Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NASIONAL»PMKRI: Kelompok Intoleran Tak Layak Hidup di Indonesia
NASIONAL

PMKRI: Kelompok Intoleran Tak Layak Hidup di Indonesia

By Redaksi18 Januari 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta,VoxNtt.com-Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Angelo Wake Kako, mengatakan kelompok intoleran tidak layak hidup di Indonesia.

Hal itu disampaikan Angelo usai diskusi kebangsaan yang bertajuk ‘Pancasila Dalam Tantangan Toleransi Kehidupan Umat Beragam di Indonesia’ yang berlangsung di Aula Margasiswa PMKRI, Jl. Sam Ratunlangi No. 1 Menteng, Jakarta, Rabu (18/1/2017).

“Kelompok intoleran tidak layak untuk hidup di Indonesia, karena Indonesia itu bhineka, Konsekwensi dari kebhinekaan itu adalah hidup saling menghargai, itu tidak bisa tidak,” ujar Angelo.

Untuk mengatasi kelompok intoleran, menurut Angelo, negara harus segera mengambil tindakan dengan mencermati situasi bangsa saat ini.

“Jadi, negara harus segera ambil tindakan dengan mencermati situasi hari ini, karena kalau kita lihat kelompok intoleran ini sudah lebih berani. Bendera merah putih saja sudah dibuat dengan gambar-gambar, ya saya juga tidak tahu itu logo apa, kita juga tidak tahu lambang apa itu. Maka negara harus bersikap cepat,” tegas Angelo.

Kelompok Intoleran, jelas Angelo, disebabkan oleh bebrapa faktor. Selain faktor tak adanya kesejahteraan, hal lain menurut dia karena terlalu bebasnya informasi. Kebebasan informasi sudah kebablasan.

“Ini kelompok orang lapar kesejahteraan. Kemudian informasi terlalu bebas. Kita mendorong kebebasan tapi jangan sampai kebablasan. Ketika orang punya kebebasan melampaui batas, maka negara harus cepat ambil alih menghentikan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Angelo berharap negara harus hadir dan segera ambil sikap membubarkan kelompok intoleran. “Bubarkanlah, apalagi ormas yang mendorong khilafah, jelas-jelas dia mendorong khilafah. Negara harus tegas,” imbuhnya.

Angelo pun meminta agar semua elemen masyarakat untuk memerangi dan membubarkan kelompok intoleran di Indonesia. Menurutnya, kelompok intoleran sudah terang-terangan hidup di NKRI. Maka dengan tegas, ia meminta unuk sama-sama bertindak melawan kelompok intoleran.

“Bukan hanya aparat penegak hukum, semua masyarakat harus merasa terganggu dengan hal ini. Kesadaran bersama harus dibangun, PMKRI misalnya, kenapa kemarin melapor, karena kami merasa terganggu,” jelas Angelo

Lebih lanjut Angelo mengatakan ini momentum penyatuan anak bangsa yang masih mencintai NKRI.

“Kalau kita mencintai Indonesia, ayolah kita bersatu, kita lawan. Ini berbicara soal ideologi, mungkin saudara kandung kita di sebelah, tapi kalau berbeda ideologi dengan kita ya pasti kita lawan, apalagi yang mengancam. Negara ini sudah final, jangan diutak-atik lagi, kita sudah hidup aman,” pungkas Angelo.

Angelo menjelaskan, idealnya negara ini mestinya bergerak menuju kejayaan. Dalam proses bergerak menuju kejayan itu harus ada integrasi internal dan itu bisa terjadi melaui kolektif identity.

“Kita ini berbeda, tapi kita bisa bersatu dengan kolektif identity, dan itu Pancasila. Coba kita rumuskan dengan dasar yang lain, percaya itu pasti ribut,” jelas Angelo.

Secara eksternal, demikian Angelo, kita harus beradaptasi dengan situasi global agar kita mencapai kejayaan.

“Mana bisa anak muda macam saya ini berpikir untuk bersaing dengan orang luar sementara hari ini saya masih menyelesaikan masalah di dalam rumah di negara ini. Energi kita habis membicarakan maslah internal,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Angelo berharap generasi muda harus rubah. “Saatnya kita harus selasikan, jangan lagi kita terjebak dengan hal seperti ini. Kita sudah tutup dengan Pancasila.” tutup Angelo. (Ervan Tou/VoN)

Previous ArticleDitetapkan Tahun Investasi, Bupati Ende Dinilai Sekedar Slogan
Next Article Soal Tambang di Manggarai, Dugaan “Politik Transaksional” Kembali Disampaikan

Related Posts

Perkuat Kedamaian dalam Bingkai Toleransi, Benny Harman Buka Puasa Bersama Umat Muslim di Labuan Bajo

27 Februari 2026

GMNI Kritik Presiden Prabowo, Akses Ekspor Nelayan Dinilai Tak Signifikan Tanpa Perbaikan Kepemilikan Kapal

17 Februari 2026

Benny Harman: Jurnalis Berperan Jaga Hukum dan Pluralisme di Labuan Bajo

10 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.