Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Baliho Bakal Calon Menjamur, Wajah Kota Ende Semrawut
Regional NTT

Baliho Bakal Calon Menjamur, Wajah Kota Ende Semrawut

By Redaksi23 Juni 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sejumlah baliho dipasang di Lampu Lima Kota Ende membuat wajah kota semrawut (Foto: Ian Bala)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Meski pemilihan kepala daerah serentak baru pada tahun 2018, namun kota Ende sudah terpenuhi spanduk dan baliho bakal calon kepala daerah. Itu dapat terlihat di sejumlah ruas jalan di Kota Ende.

Selain baliho ucapan selamat hari besar keagamaan, berbagai sudut jalan dan lorong dalam kota dikepung baliho bakal calon. Apalagi pada beberapa tempat stategis.

Alhasil, kota yang semula cantik dan elok akhirnya semrawut.

Sekretaris pusat kajian dan advokasi masyarakat (Pusam) Indonesia, Oscar Vigator menilai bakal calon mensosialisasikan diri berlebihan.

Baliho, menurut Oscar, tidak mengajarkan politik yang baik dan benar. Hanya digunakan untuk popularitas diri semata.

Pengamat sosial politik ini menjelaskan, para kandidat mesti memerangi gagasan atau ide untuk mencapai keberhasilan politik.

Tidak memasang baliho berlebihan yang dapat menggangu pemandangan serta kenyamanan masyarakat.

“Ende seperti kota kumuh. Pilkada itu untuk adu ide, gagasan dan program bukan adu baliho.Banyaknya baliho sangat merusak atau mengganggu keindahan kota,” kata Oscar di Ende, Kamis (22/6/2017).

Menurut Oscar, penempatan spanduk atau baliho tetap memiliki aturan dan tidak asal letak. Dengan menjamurnya baliho di Kota Ende dinilai politik tidak dewasa.

Para figur disarankan tetap memelihara keindahan kota dengan tidak membiarkan orang-orang berkampanye terselubung dengan mengotori wajah kota.

“Kalau saya amati, politik sangat tidak dewasa. Politik sangat tidak berkesan untuk masyarakat Kabupaten Ende,” pungkas dia.

Oscar mengusulkan, meskipun gong pemilu belum ditetapkan oleh penyelenggara, para figur mesti mawas diri dengan memberikan pendidikan politik yang baik. (Ian Bala/VoN)

Ende
Previous ArticleKabag Ekonomi Matim: Kalau Ada yang Potong Rastra Segera Lapor
Next Article Lima Hal Ini yang Hangat Dalam Pembahasan RUU Pemilu

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

KPB Program TEKAD Ponggeok Manggarai Kembangkan Penyulingan Minyak Cengkih

4 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.