Ruteng, VoxNTT.com – Alysa, gadis mungil berusia 5 tahun di Kampung Welong, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami nasib sedih pasca kedua orang tuanya meninggal akibat gempa tektonik kuat bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores, Sabtu 15 Agustus 2026 lalu.
Kurang lebih 30 an rumah di Desa Wae Mulu dilaporkan ambruk dihantam gempa besar yang dirasakan selama 10 detik itu.
Rumah Alysa runtuh dalam hitungan sekejap, tembok rumah mereka jebol, kayu penyangga dan atap rumah juga berjatuhan menghantam kedua orang tuanya hingga meninggal dunia.
Meski selamat dalam bahaya itu, Alysa mengalami patah kaki akibat reruntuhan bangunan dan kehilangan rumah serta kedua orang tuanya
Saat ini ia hidup di tenda pengungsian bersama 8 bersaudara dan keluarga besar. Kondisi trauma psikologis yang dialami Alysa perlu mendapat penanganan yang tepat dan sentuhan kasih yang mendalam.
Lusia Redempta Yosheline Lana, Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur sekaligus Ketua DPC Hanura Kabupaten Manggarai hadir di tengah keluarga Alysa untuk memberi sentuhan kasih, membangkitkan kembali semangat hidup dan memberi harapan baru bagi Alysa.
Pada Rabu, 26 Agustus 2026, Sheline Lana, sapaan akrab Lusia Redempta Yosheline Lana bersama rombongan DPP dan DPD Partai Hanura Provinsi Nusa Tenggara Timur serta Anggota DPRD Kabupaten Manggarai bergerak menuju Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri’i, tepatnya di tenda pengungsian Alysa.
Di tempat itu, melalui duit pribadi Sheline Lana berjanji akan menanggung biaya pendidikan Alysa, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pihaknya juga bekerja sama dengan Koperasi Sangosai untuk membuka tabungan Alysa bagi kebutuhan pendidikannya.
Kepada VoxNtt.com Rabu siang, Sheline Lana berkata, secara pribadi ia merasa tersentuh dan prihatin dengan kondisi hidup yang dialami Alysa dan keluarga, sehingga pada hari ini ia berniat menanggung biaya pendidikan untuk Alysa dari SD sampai SMA.
“Ini adalah niat hati saya yang paling tulus. Pada intinya meski orang tua Alysa sudah meninggal ia harus tetap sekolah,” ungkap Sheline.
Selain bantuan biaya pendidikan untuk Alysa, kata Sheline, Partai Hanura secara organisasi juga menyerahkan uang santunan duka sebagai ucapan turut berduka cita atas meninggalnya kedua orangtua Alysa akibat gempa yang terjadi 11 hari lalu itu.
Selanjutnya, Hanura juga memberi bantuan makanan satu ton rendang siap saji ditambah sembako dan obat-obatan untuk keluarga Alysa dan pengungsi lainnya di Desa Wae Mulu.
“Jadi selain bantuan saya secara pribadi untuk menanggung biaya pendidikan Alysa, Partai Hanura secara organisasi juga membantu menyerahkan santunan duka untuk keluarga Alysa dan bantuan makanan rendang siap saji ditambah sembako dan obat-obatan untuk para pengungsi,” ujar Sheline.
Ia juga meminta para pengungsi untuk mendoakan Ketua Umum DPP Hanura, Oesman Sapta Odang yang saat ini sedang menjalani masa pemulihan dari sakit.
Penulis: Berto Davids

