Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi
Regional NTT

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

By Redaksi4 Agustus 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Proyek peningkatan Jalan Watu Cie-Deno (Foto: Nansi Taris)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT.com – Ketua DPRD Manggarai Timur, Salesius Medi, meminta kontraktor pelaksana proyek peningkatan Jalan Watu Cie-Deno segera membongkar lapisan agregat dasar apabila terbukti menggunakan material pasir dan batu bercampur tanah yang tidak sesuai spesifikasi teknis.

Pernyataan itu disampaikan Salesius menanggapi dugaan penggunaan material dari galian C ilegal sebagai agregat B pada proyek hotmix Jalan Watu Cie-Deno di Kecamatan Lamba Leda Selatan.

“Kalau menggunakan pasir batu bercampur tanah mohon segera dibongkar dan diganti. Karena itu sebagai pondasi. Hotmix itu harus di atas agregat A dan B yang sesuai spek,” tegas politisi PDIP itu saat ditemui wartawan di Kantor DPRD Manggarai Timur, Selasa siang.

Menurut Salesius, kualitas lapisan pondasi akan menentukan kekuatan konstruksi jalan. Apabila agregat dasar bercampur tanah, lapisan hotmix di atasnya berpotensi cepat mengalami kerusakan.

“Kalau bagian fondasi tidak kuat maka bagian atasnya juga tidak kuat,” tambahnya.

Ia mengatakan pimpinan DPRD Manggarai Timur akan turun langsung meninjau pelaksanaan proyek tersebut untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan.

Selain itu, Salesius mengajak masyarakat ikut mengawasi proses pembangunan karena proyek tersebut dibiayai menggunakan anggaran negara.

“Haknya masyarakat untuk kontrol pengerjaan proyek pemerintah. Itu tidak salah. Karena itu proyek bersumber dari pajak rakyat. Masyarakat juga pengguna jalan,” tegasnya.

Ia juga meminta para kepala desa di sekitar lokasi proyek turut memantau pelaksanaan pekerjaan agar kualitas proyek tetap terjaga.

Proyek hotmix Jalan Watu Cie-Deno saat ini sedang dikerjakan dengan nilai kontrak sekitar Rp14,4 miliar. Pekerjaan dibagi menjadi dua segmen, yakni sepanjang satu kilometer di Lento, Desa Lento, dan empat kilometer pada ruas Deno-Tanggar di Kecamatan Lamba Leda Selatan.

Sebelumnya, muncul dugaan bahwa material pasir dan batu yang digunakan untuk agregat dasar proyek berasal dari galian C ilegal di Golo Watu Pasat, Lonto Ulu, Desa Compang Laho. Material tersebut disebut digunakan sebagai bahan pengerasan jalan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga, kualitas material tersebut diragukan karena diduga belum melalui pengujian laboratorium. Warga juga mempertanyakan penggunaan material dari lokasi galian yang tidak memiliki izin.

Pantauan VoxNtt.com di lokasi galian menunjukkan tumpukan material pasir dan batu hasil pengerukan menggunakan excavator. Bekas aktivitas alat berat masih terlihat jelas, termasuk lubang galian yang berada tidak jauh dari permukiman warga. Dua rumah berada di bibir lokasi galian, salah satunya tepat di sisi akses keluar masuk kendaraan pengangkut material.

Material dari lokasi tersebut juga terpantau telah didistribusikan ke ruas Deno-Tanggar. Sejumlah tumpukan pasir dan batu terlihat di sepanjang jalan untuk kebutuhan pengerasan. Pada beberapa ruas, mulai dari Deno hingga Lonto Ulu, pekerjaan pengerasan telah dilakukan, termasuk sebagian ruas Heso-Tanggar.

Berdasarkan pantauan lapangan, material pasir yang digunakan tampak bercampur tanah dengan warna merah kecokelatan. Di sejumlah titik yang telah dikerjakan, permukaan agregat terlihat licin dan menyerupai tanah, berbeda dengan karakter pasir yang umumnya kasar.

Selain dugaan penggunaan material dari galian ilegal, ditemukan pula sekitar 20 meter ruas jalan yang menggunakan material cadas hasil pengerukan tebing sebagai bahan pengerasan. Dugaan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap mutu konstruksi proyek jalan tersebut.

Kontributor: Nansi Taris

Dinas PUPR Matim DPRD Matim Manggarai Timur Matim
Previous ArticleDua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik
Next Article Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

Related Posts

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026

Herry Baben: Tak Ada yang Kaya karena Judi Online, yang Ada Justru Hancur

2 Agustus 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.