Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Warga: Apa Itu Tour de Flores?
Ekbis

Warga: Apa Itu Tour de Flores?

By Redaksi19 Juni 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
TdF 2017
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Beberapa warga di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengaku belum mengenal kegiatan Tour de Flores (TdF).

Padahal kegiatan balap sepeda internasional itu sudah pernah dilakukan pada Mei tahun 2016 lalu. Pada bulan Juli tahun 2017 ini juga kegiatan yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu kembali digelar di Pulau Flores.

Rikar Tanggo, warga Elar Selatan mengatakan  masyarakat akar rumput di Matim tidak mengenal apa itu TdF. Apalagi mengetahui tujuan dari kegiatan tersebut.

Menurut Rikar, saat ini Matim masih bergulat dengan masalah kemiskinan ekonomi dan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM).

Karena itu, jika benar TdF yang menurut kabarnya untuk mempromosikan pariwisata NTT berarti belum sepenuhnya tepat dilakukan saat ini.

Saat ini seharusnya anggaran Negara mesti digunakan dalam program yang bisa mendongkrak angka kemiskinan dan memperbaiki kualitas pendidikan.

“Bagi saya, fondasi  kemajuan tidak akan pernah terlepas dari pendidikan. Karena itu, pemerintah seyogyanya menghabiskan APBD untuk perbaikan pendidikan, fasilitas kesehatan, dan pembangunan infrastruktur. Ini tujuannya jelas dan pasti untuk peningkatan ekonomi dan pemberdayaan manusia,” kata Rikar kepada VoxNtt.com di Borong, Senin (19/6/2017).

Baca: Tour de Flores: Bencana atau Berkat?

Dia menegaskan, pemerintah tidak boleh terjebak dalam euforia TdF. Tetapi, harus melihat dan mendengar teriakan-teriakan masyarakat yang belum terpenuhi.

“Lebih baik uang sebanyak 1 M itu, untuk perbaikan jalan, gedung sekolah, puskesmas, dan fasilitas publik lainnya. Masyarakat butuh ini. Tapi malah lebih utamakan kegiatan yang hanya menguras APBD,” kata Rikar.

“Toh, aset wisata Matim belum dikelola secara optimal. Bagaimana mau dipromosikan? Apakah setelah TdF tahun lalu, pengunjung tempat wisata di Matim meningkat dan apa keuntungan ekonomi masyarakatnya? Ini mesti dievaluasi dan diinformasikan ke masyarakat,” ujarnya.

Tokoh muda asal Poco Ranaka, Paulus Jehaman kepada VoxNtt.com, Minggu (18/6/2017), mengatakan kegiatan TdF tahun 2016 lalu dibiayai dari APBD tiap kabupaten.

Kata dia, APBD adalah uang masyarakat. Namun, sayangnya sebagian besar masyarakat tidak mengetahui apa itu TdF dan untuk apa kegiatan itu dilaksanakan.

Paulus menegaskan, TdF 2016 lalu tanpa ada evaluasi yang jelas. Bagaimana hasilnya untuk pariwisata Matim dan apa dampak positifnya bagi ekonomi rakyat.

“Siapa yang diuntungkan, masyarakat, pemerintah, ataukah pebisinis-pebisnis besar yang mensponsori kegiatan ini? Itu rugi sekali. Promo yang hanya menguras APBD dan mengabaikan warga lokal, sebaliknya menguntungkan pebisnis dan pemodal. Bagi saya, ini tidak lebih dari proyek untuk menguras uang rakyat dan keuntungaanya hanya dirasakan segelintir orang,” kata Paul.

Dia menjelaskan, di era digitalisasi ini, banyak cara untuk mempromosikan aset wisata ke mata dunia. Dan itu biayanya tidak mencapai miliaran rupiah.

“Daripada harus merampok uang rakyat sebesar itu. Di tengah masyarakat Matim masih teriak, kondisi jalan yang buruk, kemiskinan meningkat, air minum bersih, listrik, dan kebutuhan lainnya,” katanya.

“Lebih baik promo virtual lewat internet. Anggaran bisa lebih murah dan promonya dapat dijangkau banyak responden di seantero dunia. Kalau tetap seperti itu, masyarakat pasti dirugikan,” tambah Paul

Dalam hal ini kata dia, Pemda sebaiknya memaksimalkan penggunaan website dinas.  Promo lewat website bersifat fleksibel, kontentnya dapat diperbaharui, di-upload  untuk menyesuaikan keadaan dari waktu ke waktu, dari satu obyek ke obyek pariwisata yang lain.

“Asalkan pengelolaan dilakukan secara serius dan telaten. Seperti produk industri yang menggunakan reklame online,” tutur Paul. (Nansianus Taris/VoN)

 

Manggarai Timur
Previous ArticleMendandani  “Si Cantik Mbou” di Manggarai Timur
Next Article Setelah Mendaftar ke PKB dan PKPI, Kini BKH Mendaftar ke PAN

Related Posts

Pastor Pantura Tolak Tambang Mangan di Reok dan Lamba Leda Utara

8 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Organisasi Sipil Berperan Penting Dukung Investasi Hijau

3 Agustus 2026
Terkini

PAN Manggarai Gelar Rakerda, Bupati Tantang Kader Tekan Kemiskinan di Wilayah Utara

12 Agustus 2026

Tiga Pria Diamankan Polisi Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup di Manggarai Barat

12 Agustus 2026

Proyek Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Dinas Pertanian Akui Lahan Diklaim Milik Polri

12 Agustus 2026

Kolang FC Hantam Wae Mata FC 6-1 di PSSI Manggarai Barat Cup II

12 Agustus 2026

Krisna FC Menang 2-0 atas Menjaga FC di PSSI Manggarai Barat Cup 2026

11 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.