Borong, VoxNTT.com – Jalan berbatu dan terjal tidak membuat langkah rombongan JPIC OFM Indonesia berhenti. Senin, 31 Agustus 2026, ketika distribusi bantuan bagi penyintas gempa Flores masih banyak bergerak di wilayah yang mudah dijangkau, mereka justru memilih masuk lebih jauh ke pelosok.
Dari Pagal, ibu kota Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, rombongan membawa bantuan sembako menuju tujuh anak kampung di bagian pedalaman Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Pagal menjadi salah satu posko utama sembako JPIC OFM Indonesia. Dari tempat itu, bantuan kemudian dibawa menggunakan kendaraan truk terbuka menuju kampung-kampung yang akses jalannya tidak mudah.
Tujuh kampung yang menjadi sasaran distribusi bantuan tersebut adalah Lompong, Wae Nenda, Golo Welu, Rongkam, Wae Wego, Pantar, dan Tango Bali.
Ketujuh kampung itu berada di bagian pedalaman timur Kecamatan Lamba Leda. Jarak yang jauh serta kondisi jalan yang terjal dan berbatu membuat perjalanan menuju wilayah tersebut membutuhkan waktu dan tenaga lebih.
Namun, kondisi itu justru menjadi alasan JPIC OFM Indonesia untuk datang.
Direktur JPIC OFM Indonesia, Pater Alsis Goa Wonga, OFM, mengatakan, lembaganya sengaja menyasar wilayah yang sulit dijangkau dalam penyaluran bantuan pascagempa. Mereka menyebutnya sebagai “misi daerah sulit terjangkau”.
“Karena kami merasa mereka ini sangat terdampak namun sulit dijangkau beragam bantuan pascagempa,” terang Pater Alsis.
Perjalanan dari Pagal menuju kampung-kampung tersebut bukan perjalanan singkat. Kendaraan harus bergerak perlahan melewati jalan berbatu dan terjal, menyusuri jalur menuju permukiman warga yang jauh dari pusat keramaian.
Bagi JPIC OFM Indonesia, bantuan tidak boleh hanya berhenti di wilayah yang mudah didatangi. Warga yang tinggal di pelosok juga harus mendapatkan perhatian dan pertolongan yang sama.
Di tengah kondisi pascagempa Flores, kebutuhan warga masih besar. Sebagian keluarga masih menghadapi dampak kerusakan rumah dan kecemasan akibat gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Karena itu, perjalanan menuju pelosok menjadi bagian penting dari kerja kemanusiaan JPIC OFM Indonesia.
Paket sembako yang dibawa berisi kebutuhan pokok untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Namun, bantuan tersebut tidak hanya soal beras, telur, mi instan, perlengkapan bayi, dan kebutuhan lainnya.
Kedatangan rombongan juga membawa pesan bahwa warga di kampung-kampung terpencil tetap diperhatikan meski berada jauh dari pusat distribusi bantuan.
Bagi penyintas gempa, bantuan yang datang dari luar kampung memberikan rasa lega. Setelah lebih dari dua pekan hidup dalam situasi penuh kecemasan akibat gempa dan gempa susulan, mereka kembali merasakan bahwa masih ada pihak yang peduli terhadap kondisi mereka.
Perjalanan JPIC OFM Indonesia pada hari itu akhirnya bukan sekadar perjalanan membawa sembako. Rombongan mendatangi warga yang berada paling jauh dari pusat bantuan dan memastikan mereka tidak luput dari perhatian.
Pater Alsis mengungkapkan, pada Senin, 31 Agustus 2026, JPIC OFM Indonesia menyalurkan 500 paket sembako. Sedangkan, selama dua minggu pascagempa Flores, pihaknya kurang lebih 5000-an paket dari tujuh posko yang tersedia, mulai dari Nagekeo sampai dengan Manggarai Barat di Pulau Flores.
Menurut dia, bantuan tersebut tidak terlepas dari perhatian banyak pihak yang menyalurkan kepedulian melalui JPIC OFM Indonesia kepada masyarakat terdampak gempa Flores.
“Menurut dia, melalui JPIC OFM Indonesia banyak orang yang memberikan perhatian kepada masyarakat korban gempa Flores berkekuatan 7,7 magnitudo pada 15 Agustus 2026 lalu.”
Bagi JPIC OFM Indonesia, misi “tembus pelosok” menjadi cara untuk memastikan bantuan kemanusiaan tidak ditentukan oleh mudah atau sulitnya akses.
Sebab, dalam situasi bencana, warga yang tinggal jauh dari pusat bantuan tetap memiliki kebutuhan dan hak yang sama untuk mendapatkan pertolongan. [VoN]

