Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»CPEF dan Burung Indonesia Monitoring Program Wahana Tani Mandiri Sikka
Regional NTT

CPEF dan Burung Indonesia Monitoring Program Wahana Tani Mandiri Sikka

By Redaksi13 November 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Sikka, VoxNtt.com- Wahana Tani Mandiri (WTM) bersama Critycal Ecosystem Parthnersip Fund (CEPF) dan LSM Burung Indonesia mengadakan evaluasi atas program “Improving Ecosystm Manajemen and Livehoods around Mountion Egon In Floses – Indonesia” yang telah berlangsung enam (6) bulan di  Sikka, Maumere.

Kegiatan ini dihadiri oleh Skylar (CEPF), Adi Widiyanto, Tiburtius Hani (Burung Indonesia), Winfridus Keupung (Direktur WTM) dan semua Fasilitator Lapangan dan Kantor WTM, jalan Wairklau Maumere (8/11).

BACA: Misserior Jerman Kunjungi Kelompok Dampingan WTM

Kegiatan yang diadakan kurang lebih selama satu minggu ini difasilitasi dalam bahasa Inggris oleh Herry Naif selaku Koordinator Program.

Herry mengutarakan soal kesuksesan yang sudah tercapai sesuai dengan target dan kendala yang dihadapi selama menjalankan program.

Dalam presentasi itu, Herry menyinggung bahwa program yang dilaksakan di Wilayah Mapitara ini mengalami dinamika pelaksanaan yang luar biasa. Bahwa ada sebuah sistem pertanian yang ditawarkan WTM dimana sistem pertanian terpadu (selaras alam).

Model pertanian menjadi pilihan alternative, ketika banyak petani mengembangkan pertanian kimiawi.

Pada kesempatan itu Herry menegaskan bahwa WTM sangat serius mendorong pertanian yang bernuansa konservasi.

“Ada berbagai aktivitas yang telah dilakukan untuk memberdayakan masyarakat seperti pembentukan kelompok tani, rekruitman dan seleksi kader, diskusi perencanaan dan permasalahan pengelolaan pertanian, kunjungan sumber mata air, pembuatan kandang, vaksin ayam, pembibitan tanaman umur panjang (Kakao, Pala dan Cengkeh), pembibitan tanaman sumber mata air,  kunjungan kebun dan berbagai aktifitas lain” ujar Herry.

BACA: Beatriks Rika Meraih Penghargaan Female Food Hero

Sedangkan Skylar (CEPF) dalam presentasinya mempertanyakan tentang perbedaan data base jumlah sumber mata air yang ada dalam penulisan awal dengan yang sekarang, dan kondisinya juga berbeda.

Menjawabi itu, Winfridus Keupung menerangkan bahwa perbedaan itu terjadi setelah dilakukan indentifikasi dan penelusuran kondisi mata air yang ada.

Foto: Suasana evaluasi WTM bersama CPEF dan Burung Indonesia
Foto: Suasana evaluasi WTM bersama CPEF dan Burung Indonesia

Benar bahwa yang ditulis itu 8 sumber mata air tetapi setelah ditelusuri secara faktual, padahal di Wilayah kecamatan Mapitara ada 36 sumber mata air dengan kondisi stabil.

HKM

Sedangkan mengenai perkembangan pelaksanaan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Mapi Detun Tara Gahar menjelaskan sudah diperoleh sejak bulan Oktober 2013 tetapi hingga hari ini belum ada realisasinya.

Adapun alasan yang diungkapkan Gahar yakni adanya miskomunikasi yang terjadi antara pemegang Ijin Usaha Pengelolaan (IUP) HKM dengan Dinas Kehutanan Propinsi.

“IUP sudah ada, tetapi belum ada RKHKMnya. Kedua, perubahan kewenangan  yang sebelumnya menjadi kewenangan pemerintah kota/kabupaten, saat ini sudah diambil alih oleh pemerintah provinsi, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah”  ungkap Win Keupung.

Lebih lanjut, Win berharap kondisi ini mestinya mendorong para pihak agar mempercepat proses pelaksaan IUP HKM tersebut, sambil menunggu IUP HKM untuk Desa Hale dan Hebing.

Setelah pertemuan di kampung dengan melihat beberapa data administratif. Kemudian dilakukan kunjungan lapangan ke Desa Egon Gahar oleh Tim CEPF, Burung Indonesia dan WTM (Harry/VoN)

 

 

Sikka
Previous ArticleAkibat Galian Pasir Wae Reno, Ruas Jalan Trans-Flores Nyaris Putus
Next Article Perlu Ada Penelitian Sejarah Tentang ‘Teka-Iku’ untuk Masyarakat Sikka

Related Posts

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026

Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Lahan Diklaim Aset Polri

14 Agustus 2026

DPRD Manggarai Tinjau TPA Ncolang, Minta Pemkab Siapkan Dana Taktis untuk Tangani Keluhan Sampah

13 Agustus 2026
Terkini

Kebijakan “Ambil Dulu, Bayar Kemudian” Gubernur NTT Direalisasikan di Golo Mendo

26 Agustus 2026

Sheline Lana Tanggung Biaya Sekolah Anak di Wae Ri’i yang Orangtuanya Meninggal Akibat Gempa

26 Agustus 2026

BSI KCP Labuan Bajo Gandeng TNI AL Serahkan Bantuan ke Kecamatan Macang Pacar

26 Agustus 2026

Istri Wagub NTT Pantau Rumah Warga Terdampak Gempa di Manggarai

26 Agustus 2026

PUPR NTT Verifikasi 300 Rumah Terdampak Gempa di Desa Golo Mendo

26 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.