Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Kadis Kesehatan Akui Belu Sebagai Daerah Endemis Malaria
HEADLINE

Kadis Kesehatan Akui Belu Sebagai Daerah Endemis Malaria

By Redaksi7 November 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Belu, Theresia Saik. (Foto: Marcel Manek)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT- Pada acara wisuda Akper Belu, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT Kornelis Kodi Mete menyatakan bahwa kabupaten Belu merupakan salah satu dari tujuh kabupaten di NTT yang berstatus sebagai daerah endemis malaria.

Ketujuh kabupaten dimaksud adalah, empat kabupaten di pulau Sumba, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ende dan Kabupaten Belu, dimana dari tujuh kabupaten tersebut, Belu memiliki angka Anual Parasit Rate paling tinggi dari enam kabupaten lainnya.

Selain memiliki angka API yang tinggi, posisi Belu yang berbatasan langsung dan masih satu pulau dengan Timor Leste membuat Belu harus bekerja lebih keras, karena pendekatan yang digunakan dalam membasmi malaria adalah pendekatan Pulau.

Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Belu, Theresia Saik membenarkan hal itu. Saat ditemui VoxNtt.com di ruang kerjanya pada Senin, (6/11/2017), Saik memaparkan data dan sejumlah fakta serta tantangan dan strategi dalam memerangi malaria di Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu.

“Benar, apa yang disampaikan pak kadis kesehatan bahwa Belu memiliki angka API lebih tinggi dari kabupaten lain. Tapi saya mau tegaskan bahwa data yang kami sampaikan adalah data ril yang tidak direkayasa. Kita tidak atur-atur data untuk menyenangkan pimpinan,” tegas Saik

Berdasarkan data pada Dinkes Belu, angka Anual Parasit Rate hingga Juni  2017 mencapai 4.58/1000 penduduk.

Melihat data tiga tahun terakhir, angka ini cendrung menurun. Namun, Saik mengharapkan partisilasi semua pihak untuk aktif mendukung langkah dan strategi yang ditempuh Dinkes Belu.

Hingga saat ini, ada beberapa upaya yang dilakukan Dinkes Belu yakni; melakukan Survey Darah Masal, kontak serumah, pembagian kelambu rutin, melakukan pemeriksaan darah malaria/DDR, memberikan pengobatan sesuai standar dan melakukan kerja sama lintas sektor di Belu.

Selain langkah-langkah di atas, Dinkes Belu juga berencana untuk melakukan penyemprotan rumah warga menjelang musim hujan.

Ditanya soal ketersediaan tenaga medis, Saik mengatakan, dari sisi kuantitas, saat ini cukup memadai sementara untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis, Dinkes sudah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Propinsi untuk terus memberikan pelatihan secara rutin.

Masyarakat Harus Pro-akrif

Kadis Saik mengajak seluruh masyarakat kabupaten Belu untuk terlibat aktif.

Hal sederhana yang sangat membantu, adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk di tingkat lingkungan keluarga dan pemantaun jentik nyamuk secara berkala, karena cara ini merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif.

Selain itu, Saik juga meminta agar masyarakat menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk seperti bunga lavender, serai dan bunga pecah piring.

Diakuinya, tantangan paling berat dalam usaha pemberantasan malaria di Belu adalah faktor kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap kebersihan lingkungan.

“Bulan lalu saya ikut kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di wilayah kota. Saya lihat masih ada masyarakat yang buat kandang babi dekat sekali dengan rumah. Selain itu, ada banyak kaleng kosong yang dibuang sembarangan saja,” kisahnya.

Ditanya soal peta penderita Malaria, Saik mengakui, yang paling tinggi adalah di wilayah kota. Hal ini disebabkan karena adanya mobilitas penduduk dari Desa ke kota yang tinggi.

Meski demikian, dengan sejumlah langkah dan koordinasi serta kerja sama lintas sektor yang terus dibangun, Saik optimis, sebelum 2023, Belu sudah akan bebas dari Malaria.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Boni Jehadin

Belu
Previous ArticleKadis PK Matim Didesak Segera Copot Kepala SDK Pesi
Next Article BLK Batal Dibangun, Kadis Nakertrans TTU: Itu Salah Saya

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.