Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pojok Info»Nyawa Samsia Cora Diduga Direnggut Hoaks Terstruktur dan Berskala Masif
Pojok Info

Nyawa Samsia Cora Diduga Direnggut Hoaks Terstruktur dan Berskala Masif

By Redaksi27 Agustus 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sembilan pria menunaikan salat jenazah Samsia Cora di halaman Masjid Nurrahman, Desa Nangadhero, yang telah ambruk akibat gempa bumi pada Rabu sore, 26 Agustus 2026 (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Samsia Cora (49) akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah melewati masa kritis selama hampir 24 jam di RSUD Aeramo, Rabu, 26 Agustus 2026.

Samsia Cora merupakan warga RT 08, Dusun 4, Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Pada Rabu, 25 Agustus 2026 dini hari, sekira pukul 02.30 Wita, warga Desa Nangadhero menggotongnya dari pinggir jalan untuk dikembalikan ke tenda darurat di dalam kompleks Masjid Nurrahman Nangadhero dalam kondisi lemas.

Ia diberi pertolongan seadanya oleh warga selama beberapa jam hingga tim medis menjemputnya pada pagi hari dan dilarikan kerumah sakit. Sayangnya, sekitar pukul 15.30 Wita, ia dinyatakan meninggal dunia.

Untuk sementara, pihak keluarga menduga, Samsia meninggal dunia karena syok saat isu gempa dan tsunami susulan merebak cepat, terstruktur, dan masif sejak Selasa pagi, 25 Agustus 2026, atau sehari menjelang kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Kabupaten Nagekeo.

Samsia sendiri sebelumnya merupakan salah satu penyintas gempa bumi yang terjadi pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Peristiwa itu membuat Samsia bersama dua anaknya dan seluruh warga lainnya dari Desa Nangadhero sempat mengungsikan diri ke dataran tinggi di Dadi Wuwu, Kelurahan Lape.

Sebagai orangtua tunggal, selama berada di lokasi pengungsian, ia harus mengurus kedua putranya masing-masing berusia 10 dan 14 tahun.

Karena itu, baru empat hari berada di pengungsian, Samsia akhirnya memilih pulang lebih cepat ke rumah setelah mendengar kabar bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencabut status potensi tsunami.

Ia kemudian mendirikan tenda darurat di samping rumah dan kembali beraktivitas sebagai penjual ikan keliling untuk menafkahi keluarganya.

Wacana “pulang massal” para pengungsi dari Desa Nangadhero ini sebenarnya bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Beberapa jam setelah gempa pertama terjadi, Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, telah mengumumkan bahwa potensi tsunami telah dicabut berdasarkan rilis resmi yang dikeluarkan BMKG Pusat.

Wakil Bupati Gonzalo juga mengimbau agar warga di pengungsian diperbolehkan kembali ke rumah. Namun, seluruh aktivitas mereka, seperti memasak, hanya diperkenankan dilakukan di luar rumah.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang, jangan panik dan tidak perlu khawatir tentang hal ini,” ujar Wabup Gonzalo.

Hingga pada Selasa pagi, kabar tentang gempa susulan berkekuatan magnitudo 8,1 dan tsunami tiba-tiba merebak begitu cepat di kalangan warga Desa Nangadhero dan sekitarnya yang akhirnya menciptakan kepanikan massal, termasuk Samsia.

Di tempat berbeda, kabar tentang adanya gempa susulan dan tsunami memaksa Muhamad Toya dan sekitar 36 warga Desa Nangadhero lainnya yang sedang mendiami posko pengungsian di RT 02, Desa Aeramo, membatalkan rencana kepulangan mereka meski tenda pengungsian telah dibongkar dan perbekalan pengungsi telah dikemas.

Kabar tentang gempa susulan yang terus beredar membuat Samsia mengajak dua anaknya menuju tenda darurat di kompleks Masjid Nurrahman Nangadhero, sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia memilih tinggal sementara di sana karena dihantui kekhawatiran akan gempa susulan dan tsunami.

Hingga kejadian nahas itu terjadi. Sekira pukul 02.30 Wita, gempa susulan tiba-tiba terjadi. Meski gempa tersebut cuma sebentar, namun kepanikan Samsia telah melampaui batas.

Buru-buru ia menggandeng sang putra bungsu yang berusia 10 tahun lalu bergegas berlari keluar dari tenda menuju jalan raya.
Sayangnya, langkah kakinya terhenti, terlihat lemas lalu terjatuh.

