Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Pengrajin Tenun di TTU Keluhkan Pemasaran
Ekbis

Pengrajin Tenun di TTU Keluhkan Pemasaran

By Redaksi18 Desember 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Rosalinda Abuk sementara menenun kain futus (Foto: eman)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT-Pengrajin tenun kain tradisional di kabupaten TTU khususnya di Desa Fatu’Ana, Kecamatan Insana mengeluhkan sulitnya pemasaran produk yang mereka hasilkan.

Padahal kain tradisional jenis bete (kain untuk laki-laki) dan tais (kain untuk perempuan) yang biasa mereka produksi diharapkan mampu menopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Akibat sulitnya pemasaran kain tersebut, sering kali hasil produksi kain mereka dijual dengan harga yang sangat murah.

“Kami biasanya jual di pasar Maubesi, kalau datang cari di rumah untuk kain jenis futus harga per lembar Rp 300 ribu tapi kalau kami bawa sampai pasar ini harganya bisa jadi Rp 200 ribu bahkan Rp 150 ribu tapi terpaksa kami jual karena mau pakai untuk kebutuhan dalam rumah” ungkap Esi Neno, salah seorang pengrajin kain tenun saat ditemui VoxNtt.com di kediamannya di desa Fatu’Ana pada Minggu (17/12/2017).

Esi kepada media ini menjelaskan tak menentunya harga kain tenun yang dihasilkan, disesuaikan dengan jenis dan tingkat kesulitan dalam proses pengerjaannya.

Selain itu lama waktu proses pengerjaan juga menentukan tinggi rendahnya harga kain per lembar.

“Jenis kain yang dihasilkan itu ada 3 ,yang paling mahal itu jenis buna karena memang kerjanya cukup sulit dan lama, harganya bisa sampai Rp2,5 juta, jenis tenun ikat atau futus itu harganya Rp 1 juta per lembar dan yang paling murah itu jenis sotis yakni Rp 300 ribu/lembar”jelas Esi.

Sementara itu, pengrajin kain tenun lainnya, Rosalinda Abuk menjelaskan bahwa keterampilan menenun diperolehnya secara turun temurun dari orang tuanya.

Ia pun menjelaskan bahwa sejauh ini pihaknya belum pernah mendapatkan pelatihan khusus terkait keterampilan menenun.

Terkait kesulitan pihaknya untuk menjual kain tenun yang dihasilkan, Rosalinda berharap agar pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat mencari jalan keluarnya.

“Menenun ini keterampilan yang kami dapat turun temurun dari orang tua, di sini anak perempuan wajib tahu menenun, kami berharap pemerintah bisa bantu kami biar kami bisa jual dengan harga yang sesuai dengan kecapaian kami” ungkapnya penuh harap.

Penulis:Eman Tabean

Editor: Irvan K

Tenun NTT TTU
Previous ArticleDi Ende, Orang Muda Sisihkan Uang Rokok ke Panti Asuhan
Next Article Padang Rumput Popekanu Jadi Tujuan Wisata Baru di TTU

Related Posts

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Kapal Pesiar Mewah Bawa 1.300 Turis Singgah di Kupang, Travel Agen Siapkan Tiga Destinasi

23 Februari 2026

Imigrasi Labuan Bajo Periksa Kedatangan Dua Kapal Pesiar Internasional

19 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.