Borong, VoxNTT.com – Ketua Yayasan Sukma Manggarai Timur, Pastor Simon Nama, akhirnya merespon terkait persoalan guru SMA Pancasila Borong mogok mengajar sejak Selasa, 10 Februari 2026. Aksi mogok itu dipicu dugaan pemotongan gaji oleh pihak yayasan.
Pastor Simon menyampaikan bahwa apa yang dipersoalkan para guru masih dalam proses penyelesaian secara internal.
“Penjelasan yayasan masih bersifat internal dan dalam pendekatan keluarga. Sudah ada penyelesaian, tetapi proses detailnya belum bisa saya sampaikan kepada teman-teman,” ujar Romo Simon kepada wartawan di Borong, Rabu siang, 11 Februari 2026.
Ia menjelaskan, Yayasan Sukma Manggarai Timur akan segera menyampaikan surat resmi kepada Kepala SMAK Pancasila Borong sebagai tindak lanjut atas persoalan tersebut.
Surat tersebut akan menjadi dasar bagi pihak sekolah untuk mengeksekusi keputusan yang telah diambil.
“Dalam dua hari ke depan surat dari Yayasan Sukma akan sampai ke kepala sekolah. Sekolah langsung menindaklanjuti kepada para guru, karena kepala sekolah adalah utusan yayasan dalam menjalankan pendidikan,” jelasnya.
Terkait besaran gaji yang disoalkan guru, kata dia, hal itu merupakan urusan internal antara pihak sekolah dan yayasan.
Ia juga mengaku persoalan gaji guru tersebut sebenarnya telah dibahas bersama pada Oktober tahun lalu.
Dalam pertemuan tersebut, menurut Simon, telah ada kesepakatan dan keputusan yang diambil bersifat final.
“Ini sudah didiskusikan pada Oktober tahun lalu dan keputusannya sudah final. Soal gaji yang mereka persoalkan itu sudah disepakati bersama,” tegasnya.
Meski begitu, lanjut dia, berita acara resmi atas kesepakatan tersebut belum dibuat secara formal. Dokumen yang tersedia saat itu baru sebatas rumusan hasil pembahasan.
Sebelumnya, guru-guru SMA Swasta Pancasila Borong, Kabupaten Manggarai Timur, mogok mengajar sejak Senin, 9 Februari 2026, sehingga aktivitas pendidikan di sekolah Katolik tersebut diliburkan sementara. Aksi mogok ini dipicu oleh karena pihak Yayasan Sukma secara sepihak memotong gaji para guru.
Pantauan VoxNtt.com pada Selasa, 10 Februari, kondisi di luar dan dalam kompleks SMA Pancasila Borong tampak sepi. Ruangan kelas hanya berisi kursi dan meja. Halaman yang biasanya penuh kendaraan terlihat lengang. Hanya beberapa orang tampak duduk berdiskusi di salah satu sudut sekolah.
Marsi Rimun, salah satu orangtua siswa SMA Pancasila Borong, mengaku kaget dan prihatin dengan kondisi sekolah yang meliburkan siswa akibat aksi mogok guru.
“Saya kaget tadi pagi, anak saya yang kelas 3 tidak ke sekolah. Katanya diliburkan karena guru-guru mogok mengajar. Menurut informasi mereka mogok mengajar karena gaji dipotong,” kata Marsi di Borong, Selasa sore.
Penulis: Sello Jome

