Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Mengenang Gus Dur (In Memoriam)
HEADLINE

Mengenang Gus Dur (In Memoriam)

By Redaksi30 Desember 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kota Kupang, VoxNtt.com-Presiden ke-4 RI, KH Abdul Rahman Wahid alias Gusdur merupakan sosok pemimpin yang patut diteladani.

Kualitas kepemimpinan Gusdur  nampak saat memimpin PKB, menjadi pimpinan NU, hingga menjadi Presiden RI walau hanya paru waktu.

Demikian salah satu inti sari  dalam Diskusi Akhir Tahun yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (Haul) Gusdur ke-7 di Sekretariat DPW PKB NTT, Jumat, (30/12) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan dan pengurus DPW PKB NTT, Tokoh Masyarakat Tionghoa, dan  Gusdurian (Pengagum/pengikut ajaran) kota Kupang.

Diawali dengan doa bersama hadirin mencoba mengenang jasa-jasa Gus Dur lewat sharing tentang Gus Dur.

Pada kesempatan tersebut beberapa tokoh PKB NTT dan tokoh masyarakat Tionghoa bernostalgia terkait kenangan perjuangan bersama Gus Dur khususnya dalam membela minoritas dan kemajemukan bangsa.

Ketua DPW PKB NTT, Yucundianus Lepa, pada kesempatan tersebut menyampaikan, Gus Dur merupakan sosok pemimpin dan bapak bangsa sejati yang patut diteladani.

Dalam berpolitik Gus Dur bersama NU mendirikan PKB sebagai partai politik Nasional Religius.

Kendatipun PKB didirikan NU lanjut dia, Gus Dur bersama PKB selalu mengkampanyekan agar kaum Mayoritas yang berkewajiban  melindungi minoritas.

Demikian pun sebaliknya Minoritas menghargai mayoritas.

“Bagi Gus Dur tidak ada masyarakat kelas Dua di Republik Indonesia ini, semua suku bangsa dan agama yang mendiami Indonesia adalah sama”kata Yucun.

Gus Dur juga sosok pemimpin yang membuka diri sejak di dalam pesantren sudah bergaul dengan Pastor, Pendeta, dan tokoh-tokoh dari agama lainnya untuk berdiskusi mengenai format yang benar dalam membangun bangsa.

Dalam konteks kepemimpinannya Gus Dur, merupakan Bapak Bangsa yang tidak hanya mementingkan dirinya dalam berpolitik dan dalam memimpin bangsa ini.

Hal ini kata Yucun, nampak dari sikapnya pada detik-detik dirinya diturunkan dari jabatan sebagai Presiden.

Pada saat itu kisahnya, kelompok NU mengepung Jakarta karena tidak setuju kalau Gus Dur diturunkan dari jabatan Presiden.

Namun Gus Dur, melarang aksi tersebut sebab ia tidak menginginkan darah masyarakat tidak berdosa harus dikorankan demi untuk mempertahankan kekuasaan.

“Banyak kebijakan dan pernyataan yang diambil Gus Dur sangat kontroversial namun tanpa disadari sangat bermanfaat bagi pembangunan bangsa Indonesia” lanjut Yucun.

Pembela Minoritas

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Teodorus Widodo memiliki pandangan sendiri tentang sosok Gus Dur.

Bagi Teodorus, Gus Dur satu-satunya pembela kaum atau kelompok minoritas di Indonesia.

Hal tersebut menurutnya dirasakan warga etnis Cina, Tionghoa dan penganut Konghucu dimana selama 20 tahun masa orde baru hidup dalam tekanan dan mengalami perlakuan diskriminatif terutama di wilayah Jawa dan sekitarnya.

Namun sosok Gus Dur hadir sebagai satu-satunya figur atau tokoh yang membela Tionghoa dan Konghucu, serta etnis Cina secara keseluruhan untuk tidak diperlakukan secara Diskriminatif.

Di mata Gus Dur kata Dia, tidak ada kelompok kelas Dua di Republik Indonesia termasuk Bagi Cina dan Tionghoa.

“Bagi kami hanya ada satu pembela buat kami dan hanya ada satu Tokoh sekaligus bapak Pembela bagi kami yaitu Gus Dur,” tegasnya.

Hal tersebut diakui mantan Dewan Syuro PKB NTT, Anton Timo, yang menjelaskan, selama Gus Dur menjadi presiden terdapat banyak keputusan dan kebijakan yang dibuatnya sebagai komitmen akan kecintaannya terhadap kemajemukan di Indonesia, diantaranya penetapan Konghucu sebagai agama resmi, dan penyematan nama Papua Barat dari Provinsi Irian Jaya. (Yan/BJ/VoN).

Kota Kupang
Previous ArticleDiguncang Gempa 6,6 SR, Ini yang Terjadi di SBD
Next Article PNS Wajib Netral dalam Politik Praktis

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

KPB Program TEKAD Ponggeok Manggarai Kembangkan Penyulingan Minyak Cengkih

4 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.