Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Robusta Maumere Tidak Kalah dari Kopi Lain Asal Flores
Ekbis

Robusta Maumere Tidak Kalah dari Kopi Lain Asal Flores

By Redaksi20 Oktober 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Isye Fernandes sedang mengoperasikan alat pembuat Expresso di Sibakloang Gallery and Coffee (Foto: Dok. Sibakloang Gallery and Coffee)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Owner Sibakloang Gallery and Coffee, Isye Fernandes menilai kopi robusta Maumere tidak kalah nikmatnya dengan jenis kopi lainnya dari Flores seperti Ende, Bajawa, dan Manggarai.

“Robusta Maumere yg dikembangkan petani di Watublapi dan Kloangrotat rasanya sangat kuat. Tidak kalah dengan kopi-kopi lainya,” terang Isye saat dihubungi VoxNtt.com, Kamis (19/10/2017).

Menurut Isye beberapa penikmat kopi yang berkunjung ke Sibakloang mengakui hal itu.

Dirinya menduga kekuatan rasa tersebut dikarenakan tingginya daerah budi daya kopi dari permukaan air laut.

Akan tetapi, petani di Sikka belum menjadikan kopi sebagai komoditas yang bernilai jual.

Kopi hanya ditanam tumpang sari dengan tanaman komoditi utama seperti cengkeh dan kakao.

Budi daya kopi hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga meskipun dalam keadaan mendesak petani juga menjual kopi ke tengkulak.

Isye menambahkan belum lama ini dirinya melakukan riset kecil terkait perlakuan petani di Sikka terhadap kopi.

Dirinya tidak hanya berkunjung ke beberapa kebun melainkan juga membeli kopi dari kebun petani.

Dengan cara itu, Isye menemukan kecenderungan petani tidak memilih kopi yang layak panen dan belum.

Hal itu sangat berdampak terhadap kualitas kopi ketika diolah.

“Biasanya saat hendak jual mereka mencampur kopi yang sudah masak, yang masih muda, atau pun yang jatuh di tanah,” terang Isye.

Dirinya menilai kualitas kopi sangat berpengaruh terhadap harga dan kepercayaan pembeli.

Oleh karenanya dirinya berharap petani Sikka hanya menjual kopi yang sudah matang dan belum jatuh ke tanah.

Menurut dia saat ini permintaan kopi baik itu green bean (biji kopi mentah) atau roasted bean (biji kopi yang telah disangrai) cukup tinggi.

Isye dan Sibakloang Gallery and Coffee berkomitmen memperkenalkan kopi asal Sikka ke luar.

Penulis: Are de Peskim
Editor: Adrianus Aba

Sikka
Previous ArticleEvaluasi Tiga Tahun Jokowi-JK, LMND Ajak Rakyat Menangkan Pancasila
Next Article BKH Terharu Saksikan Pemakaman Adik Kandung Umbu Mehang Kunda

Related Posts

Pastor Pantura Tolak Tambang Mangan di Reok dan Lamba Leda Utara

8 Agustus 2026

Organisasi Sipil Berperan Penting Dukung Investasi Hijau

3 Agustus 2026

Keuskupan Agung Ende dan Warga Flores Gugat Tiga SK Geothermal ke Mahkamah Agung

31 Juli 2026
Terkini

Kekerasan Seksual Anak di Sumba Timur: Rumah Tak Lagi Aman

2 September 2026

Gunung Anak Ranaka Naik ke Level Waspada, Warga Diminta Menjauh Satu Kilometer

2 September 2026

Aktivitas Gunung Api Anak Ranaka Meningkat, PVMBG Naikkan Status ke Level Waspada

2 September 2026

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

JPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

1 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.