lebih mulia daripada kehancuran seorang manusia. Di Nepa yang mistis, malam itu ia bukan lagi korban yang bisu. Ia adalah badai.
Ia adalah upacara pembersihan yang paling agung, yang meruntuhkan tembok kepalsuan dengan satu kebenaran mutlak: bahwa tubuhnya adalah kuil, dan ia adalah satu-satunya imam di sana.
Catatan Sapaan & Istilah Daerah (Flores Timur/Lamaholot):
1. Oa: Sapaan akrab atau panggilan untuk anak perempuan atau gadis.
2. Kewa: Nama diri (fiktif) yang sering digunakan dalam masyarakat lokal.
3. Nana: Sapaan atau panggilan untuk paman (saudara laki-laki dari ibu). Dalam adat Lamaholot, paman memiliki kedudukan yang sangat dihormati dan sakral.
4. Pate Koda Nalan: Upacara adat untuk menebus kesalahan, berbicara benar, atau membayar denda atas pelanggaran etika/adat yang melibatkan biaya besar.
5. Karma/Kualat: Kepercayaan lokal bahwa tindakan tidak hormat kepada sosok yang dituakan akan mendatangkan nasib buruk secara gaib.

