Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Aku Bukan Malaikat: Antologi Puisi Sr. Florensia Imelda Seran
Sastra

Aku Bukan Malaikat: Antologi Puisi Sr. Florensia Imelda Seran

By Redaksi11 Februari 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Sr. Florensia Imelda Seran, SCSC.

Aku Bukan Malaikat

Meniti sebuah jalan panggilan
Tenang dan syahdu membujuk hati ketika lonceng berdentang
Memanggil jiwa, membawa tubuh bersuah dalam diam
Menyembah dan mensyukuri setiap tetes pemberian

Detik-detik terasa makin berharga
Ketika jam kesunyian menjemput di antara hari karya
Hanya bersuah dengan-Nya dalam pujian tak henti
Menghantar jiwa pada pelukan kasih tak bersuara

Langkah menuju puncak sebuah janji, menjemput hati
Kepastian arah diantara ayunan langkah terasa ringan
Tujuan hidup terbentang indah di depan mata
Angan dan bayang makin menyatu dalam sebuah janji setia

Namun, aku bukan malaikat
Saat menemukan diri begitu rapuh, hati terasa dingin membeku,
Menatap sosok lain menari dalam bayang
Menawar rindu tak bersuara, bersandar pada dinding hati

Hadirnya diam mengukir kisah tak berbekas
Menoreh kata-kata manis dalam bayang
Menuntut balas rindu walau membeku dalam alunan nada bisu
Menanti harapan dalam lamunan kosong tak terjawab

Aku hanyalah manusia biasa, yang memilih jalan tak biasa
Nada syukur untuk rasa ini, saat kemurnian janji teruji
Aku bisa berdalih memurnikan jalan panggilanku semurni kristal impian
hanya dalam katupan tangan, dalam hadirat-Nya

Yakin kutempuh di jalan ini, meski liku luka tak akan pernah berakhir,
Pasti kusampai tujuan, meski lorong gelap kan silih berganti
Sedalam hati bertanya, sedalam itu KasihNya menuntunl angkahku

Sejauh mata memandang sejauh itu kasihNya melingkupi hidupku.

 

Untuk Ibu yang Terlalu Cepat Pergi

Datangnya senja menjemput malam
Sang raja siang telah pergi
Gelap merayapi bumi ku berajak ke kesunyian

Di bawah teduh sinar rembulan malam
Hilangnya sosok teduh penaung jiwa
Di antara nyanyian sayir malam
Menelan suara syadu peneduh jiwa
Terbang hilang dalam kesunyian abadi

Aku bangga milikimu, ibu
Harta yang tak tertandingi sejagat
Kelembutan dan kebijaksanaanmu bekal cintaku

Ketegaranmu dalam derita pendorong juang langkahku
Ketika kaki enggan melangkah
Hati gundah menepis kasih
Masa resah menyimpan beban

Jiwa sunyi merenung amanatmu
Ibu, darimu datangnya cinta
Di mana kugantung harapku?
Darimu datangnya hidup
Ke manakah ‘kan kukejar ketiadaanmu?

Adakah cinta abadi dalam waktu?
Adakah rindu penyegar ingatan?
Hadirmu abadi tempat ku mencari cinta

Jiwamu kekal dalam kablu terpaut rindu sahaja
Ku mengerti tiada yang abadi
Tapi tatap ini ‘kan selalu mengirim embun cinta untukmu
Ku pahami, kuberharap

Tapi rindu ini kan terpatri pada ruang hampa jiwaku
Yang tersisa hanyalah doa

Semoga bahagia bagianmu
Sukacita hidup akhiratmu
Ketenangan jiwa sucimu dalam pangkuan Sang Kasih Ilahi

Hari Persandingan di Altar-Mu

Tapak batas kulewati sudah
Getar langkahku ayun mempesona
Tatapan syadu menembus setiap derita

Tangan terkatup, tanda suci sahaja
Aku telah melewati pintu gerbang-Mu
Kau Menjemputkan dalam gempita
Ku telah memasuk ruang suci-Mu

Kau menyapaku lembut
Dalam selubung putih
Ku menanti uluran tanganMu
Membelai pundakku mesrah

Dalam tilam manis jubah terindah
Kutertunduk di depan altar kurbanMu
Tak sanggup menantap dasyat sinar kasih-Mu

Dalam desahan lirih, terdengar bisikan-Mu
Betapa Ku kaucintai dengan sejuta manis

Alangkah hebat cinta yang kau beri bagiku

Alangkah mempesona kasih yang kau lukiskan di jiwaku

Tak ada yang dapat mengalahkan kasih-Mu

Tak ada yang dapat menggantikan sayang-Mu
Inilah pengantin-Mu
Yang telah Kau tebus dengan darah suciMu

Inilah milik pusaka-Mu
Yang telah Kau tetapkan sejak kekal
Hari yang bahagia,
Hari yang terindah

Hari kau mengambilku dari dunia
Menguduskanku bagi karya-Mu
Hari yang bersejarah
Hari yang mengukir seribu kisah
Hari kau mempersunting jiwa suciku
Jadi milik-Mu abadi

Florensia Imelda Seran, SCSC, adalah mahasiswi Semester 4 pada STIPAS St. Sirilus Ruteng, Flores, NTT.

Florensia Imelda Seran
Previous ArticleMonica: Antologi Puisi Sarina Daiman
Next Article Valentine’s Day untuk Siapa: Ketika Orang Biara Merayakan Valentine’s Day

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.