Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»HUT RI ke-74 Harus Dimaknai Sebagai Momentum Lahirnya Revolusi Pola Pikir
NTT NEWS

HUT RI ke-74 Harus Dimaknai Sebagai Momentum Lahirnya Revolusi Pola Pikir

By Redaksi15 Agustus 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Jefrin Haryanto (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Indonesia hari ini masih berkutat pada persoalan pola pikir. Indonesia unggul itu seharusnya digelorakan bersama revolusi pola pikir.

Hal ini disampaikan Jefrin Haryanto salah satu Trainer dari Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Ruteng saat menjadi pemateri di SMKN Peot Borong dalam rangka hari pramuka, Selasa (13/08/2019).

Ia menjelaskan, banyak pembangunan yang mubazir di tengah masyarakat. Sebab, baik penerima manfaat maupun pemberi manfaat tidak berada dalam satu gelombang pikir.

Jadi hambatan utama, kata Jefrin, masih berkutat pada soal pola pikir yang belum terbuka dengan perubahan dan percepatan global.

“Bisa dibayangkan bagaimana Anda datang dengan sesuatu yang baru dan progresif tapi penerima manfaat masih dengan pola pikir konvensional dan enggan keluar dari zona nyamannya, maka intervensi pihak luar sering dipersepsi sebagai santa claus yang datang membagi-bagi rezeki,” jelas praktisi psikologi itu.

Dalam situasi seperti ini, lanjut dia, agak rumit berharap adanya kemandirian atau melakukan outo replikasi tentang hal baik yang sudah didapatkan.

Apalagi jika pihak yang membawa program juga berorientasi pada penyerapan anggaran tanpa memikirkan outcome-nya. Hal ini tentu saja membuat kegagalan menjadi sempurna.

Jefrin pun menganjurkan untuk memasukan fase perumusan pola pikir sebagai kegiatan prasayarat sebelum runing program.

Program harus dimulai setelah secara mindset masyarakat sudah semaksud dengan tujuan program atau kegiatan.

“Buat saya HUT RI ke 74 ini, harus dimaknai sebagai momentum lahirnya revolusi pola pikir, sebelum kita mendengung-dengungkan revolusi mental. Karena orang akan berubah perilakunya jika pola pikirnyapun sudah disiapkan untuk berubah,” tutupnya.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba

Manggarai Yayasan Mariamoe Peduli
Previous ArticleDitengarai Ancaman, Semarak Pramuka Jadi Inspirasi Bangun SMPK St. Yosef Kisol
Next Article Tingkatkan Minat Baca Anak, Mahasiswa KKN UNS Solo Bangun Rumah Kreatif

Related Posts

PAN Manggarai Gelar Rakerda, Bupati Tantang Kader Tekan Kemiskinan di Wilayah Utara

12 Agustus 2026

Proyek Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Dinas Pertanian Akui Lahan Diklaim Milik Polri

12 Agustus 2026

Pastor Pantura Tolak Tambang Mangan di Reok dan Lamba Leda Utara

8 Agustus 2026
Terkini

PAN Manggarai Gelar Rakerda, Bupati Tantang Kader Tekan Kemiskinan di Wilayah Utara

12 Agustus 2026

Tiga Pria Diamankan Polisi Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup di Manggarai Barat

12 Agustus 2026

Proyek Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Dinas Pertanian Akui Lahan Diklaim Milik Polri

12 Agustus 2026

Kolang FC Hantam Wae Mata FC 6-1 di PSSI Manggarai Barat Cup II

12 Agustus 2026

Krisna FC Menang 2-0 atas Menjaga FC di PSSI Manggarai Barat Cup 2026

11 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.