Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Perlu Ada Penelitian Sejarah Tentang ‘Teka-Iku’ untuk Masyarakat Sikka
Feature

Perlu Ada Penelitian Sejarah Tentang ‘Teka-Iku’ untuk Masyarakat Sikka

By Redaksi13 November 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Patung Pahlawan Lokal, Teka Iku di Sikka
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ini diperlukan agar tidak membingungkan generasi muda terutama anak-anak apabila nantinya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sebagai Muatan Lokal

Sikka, VoxNtt.com-Seperti Marilonga di Ende, Motang Rua di Manggarai dan Wonakaka di Sumba, masyarakat Sikka pun memiliki tokoh yang diyakini sebagai pahlawan yaitu Teka Iku.

Teka Iku memimpin perlawanan rakyat dari beberapa daerah di Sikka melawan Pousthoder Onderafdeeling (pejabat Belanda) di Maumere pada tahun 1904 yang terkenal dengan sebutan Nuhu Teka Iku atau Perang Teka Iku.

Penjajah Belanda saat itu dibantu oleh tiga kerajaan setempat yakni Sikka, Nita, dan Kangae.Perang tersebut dipicu oleh penetapan pajak buah kelapa sebanyak 4 buah per pohon yang dirasa sangat memberatkan petani dan masyarakat.

Oleh karenanya di bawah pimpinan Teka Iku dilakukanlah perlawanan dengan basis utamanya adalah masyarakat Hubing, Wolowude, Wetakara, dan Habi, Wetak, Weko, Kamet, serta beberapa daerah sekitar.

Salah satu taktik perangnya yang terkenal adalah taktik bumi hangus yang dilakukan pasukan terhadap kampung-kampung yang menjadi basis pertahan Belanda dan kerajaan-kerajaan pendukungnya.

Teka yang oleh Bruder Petrus Land disebut sebagai Jendral pemberani ditangkap serta dibuang ke Sawalunto, Sumatera.

Teka dan Iku

Meskipun demikian, beberapa pihak menilai ada banyak informasi yang simpang siur terutama berkaitan dengan riwayat hidup dan peran kedua tokoh ini.

Foto" Salah satu situs sejarah Teka-Iku/Foto:Are/VoN
Foto: Salah satu situs sejarah Teka-Iku (Foto:Are/VoN)

Teka dan Iku adalah dua orang namun selama ini sering disatukan sehingga dianggap Teka Iku adalah satu orang saja.

Selain itu, ada sejarawan lokal yang menyebut Teka sebagai anak gelandangan yang dipilih di Pasar Geliting oleh Mo’an Mitan, ayah Mo’an Iku.

Namun, keluarga dan sejarahwan lokal lainnya meyakini bahwa Teka adalah anak dari Watuwitir yang “diambil” Mo’an Mitan saat bayi karena ditinggalkan orang tuanya di kebun.

Hal lain yang masih membingungkan adalah bagaimana peran masing-masing tokoh yakni Teka dan Iku dalam perjuangan tersebut.

Oleh karena itu, Camat Kangae, Yohanis Yanto Kaliwon, berharap ada ruang diskusi untuk menggali dan menyesuaikan informasi terkait kedua tokoh dan perjuangan mereka.

“Ini diperlukan agar tidak membingungkan generasi muda terutama anak-anak apabila nantinya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sebagai Muatan Lokal,” ujarnya kepada VoxNtt.com, Kamis, (10/11) di Hubing Klo’ang, Desa Teka Iku.

Menurutnya, Kesbangpol, Dinas Pariwisata, Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka bisa memfasilitasi kesempatan tersebut.

Sejalan dengan Kaliwon, salah satu tokoh muda Desa Teka Iku, Wilfridus Woda menegaskan pentingnya peran Pemerintah Desa Teka Iku untuk menggali kembali informasi terkait Teka dan Iku.

“Masyarakat setempat dan keluarga harus juga menggali dan menemukan informasi yang baik terkait Teka dan Iku dan Pemerintah Desa Teka Iku dapat memfasilitasi upaya ini,” unarnya saat dihubungi Vox NTT pada Sabtu, (12/11).

“Ini penting agar informasi tentang perjuangan Teka dan Iku tidak membingungkan kami” lanjut Woda.

Sikka
Previous ArticleCPEF dan Burung Indonesia Monitoring Program Wahana Tani Mandiri Sikka
Next Article Kasus Nenek Agnes, Polisi Dinilai Belum Profesional Menangani Kasus Judi di Manggarai

Related Posts

Gubernur NTT Minta Penyaluran KUR Tepat Sasaran untuk Masyarakat Miskin

19 Februari 2026

Sehari Hari Hilang, Seorang Nelayan di Maumere Ditemukan Tewas

18 Februari 2026

DPRD NTT Desak Polisi Usut Dugaan TPPO Pekerja Pub di Sikka

16 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.