Oleh: Felicya Maharani Putri Purnomo
Peserta didik SMP Katolik St. Josef Freinademetz- Tambolaka, Sumba Barat Daya
Pagi itu, lonceng sekolah SMP dan SMA Katolik St. Josef Freinademetz berdentang lebih lama dari biasanya.
Suaranya menggema di halaman yang masih basah oleh embun, seolah memanggil setiap langkah untuk kembali pulang.
Udara pagi terasa sejuk, sementara sinar matahari perlahan menembus pepohonan di sekitar halaman sekolah.
Bagi Maria, bunyi lonceng itu bukan sekadar penanda dimulainya pelajaran, melainkan suara rumah yang selalu menyambutnya dengan hangat.
Maria duduk di bangku kelas sembilan, menatap papan tulis dengan pikiran yang melayang. Sejak ayahnya berpulang setahun lalu, rumah yang dulu terasa hangat perlahan menjadi sunyi.
Ibunya harus bekerja lebih lama demi mencukupi kebutuhan hidup, sementara Maria sering menghabiskan waktu sendiri.
Kesepian kerap menyelinap tanpa permisi. Namun, setiap kali ia melangkah melewati gerbang St. Josef, perasaan itu berubah. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, melainkan tempat ia kembali menemukan dirinya.
Hari itu, sekolah mengadakan misa pagi bersama. Semua siswa berkumpul di aula dengan seragam rapi dan wajah penuh kesungguhan. Dalam keheningan doa, Maria mendengar suara Romo yang berkata, “Sekolah ini bukan hanya gedung dan aturan.
St. Josef Freinademetz adalah rumah, tempat kita belajar menjadi manusia seutuhnya.” Kalimat itu menancap kuat di hati Maria, seolah menjawab kegelisahan yang selama ini ia pendam.
Seusai misa, Maria diminta membantu Bu Anna, guru Bahasa Indonesia, merapikan perpustakaan sekolah. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki dan gesekan buku.
Di antara rak-rak yang berdebu, Maria menemukan sebuah buku catatan lama milik kakak kelas yang telah lulus.
Di halaman terakhir tertulis, “Aku menemukan rumah kedua di sini, ketika aku hampir menyerah pada hidup.” Maria terdiam lama. Kalimat itu terasa begitu dekat dengan pengalamannya. Tanpa sadar, air matanya menetes perlahan.
Hari-hari berikutnya, Maria semakin aktif di sekolah. Ia mengikuti kegiatan koor, membantu teman yang kesulitan belajar, dan sering berdiskusi dengan guru.
Di St. Josef, ia belajar bahwa kepedulian adalah bahasa yang tidak tertulis di buku pelajaran.
Ketika suatu hari ia terlambat karena harus mengurus ibunya yang sakit, wali kelasnya tidak memarahi, melainkan mendengarkan dengan penuh empati. Sikap itu membuat Maria merasa diterima apa adanya.
Suatu hari, sekolah mengadakan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan. Maria ditunjuk sebagai koordinator kegiatan.
Awalnya ia ragu dan takut tidak mampu mengemban tanggung jawab tersebut. Namun, dukungan teman-teman dan guru memberinya keberanian.
Di panti asuhan itu, Maria melihat anak-anak kecil tersenyum tulus meski hidup mereka jauh dari kata mudah.
Saat itulah ia menyadari bahwa rumah bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi tentang kasih yang dibagikan dengan sesama.
Malam sepulang kegiatan, Maria menuliskan pengalamannya di buku harian. Ia menulis bahwa St. Josef telah mengajarkannya arti keteguhan, tanggung jawab, dan kepedulian.
Sekolah ini membentuknya bukan hanya menjadi siswi yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berani menghadapi kehidupan dengan hati yang terbuka.
Waktu berlalu. Maria kini duduk di bangku SMA St. Josef Freinademetz. Ia bukan lagi gadis yang sering menyendiri. Ia tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan siap melayani.
Pada acara kelulusan, Maria berdiri di depan podium mewakili siswa. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Bagi kami, St. Josef bukan sekadar sekolah. Di sinilah kami belajar pulang, meski dunia sering terasa asing.”
Tepuk tangan menggema di aula. Maria tersenyum haru, menatap guru-guru dan teman-temannya. Ia tahu, ke mana pun langkahnya nanti, Rumah Santo Josef akan selalu hidup di dalam hatinya sebagai tempat ia belajar menjadi manusia yang berakar pada iman, kasih, dan harapan.

