Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Perang Gaza dan Dampak Menstruasi Wanita Palestina
Gagasan

Perang Gaza dan Dampak Menstruasi Wanita Palestina

By Redaksi20 November 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Maria Yuniarti Maha Rani
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Maria Yuniarti Maha Rani

Siswi Kelas XII SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo

Saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja, khususnya perang antara Israel dan Palestina.

Beberapa dampak dari perang tersebut membuat keadaan di Gaza memburuk hingga minimnya sanitasi, pembalut dan akses air bersih untuk wanita.

Masalah itulah yang mau dibedah oleh penulis dalam opini ini.

Minimnya pembalut dan kurangnya akses air bersih tentu menambah keresahan bagi wanita Palestina yang sedang menstruasi.

Akibatnya, banyak perempuan Palestina terpaksa meminum pil penunda menstruasi karena kondisi yang tidak sehat dan menyedihkan.

Para kaum hawa mengonsumsi tablet norethisterone yang biasanya diresepkan untuk kondisi darurat seperti pendarahan menstruasi, endomentriosis, dan nyeri haid. Tujuan utamanya untuk menunda siklus menstruasi.

Tablet tersebut mengandung norethisterone, yang merupakan versi sintesis dan progesterone.

Hormon progesterone bertugas menjaga pintu lapisan rahim dalam dua minggu mendatang untuk mempersiapkan datangnya sel telur yang telah dibuahi.

Jika kehamilan tidak terjadi, maka terjadi penurunan tajam kadar progesterone, sehingga rahim melepaskan lapisannya dan menstruasi dimulai (dr. Walid Abu Hatab).

Selain karena kekurangan sanitasi dan juga pembalut, dalam diri wanita Palestina juga merasakan ketidaknyamanan dan kegelisahan. Hal itu juga yang mendorong mereka mengonsumsi pil.

Dengan mengonsumsi pil tersebut membantu kaum hawa di Gaza yang sedang mengalami krisis sanitasi dan pembalut menstruasi apalagi dalam kondisi perang yang terus berlanjut.

Selain itu dapat membantu menghilangkan ketidaknyamanan dan juga kegelisahan akibat menstruasi pada saat situasi perang.

Namun adapun efek samping atau dampak menstruasi jika hanya bertahan dengan pil, seperti pendarahan vagina tidak teratur, mual, perubahan suasana hati dan perubahan siklus menstruasi.

Dilaporkan Hexahealth, Kamis (2/11/2023), siklus atau menstruasi pada wanita membawa banyak perubahan pada sistem reproduksi.

Siklus hormonal ini biasanya berlangsung sekitar 28 hari, namun dapat berbeda dari satu wanita ke wanita yang lain kendati masih ada beberapa tidak mengalami efek samping.

Sebagian besar wanita hanya mengalaminya pada bulan pertama, periode efek samping tablet berbeda dari satu orang ke orang yang lain meskipun ada yang merasa mual, ada juga yang mengalami penambahan berat badan, beberapa juga mungkin mengalami kondisi kesehatan yang lebih parah seperti bercak-bercak, keputihan, dan masih banyak kemungkinan lainnya.

Gejala awal dari efek samping pil tersebut adalah tumbuh jerawat, muncul bercak menstruasi, mood yang tidak bisa dikontrol, hilangnya libio, nyeri pada payudara, mual, dan juga penggumpalan darah.

Tak hanya itu, efek samping dari pil ini bisa mejadi efek jangka panjang seperti peningkatan risiko penggumpalan darah, peningkatan risiko kanker payudara dan penyakit yang menyerang kesehatan jantung seseorang.

Dari data tersebut, saya berpendapat bahwa sebaiknya penggunaan pil penunda menstruasi tersebut jangan digunakan mengingat keadaan dan krisis fasilitas kesehatan di tengah perang yang terus berlanjut.

Pil tersebut sangat menggangu kesehatan kaum hawa, bahkan dapat merujuk pada penyakit yang mematikan.

Jangan sampai hal tersebut menambah korban, namun bukan hanya korban perang melain korban akibat efek samping penggunaan pil tersebut.

Kita harus meminimalisasi kemungkinan yang akan dihadapi, meskipun tujuan kita baik, namun alangkah baiknya bila kita juga menjaga diri kita agar tetap hidup mulai dari hal tersebut.

Sebaiknya juga fasilitas kesehatan hanya berfokus kepada para korban perang yang membutuhkan perawatan secepatnya dan bukan merawat para kaum hawa yang menjadi korban efek samping dari pil tersebut.

Dalam kondisi genting saat ini sangat penting untuk memperhatikan hal tersebut namun tidak harus mengonsumsi pil yang menggangu kesehatan para konsumen.

Negara Palestina bisa saja meminta bantuan dari Negara-negara tentangga untuk menyumbangkan pembalut bagi kaum hawa, membuat pembalut darurat yang terbuat dari kain-kain bekas yang dibuang atau sudah tidak digunakan lagi untuk membantu mensturasi wanita Palestina.

Maria Yuniarti Maha Rani
Previous ArticleFransiskus Xaverius Taolin Terpilih Sebagai Ketua Pemuda Katolik Malaka
Next Article Kekerasan di Lingkungan Sekolah Tanggung Jawab Siapa?

Related Posts

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.