Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Setelah Bencana 1992, Ada Tsunami Masa Kini yang Harus Diwaspadai
HEADLINE

Setelah Bencana 1992, Ada Tsunami Masa Kini yang Harus Diwaspadai

By Redaksi6 Desember 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para pembicara dalam malam refleksi tsunami. Dari kiri ke kanan; Dimas Rajalewa (moderator), P. Leo Kleden, SVD, Dan Woda Pale, Dede Aton dan Yudi (Teater Garasi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT– Tahun 1992 Maumere diporak-poranda tsunami. Tsunami yang diawali dengan gempa tersebut merusak sebagian besar wilayah Kota Maumere dan Kabupaten Sikka.

Akan tetapi, setelah 25 tahun tsunami berlalu, ada tsunami masa kini yang juga merusak wajah Kota Maumere dan Kabupaten Sikka.

Dalam malam refleksi tsunami yang digelar Komunitas Kahe pada Selasa (5/12/2017), mantan Bupati Sikka, Daniel Woda Pale menyatakan vandalisme memiliki daya rusak dan perlu diwaspadai oleh anak muda saat ini.

“Sebelum tsunami 92 kota ini pernah hancur lebur dihantam bom Jepang, tetapi berhasil bangkit kembali. Demikian juga pasca tsunami 92 gempa Maumere bisa bangkit. Hanya yang perlu diwaspadai adalah tsunami masa kini yaitu vandalisme. Dinding-dinding penuh dengan coretan,” ujar Daniel Woda Pale.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator Komunitas Kahe, Dede Aton.

Menurutnya, refleksi tsunami tersebut tidak hanya terbatas pada bencana 25 tahun lalu.

“Sampai saat ini kami di Kahe masih mencari apa tsunami masa kini yang memiliki daya rusak yang sama seperti tsunami 92. Itu bisa saja kapitalisasi terhadap kekayaan sumber daya alam, pembangunan yang justru merusak wilayah pesisir atau apa pun yang memiliki daya rusak terhadap lingkungan,” tegasnya.

Malam refleksi tersebut merupakan awal dari rangkaian pekan seni yang digelar Komunitas Kahe bersama Teater Garasi untuk memperingati tsunami di Sikka.

Selama sepekan Kahe yakni 5-11 Desember 2017 sejumlah aktivitas seni akan berlangsung di Dapoer Soenda Flores, samping Basecamp Radio Sonia FM diantaraneya diskusi, pembacaan puisi dan ceepen, mural painting, pemutaran film, serta pementasan teater dan monolog.

 
Penulis: Are de Peskim
Editor: Adrianus Aba

Sikka
Previous ArticleDiminta Warga Buat Amdal Pengembangan SPBU Mbaumuku, Ini Tanggapan Kadis LHD Manggarai
Next Article Eksploitasi Tambang Pasir Besi Nangaba Ditutup, Abrasi Muncul

Related Posts

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.