Beberapa hari sebelumnya, aksi “pulang massal” para penyintas gempa di Kabupaten Nagekeo telah berdampak pada kosongnya tenda-tenda oranye milik BNPB. Tenda-tenda tersebut baru saja didatangkan dan telah tertata rapi di beberapa lokasi pengungsian, tiga hari menjelang kedatangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Kekosongan tenda pengungsian inilah yang diduga kuat menjadi pemicu adanya gerakan mobilisasi kembali para pengungsi secara besar-besaran yang sebelumnya telah kembali ke rumah.

Di Desa Waikokak, Kecamatan Aesesa, Veronika Bule (59) menjadi salah satu dari belasan warga yang ikut dalam mobilisasi yang mereka akui dilakukan oleh aparat TNI.

Menurut Veronika, sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, ia dan hampir seluruh warga Desa Waikokak memilih mengungsi di kawasan perbukitan.

Namun, pada Selasa sore, 24 Agustus 2026, hanya beberapa orang yang bersedia mengikuti ajakan TNI untuk pindah ke lokasi pengungsian di Lapangan Berdikari Danga, lokasi yang menjadi titik kumpul terbesar dan akan dikunjungi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Nagekeo.

Ajakan untuk kembali ke tenda juga dialami Regina Sena (44), warga Dhadho Wawo, Desa Tenga Tiba, Kecamatan Aesesa Selatan. Regina mengaku baru dua malam menginap di dalam tenda pengungsian menjelang kedatangan Presiden setelah ia dan beberapa warga lainnya dijemput oleh sejumlah orang yang tidak mereka kenali.

Sebagian besar penyintas gempa lainnya justru menolak untuk mengikuti ajakan tersebut.

“Kami awalnya mengungsi di gunung. TNI jemput kami dengan oto (kendaraan), bawa kami ke sini,” ujar Veronika dari dalam tenda.

Meski diduga telah dimobilisasi secara massal, tenda-tenda pengungsian di Lapangan Berdikari Danga yang berukuran besar ternyata tak kunjung penuh.

Di tengah upaya TNI untuk kembali memobilisasi pengungsi ke dalam tenda yang telah ditinggalkan, pada hari yang sama juga merebak informasi mengenai adanya gempa bumi susulan disertai tsunami yang membuat para pengungsi di kawasan pesisir panik.

Saat Samsia Cora sedang menjalani perawatan intensif di RSUD Aeramo, Arief Tyastama, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang sekaligus Koordinator BMKG NTT, mengimbau masyarakat Nagekeo, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi informasi yang beredar di media sosial terkait prediksi gempa berkekuatan hingga magnitudo 8,1 yang disebut akan terjadi dalam waktu dekat.

Informasi tersebut dipastikan sebagai hoaks. BNPB menegaskan bahwa hingga saat ini gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat, baik terkait kapan terjadi, di mana lokasinya, maupun berapa besar kekuatannya.

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai ataupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Setiap informasi terkait kebencanaan hendaknya merujuk pada keterangan resmi dari lembaga berwenang sehingga tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Imbauan Arief Tyastama memang sangat berguna bagi para penyintas gempa lainnya. Namun, imbauan itu tak lagi berarti bagi Samsia Cora. Perempuan tersebut telah lebih dahulu kehilangan kesadaran hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Gempa Gempa Bumi Nagekeo
Previous ArticleKebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo
Next Article Kapolda NTT Tinjau Rusun Polres Manggarai Barat yang Rusak akibat Gempa

Related Posts

Kapolda NTT Tinjau Rusun Polres Manggarai Barat yang Rusak akibat Gempa

28 Agustus 2026

Kebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo

26 Agustus 2026

Sheline Lana Tanggung Biaya Sekolah Anak di Wae Ri’i yang Orangtuanya Meninggal Akibat Gempa

26 Agustus 2026
Terkini

Kapolda NTT Tinjau Rusun Polres Manggarai Barat yang Rusak akibat Gempa

28 Agustus 2026

Nyawa Samsia Cora Diduga Direnggut Hoaks Terstruktur dan Berskala Masif

27 Agustus 2026

Kebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo

26 Agustus 2026

Sheline Lana Tanggung Biaya Sekolah Anak di Wae Ri’i yang Orangtuanya Meninggal Akibat Gempa

26 Agustus 2026

BSI KCP Labuan Bajo Gandeng TNI AL Serahkan Bantuan ke Kecamatan Macang Pacar

26 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.