Borong, VoxNTT.com – “Saat kejadian kami masih tidur. Rumah kami ambruk rata tanah, saya terkena batu bata di dalam rumah. Saat ini kami tidak bisa jalan.”
Teresia Jija (64), warga Kampung Pantar, Desa Golo Nimbung, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya bersama sang suami, Pelipus Gotok (76), akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu.
Teresia dan Pelipus hingga kini hanya bisa terbaring. Keduanya tidak lagi mampu berjalan setelah tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa terjadi.
Saat bencana mengguncang, Teresia dan Pelipus masih tertidur di dalam rumah berukuran sekitar 5×6 meter. Dalam hitungan detik, tempat tinggal yang selama ini menjadi tempat berlindung itu ambruk rata dengan tanah.
Teresia tertimpa batu bata di dalam rumah. Peristiwa tersebut menyebabkan keduanya mengalami luka dan kehilangan kemampuan untuk berjalan hingga saat ini.
Di tengah kondisi tersebut, kedatangan para pastor dari JPIC OFM Indonesia menjadi penghiburan tersendiri bagi keluarga tersebut.
Para pastor tidak hanya datang membawa pelayanan kesehatan dan bantuan kebutuhan dasar. Mereka juga menghadirkan pendampingan rohani melalui doa dan pemberkatan bagi para penyintas gempa.
Pater Yohanes Wahyu Prasetyo mengatakan, pelayanan JPIC OFM Indonesia bersama keluarga Fransiskan tidak berhenti pada pengobatan gratis dan trauma healing.
Menurut dia, pastoral care atau pendampingan rohani menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada warga terdampak gempa.
“Selama ini kami kunjungi rumah warga yang sakit, kami memberikan berkat di situ. Kami juga melayani umat yang meminta sakramen pengurapan orang sakit,” kata Pater Wahyu.
Pelayanan tersebut dilakukan dengan menyusuri kampung-kampung terdampak gempa di wilayah Kecamatan Lamba Leda. Para pastor mendatangi rumah-rumah warga yang sakit, mendengarkan pengalaman para penyintas, berdoa bersama keluarga, serta memberikan penguatan rohani.
Pendampingan itu dilakukan karena pemulihan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik warga yang mengalami luka. Ketakutan, kecemasan, dan beban psikologis yang dirasakan para penyintas juga membutuhkan perhatian.
Melalui pastoral care, JPIC OFM Indonesia berupaya hadir di tengah keluarga yang sedang menghadapi situasi sulit.
“Kehadiran Gereja Katolik dan berdoa bersama mereka saya kira ini menjadi kekuatan bagi warga,” katanya.
Bagi keluarga Pelipus dan Teresia, kehadiran pastor di rumah mereka memberikan penghiburan di tengah keterbatasan yang masih mereka alami.
Di rumah sederhana tempat keduanya terbaring, doa menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kembali harapan setelah bencana menghancurkan tempat tinggal dan mengubah kehidupan mereka.
Porkarius Minyoni (30), keluarga Pelipus dan Teresia, menyampaikan terima kasih kepada para pastor JPIC OFM Indonesia yang telah hadir memberikan pendampingan rohani kepada keluarganya.
Selain pastoral care, keluarga tersebut juga merasakan manfaat dari pengobatan gratis dan trauma healing yang dilakukan JPIC OFM Indonesia bersama keluarga Fransiskan.
Porkarius berharap perhatian terhadap keluarganya tidak berhenti pada pelayanan yang telah diberikan. Ia berharap pemerintah dan berbagai pihak lainnya dapat memberikan bantuan lanjutan kepada Pelipus dan Teresia.
Harapan itu terutama berkaitan dengan kondisi keduanya yang hingga kini belum dapat berjalan setelah tertimpa reruntuhan bangunan ketika gempa terjadi.
Bagi keluarga tersebut, kehadiran dan doa yang diberikan para pastor menjadi penguatan di tengah proses panjang pemulihan pascagempa. [VoN]

