Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Pemerintah Targetkan Hingga Tahun 2020 Flores-Lembata Bebas dari Rabies
KESEHATAN

Pemerintah Targetkan Hingga Tahun 2020 Flores-Lembata Bebas dari Rabies

By Redaksi21 Juni 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi rabies
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menargetkan Tahun 2020, daratan Flores dan Lembata bebas dari kasus rabies.

Target ini setelah melakukan rapat koordinasi antar bidang peternakan masing-masing Kabupaten di Aula Hotel Grand Wisata Ende, Rabu (21/6/2017).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan NTT, Yos Dandut menjelaskan, sebelumnya, pemerintah sudah pernah memprediksikan pada tahun 2014 bahwa kasus rabies tiada di Flores dan Lembata.

Namun, prediksi tersebut meleset dengan 9 kasus rabies yang terjadi pada tahun 2016.

“Dalam teori kalau selama dua tahun berturut-turut tidak ada kasus rabies maka dipastikan akan bebas. Tapi tahun sebelum itu ada kasus. Maka, kita target di tahun 2020 wilayah ini bebas dari kasus rabies,”ujar Dandut.

Dia mengatakan sisa waktu ke depan, pihaknya terus berupaya untuk memberantas kasus rabies di masing-masing wilayah.

Pemberantasan rabies dilakukan dengan cara vaksinasi. Langkah ini, jelas Dandut, dianggap sangat efektif daripada program eliminasi total.

“Dulu ternyata eliminasi itu tidak berhasil karena banyak pemilik anjing yang disembunyikan. Jadi, cara yang paling efektif adalah vaksinasi,” pungkas Dandut.

Ia mengaku kekurangan tempat penyimpanan vaksin dapat memicuh penerapan sistem vaksinasi. Sebab, normal suhu yang dibutuhkan pada vaksin 2-8 derajat celsius.

Selain itu, partisipasi masyarakat mengumpulkan anjing untuk vaksin masih sangat rendah.

“Jadi, terakhir ini cakupan vaksinasi naik diatas 10 persen. Kesepakatan kita bahwa akan lakukan vaksinasi masal pada setiap daerah. Kita berharap kerjasama masyarakat untuk mencapai target kita berantas rabies,” katanya. (Ian Bala/VoN)

Ende
Previous ArticleDesa Bea Ngencung Belum Ada Pemimpin Baru
Next Article Minta Dukungan Pemekaran Desa, Warga Lape Datangi Bupati Nagekeo

Related Posts

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026
Terkini

Edi Hardum Minta Bupati di Flores Tak Monopoli Penyaluran Bantuan Gempa

3 September 2026

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026

Kekerasan Seksual Anak di Sumba Timur: Rumah Tak Lagi Aman

2 September 2026

Gunung Anak Ranaka Naik ke Level Waspada, Warga Diminta Menjauh Satu Kilometer

2 September 2026

Aktivitas Gunung Api Anak Ranaka Meningkat, PVMBG Naikkan Status ke Level Waspada

2 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.