Borong, VoxNTT.com – Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini adalah Yuvensius Tukung, meminta pemerintah Provinsi NTT memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa Flores yang sebelumnya ditetapkan Gubernur Melkiades Laka Lena, pada 18 Agustus dan berakhir pada 28 Agustus 2026.
Yuvens menilai, situasi di lapangan saat ini masih belum kondusif. Peta gambaran di lapangan bahwa masih jauh dari penanganan ideal.
“Karena itu menurut kita, masa tanggap darurat perlu diperpanjang. Karena dibatasi tanggal 28 Agustus sesuai dengan peta awalnya, itu akan mempengaruhi kebijakan yang diambil. Artinya ketika ini dihentikan maka proses penanganan di level bawah itu tentu sangat berpengaruh,” tegas Yuvens di posko relawan kemanusiaan, di Borong ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, pada Kamis malam.
Ia menambahkan, Pemda di Flores sangat tidak tepat menjadi penanggung jawab utama jika status tanggap darurat telah berakhir. Sebab, efisiensi yang mendahului sangat berpengaruh terhadap penanganan bencana. Pemda juga menjadi korban dari bencana gempa bumi itu.
Ia menilai, anggaran Rp 200 miliar sangat tidak pas jika disandingkan dengan kondisi lapangan termasuk rencana membangun rumah-rumah yanag rusak.
“Tidak semudah yang dibayangkan. Masih banyak daerah yang masih belum tersentuh bantuan. Masih banyak daerah yang terisolasi akibat bencana. Beberapa hari ini kami berada bersama masyarakat. Situasinya tidak semudah yang dibayangkan,” kata dia.
Jika masa tanggap darurat bencana berakhir, lanjut dia, pemerintah pusat tidak bisa lagi mengintervensi terutama dari sisi anggaran.
“Kita tidak bisa memastikan semuanya berjalan dengan baik dan diurus sama pemerintah pusat. Karena itu, ini sangat tidak pas untuk dibatasi tanggal 28 Agustus 2028,” katanya.
Karena itu, ia meminta para senator dan legislator asal NTT terutama dari Flores agar menyuarakan itu kepada Presiden Prabowo dan kementerian-kementerian.
“Ini belum cukup. Tanggal 28 Agustus 2026, sangat tidak pas untuk mengakhiri masa tanggap darurat bencana Flores ini,” ujar dia.
Pantauan media di lapangan, masih banyak warga di desa-desa teruatama di Manggarai Timur, masih bertahan di tenda pengungsian mandiri. Ada yang karena rumah sudah rata tanah, rumah retak dan miring.
Sementara warga yang rumahnya masih aman belum berani kembali ke rumah karena gempa susulan masih terus terjadi.
Kontributor: Nansi Taris

