Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Film G30S/PKI Dianggap Bentuk Pembodohan, Ini Anjuran Pastor Otto Gusti
NTT NEWS

Film G30S/PKI Dianggap Bentuk Pembodohan, Ini Anjuran Pastor Otto Gusti

By Redaksi25 September 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Syuting film G30S/PKI (Foto: Dokumentasi Tempo/Maman Samanhudi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Pengajar filsafat dan Hak Asasi Manusia pada Kampus STFK Ledalero, Pastor Otto Gusti Madung, SVD menilai pemuataran ulang film G30S/PKI sebagai upaya pembodohan terhadap rakyat.

Pasalnya terdapat banyak kebohongan dalam film tersebut.

“Contoh sederhana saja dalam film tersebut diceritakan bahwa para jendral disiksa dan alat kelamin dipotong padahal hasil autopsi menunjukkan mereka mati karena ditembak,” ungkapnya saat dihubungi VoxNtt.com, Sabtu (23/9/2017).

Oleh karenanya, dirinya menyarankan agar rakyat menonton juga film-film lain dari perspektif yang berbeda seperti ‘Jagal’ dan ‘Senyap’.

Tujuannya agar terbangun diskurus tentang tafsir sejarah peristiwa 65.

Kebenaran sejarah dan memori kolektif bangsa harus dibangun atas komunikasi yang demokratis dan bebas represi.

“Jagal mendapat apresiasi internasional jadi mengapa harus ditolak di Indonesia. Sudah saatnya rakyat bangkit melawan militerisme dan otoritarianisme,” ungkap Pastor Otto.

Perlu diketahui pada Jumad (22/9/2017) lalu Kodim 1306 Sikka melakukan pemutaran film G30S/PKI di halaman Kantor Lurah Nangalimang, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Otto menilai hal tersebut bukanlah merupakan masalah.

“Sah-sah saja kalau mau putar film itu tetapi tentara tidak punya hak paksa rakyat untuk menonton. Selain itu perlu juga dibuka ruang untuk film lain berdasarkan riset sejarah yang ilmiah dan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan menurut metodologi penelitian sejarah,” imbuhnya.

Salah satu editor buku Berani ‘Berhenti Berbohong; 50 Tahun Pasca Peristiwa 65-66’ menghimbau Gereja Katolik dan komunitas umat agar melakukan pemutaran film ‘Jagal’ dan ‘Senyap’.

Hal itu perlu dilakukan sebagai bagian dari misi gereja mewartakan kebenaran serta membebaskan umat dari kebodohan serta manipulasi idielogi kekuasaan. (Are De Peskim/AA/VoN)

Sikka
Previous ArticleKapolres Marselis Tanggapi Kasus Penembakan Warga Matim
Next Article Nagekeo Jadi Tuan Rumah Jambore Pariwisata NTT

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.