Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis
KESEHATAN

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

By Redaksi1 September 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Jenazah almarhumah Selviana Tijung saat hendak diantar ke ruang jenazah RSUD Borong, pada Minggu, 30 Agustus 2026 (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT.com — Selviana Tijung, ibu hamil asal Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia setelah menjalani operasi caesar di RSUD Borong.

Selviana sebelumnya dirujuk dari Puskesmas Dampek ke RSUD Borong pada Rabu, 26 Agustus 2026, karena dinilai tidak dapat melahirkan secara normal.

Keluarga menyebut Selviana seharusnya menjalani operasi sesuai rujukan dari Puskesmas Dampek. Namun, setelah tiba di RSUD Borong, tenaga medis disebut tetap memberikan obat perangsang atau induksi untuk mengupayakan persalinan normal.

Proses tersebut berlangsung hingga Sabtu, 29 Agustus 2026. Pihak keluarga mengaku telah berulang kali menanyakan alasan operasi belum dilakukan.

Menurut keluarga, tenaga kesehatan menyampaikan masih ada peluang bagi Selviana untuk melahirkan secara normal sehingga obat perangsang terus diberikan.

Keluarga juga mengaku mendapat penjelasan bahwa operasi caesar baru dapat dilakukan setelah 10 kali pemberian obat perangsang. Sementara itu, kondisi Selviana disebut semakin melemah.

Suami Selviana, Petrus Forfier Insano, mengatakan istrinya diperkirakan melahirkan pada September 2026. Namun, setelah gempa terjadi, petugas kesehatan dari desa membawa Selviana ke Puskesmas Dampek sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Borong.

Menurut Petrus, hasil observasi dan penilaian medis di Puskesmas Dampek menyatakan istrinya tidak dapat melahirkan secara normal sehingga harus dirujuk ke rumah sakit.

“Bawa ke RSUD Borong ini untuk operasi memang. Tetapi sampai di sini mereka paksa lahir normal. Mereka pakai obat perangsang. Saat kami tanya mereka bilang, tunggu 10 kali baru operasi. Mereka juga bilang sudah pembukaan ke tujuh, sementara isteri saya sudah tidak berdaya,” tutur Petrus sembari menangis di ruang jenazah RSUD Borong, Minggu siang.

Petrus mengatakan Selviana akhirnya menjalani operasi caesar pada Minggu malam. Setelah operasi, Selviana dilarikan ke ruang ICU.

“Sebenarnya meninggal tadi malam. Hanya bertahan karena alat di ruangan. Makanya baru tadi pagi dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

Petrus mengaku kecewa terhadap pelayanan di RSUD Borong. Ia menilai keterlambatan tindakan medis menyebabkan kondisi istrinya semakin memburuk.

“Lebih baik isteri saya mati pada saat gempa daripada mati karena pelayanan buruk di rumah sakit ini,” tambahnya lirih.

Salah satu keluarga Selviana, Ecel, mengatakan dirinya mendatangi RSUD Borong pada Sabtu siang. Saat itu, Selviana disebut meminta bantuan agar keluarga berkomunikasi dengan pihak rumah sakit untuk segera melakukan operasi.

“Saudari saya sudah tidak berdaya. Dia mohon ke saya untuk berusaha supaya pihak rumah sakit segera operasi caesar,” kata Ecel di RSUD Borong, Minggu siang.

Ecel kemudian menanyakan kondisi Selviana kepada petugas di ruang nifas. Namun, menurut dia, dirinya dimarahi karena dianggap tidak berhak meminta penjelasan terkait tindakan medis pasien selain suami korban.

Ecel mengatakan dirinya kemudian berdebat dengan petugas karena Selviana sebelumnya dirujuk ke RSUD Borong lantaran tidak dapat melahirkan secara normal di Puskesmas Dampek.

Ia kemudian mengunggah persoalan tersebut ke media sosial. Unggahan itu selanjutnya viral.

“Dugaan saya mereka operasi saya punya saudari karena sudah viral. Tetapi kondisinya sudah tidak berdaya,” kata Ecel.

Ecel meminta Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengevaluasi pelayanan di RSUD Borong.

“Pemda Manggarai Timur harus evaluasi total ini RSUD Borong. Nanti banyak korban kalau pelayanan seperti ini dibiarkan. Mereka utamakan prosedur daripada nyawa manusia,” katanya.

Ia mengatakan keluarga kini fokus mengurus pemulangan jenazah Selviana ke kampung halamannya di Kecamatan Lamba Leda Utara.

“Setelah urus almarhumah baru kita ambil langkah lanjut terkait peristiwa ini,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Wincentius Tala, mendatangi RSUD Borong pada Minggu sore untuk menemui keluarga Selviana.

Wincentius menemui suami Selviana di ruang jenazah. Ia memberikan penguatan kepada keluarga sekaligus membantu mengurus administrasi kepulangan jenazah ke kampung halaman.

Di hadapan keluarga, Wincentius menelepon Direktur RSUD Borong dan meminta agar ambulans disiapkan untuk mengantar jenazah Selviana.

“Segala urusan kepulangan saya yang urus,” kata Sekda Wincentius Tala.

Wincentius juga meminta izin kepada suami Selviana agar bayi yang baru lahir untuk sementara dirawat oleh keluarga. Hal itu dilakukan karena kondisi kampung halaman mereka masih terdampak gempa.

Rumah keluarga Selviana juga disebut telah ambruk akibat gempa yang terjadi sekitar dua pekan sebelumnya.

“Ini demi kebaikan nona kecil. Biar kami yang rawat. Kami juga akan minta Nakes untuk mengurus kesehatannya dengan baik,” katanya.

RSUD Borong merespons informasi yang beredar di media sosial dengan membantah adanya penundaan penanganan terhadap Selviana.

Humas RSUD Borong, Mariana M. Galis, mengatakan seluruh tindakan medis terhadap Selviana merupakan rangkaian penanganan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klinis pasien.

Menurut Mariana, penanganan dilakukan berdasarkan pertimbangan tim medis yang berkompeten dan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

“Menurut kami penanganan medis sudah sesuai, di mana rangkaian penanganan pada pasien mulai dari masuk sudah sesuai standar prosedur operasional bagian obstetri ginekologi, kemudian sesuai SOP juga sesuai pada pelayanan anestesi yang berlaku di RSUD Borong,” jelas Maria saat konferensi pers yang juga dihadiri Direktur, dr. Obgyn dan dr. Anastesi dan pada Senin siang.

Kontributor: Nansi Taris

Manggarai Timur Matim RSUD Borong
Previous ArticleJPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

Related Posts

Paulina Jau Meninggal Usai Gempa Susulan M 6,0 di Manggarai Timur

1 September 2026

Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Peduli Gempa Flores NTT

19 Agustus 2026

PDI Perjuangan Tak Hanya Salurkan Logistik, Perhatian Kesehatan Korban Bencana Jadi Prioritas

19 Agustus 2026
Terkini

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

JPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

1 September 2026

SBD Peduli Flores: Merawat Persaudaraan di Tengah Duka

1 September 2026

Membangun Ekosistem Sepak Bola Indonesia: Dari Pembinaan Usia Dini menuju Prestasi Dunia

1 September 2026

Paulina Jau Meninggal Usai Gempa Susulan M 6,0 di Manggarai Timur

1 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.