Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Saluran Pembuangan Tak Tembus, Petaka Bagi Petani Rendu dan Nggolonio
Regional NTT

Saluran Pembuangan Tak Tembus, Petaka Bagi Petani Rendu dan Nggolonio

By Redaksi2 November 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bagian saluran pembuangan di Kilometer 3 dua kiri Langa Dhawe yang belum dikerjakan tembus oleh Pemkab Nagekeo (Foto: Arkadius Togo/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT-Galian saluran pembuangan tahun 2017 di Kilometer 3 dua kiri Langa Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo bakal membawa malapetaka bagi petani Rendu dan Nggolonio.

Betapa tidak, galian itu tidak tembus ke saluran pembuangan induk. Akibatnya, air bakal meluap ke persawahan warga saat musim hujan.

“Kami di sini kalau masuk musim hujan, jalur ini menjadi korban banjir pa. Kalau gali tidak sampai ke SP (saluran pembuangan) induk, kami tahun ini tidak bisa kerja. Sebelumnya tidak ada galian sawah kami juga terendam banjir. Apa lagi galian palang dan mentok begini hancur semua kami di sini,” ujar seorang petani, Wilbrodus Uku saat ditemui VoxNtt.com di Kilometer 3 dua kiri, Kamis (2/11/2017) pagi.

Menurut Wilbrodus galian saluran pembuangan itu sangat tidak menguntungkan petani.

Lantaran tak tembus, air bisa saja meluap ke persawahan warga dan meluluhlantakan padi para petani.

“Kalau gali palang dan mentok begini tambah hancur kami pak. Kami berpikir galian kemarin tembus ke SP induk. Supaya saat banjir air langsung mengalir di ke SP induk. Kalau begini kami tambah susah,” keluh Wilbrodus.

Wilbrodus Uku (Foto: Arkadius Togo/ Vox NTT)

Dikatakan, kendati belum musim hujan saja air masih meluap ke persawahan warga. Apalagi jika musim hujan.

“Kami ada 93 ‎ heaktar sawah yang terdiri dari warga Rendu dan warga Nggolonio. Kami setiap tahun sawah kami jadi korban banjir,” ujarnya.

Karena itu, Wilbrodus berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo untuk segera memperhatikan petani di Kilometer 3 dua kiri tersebut. Sebab sebentar lagi akan memasuki musim hujan.

“Kami hanya minta pemerintah gali SP ini tembus ke SP induk,” pintanya.‎

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan pihak Pemkab Nagekeo belum berhasil dikonfirmasi seputar keluhan petani tersebut.

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

Nagekeo
Previous ArticleSoal Kasus Moge, Polres Belu Tetap Berkordinasi dengan Bea Cukai
Next Article Sinode GMIT Kawal Kasus Plecehan Seksual Anak di TTU

Related Posts

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.