Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Antologi Puisi Djawar Abdoel Aziz Hamid-Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura
Sastra

Antologi Puisi Djawar Abdoel Aziz Hamid-Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura

By Redaksi16 September 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Okezone.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Sajak Pak Tani

Pada lahan garap-pada hari-hari

Pada usaha tak ada menyerah

Hidup sederhana-badai tetap menerpa

Tekun giatmu selalu

Ya selalu ke lahan garap

 

Datangmu dipangku amanah

Dari yang mendukung sampai yang mencercah

Perkaranya adalah lahan garapan

 

Hidupmu adalah tunduk pada kemurahan tanah

Terik jadi keringat-berharap penghujan segera tiba

Subur-suburlah tanamku

Anak-anakku butuh biaya

Jika terpaksa berhutang-pada tetanggalah harap utama

Meski bunga utang menjadi

 

Subur-suburlah tanamku

Anak-anakku butuh biaya

 

Pantun Percintaan

Gemuruh gaduh meminta

Gembira menuduh salah kaprah

Makna cinta dipaham curiga

Dari hati ke hati luka jadi tak laku

 

Sayap patah tak jauh terbang

Sesal salah marilah damai

 

Lautan kasih manis madu

Luas samudera kita mendayung

Jika salah tegurlah sayang

Belai rambut sampai putih

Genggam jemari sampai purna

 

Rindu dalam Arloji

Rinduku bersemayam dalam arloji

Detak perlahan bergeser lagi

Engkau tahu sayang ada irama di sana

Itu narasi cinta yang terus berderit

 

sabda jadi nazar

rindu bertemu memberi peluk

sandar pada bahu lalu pinta

lepas penat genggam janji

bersatu peluk jadi sayang

rindu dalam arloji kita buka

Djawar Abdoel Aziz Hamid, adalah Putera Adonara-Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Bosowa Makasar

 

Puisi dan Diksi Yang Masuk Akal

Oleh: Hengky Ola Sura-Redaksi Seni Budaya Voxntt.com

Membaca tiga puisi dari Abdoel Azizi Hamid pekan ini adalah membaca balada, epigram, romansa dan bisa juga elegi. Balada, epigram, romansa dan juga elegi adalah model puisi baru.

Meskipun masuk dalam kategori puisi baru toh tiga puisi dari Abdoel kali ini seperti juga ikut mendikte gaya pantun pada puisi lama.

Secara pribadi saya kira pembaca dihadapkan pada satu ketaktisan Abdoel yang berjuang untuk menciptakan deret diksi yang saling berpilin, memintal lalu jadi lepas bebas. Pada Sajak Pak Tani misalnya kita menemukan dengan cemerlang Abdoel bermain kata

Subur-suburlah tanamku

Anak-anakku butuh biaya

Jika terpaksa berhutang-pada tetanggalah harap utama

Meski bunga utang menjadi

Meskipun untuk Sajak Pak Tani ini beberapa deret kata ikutannya kurang berterima tetapi tetap menghadirkan satu pembacaan/pengucapan yang enak.

Pada baris satu dan dua pada penggalan puisi di atas ada kesatuan tapi tidak diikuti pada bait tiga dan empat dari penggalan itu.

Jika saja Abdoel punya sensasi rasa juga refleksi yang terus diasah bukan tidak mungkin puisi-puisi yang bakal tercipta lagi pasti lebih istimewah.

Pada puisi Pantun Percintaan lagi-lagi Abdoel mengahdirkan pesona yang khas. Puisi ini sebenarnya puisi cinta biasa tapi menjadi satu pesan universal yang penuh dengan ajakan bermakna.

Abdoel dalam puisi ini menghadirkan satu kesan yang tidak basi. Tema cinta adalah tema yang hampir semua orang dimana-mana juga pada setiap kesempatan dibicarakan. Tapi ketika hadir dalam puisinya Abdoel kali ini jadi satu pembacaan yang berkesan.

Lautan kasih manis madu

Luas samudera kita mendayung

Jika salah tegurlah sayang

Belai rambut sampai putih

Genggam jemari sampai purna

Begitu pun pada puisi Rindu dalam Arloji.Dari judul saja sudah nampak bahwa puisi ini menghadirkan satu keefektifan memilah kata.

Puisi pada galibnya juga adalah kepaduan menetapkan diksi dan memberi arti pada setiap pembacanya untuk ikut hanyut dalam pesan-pesan universal yang diutarakan.

Previous ArticleDemi Selamatkan KPK, Ini Anjuran BKH untuk Presiden
Next Article Padi Diserang Hama, Sawah di Aeramo Terancam Gagal Panen

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.