Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pilkada»Politik Uang dan Politisasi Sara Merusak Demokrasi
Pilkada

Politik Uang dan Politisasi Sara Merusak Demokrasi

By Redaksi15 Februari 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Penandatanganan Deklarasi Tolak Politik Uang dan Politisasi Sara di Lapangan Motang Rua-Ruteng, Rabu (14/2/2018)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Politik uang dan politisasi Sara merupakan kejahatan yang terbukti bukan hanya menodai demokrasi, tapi juga mengancam Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua Panwaslu Kabupaten Manggarai, Marselina Lorensia dalam sambutannya membuka Deklarasi Tolak Politik Uang dan Politisasi Sara di Lapangan Motang Rua-Ruteng, Rabu (14/2/2018).

“Kita sedang menghadapi tahun politik, yakni pada Pilkada serentak 27 Juni 2018 dan Pemilu serentak 2019. Maraknya politik uang dan politisasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (Sara) dalam proses kontestasi untuk memenangkan pemilihan dapat merusak Pilkada dan Pemilu yang berintegritas,” katanya.

“Keduanya, baik politik uang dan kampanye dengan eksploitasi atau mempolitisasi isu Sara adalah bentuk kejahatan yang terbukti bukan hanya menodai demokrasi, tetapi mengancam Pancasila dan NKRI,” tegas Lorensia.

Dia mengingatkan bahwa Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu masih menyisakan noda hitam, dimana perebutan kekuasaan politik ditempuh dengan menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi dan menggerogoti pilar-pilar NKRI.

“Bercermin dari berbagai kasus Pilkada di tanah air, kontestasi politik dapat mengganggu kohesi sosial akibat penggunaan sentimen Sara, penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Kondisi ini semakin parah karena masifnya penggunaan internet dan media sosial,” jelasnya.

Pantauan Panwaslu Kabupaten Manggarai, kata Lorensia, media sosial masih marak digunakan sebagai sarana penyampaian ujaran kebencian dan politisasi Sara.

“Karena itu, kami menghimbau agar ujaran kebencian, eksploitasi dan politisasi Sara kita hentikan untuk mewujudkan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang damai dan berintegritas,” ujarnya.

“Kami juga mengimbau warganet agar bijak dan arif menggunakan teknologi internet sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan perdamaian. Jangan jadikan media sosial sebagai fasilitas untuk menjalankan kejahatan dan merancang permusuhan,” tambahnya.

Sebab itu, dia mengajak semua pihak yang terlibat dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2018 agar memiliki komitmen untuk tidak terlibat politik uang dan politisasi Sara.

“Semua pihak, termasuk masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam penyelenggaraan demokrasi yang sehat tanpa politik uang dan politisasi Sara,” pungkasnya.

“Kami yakin, kehadiran semua elemen di tempat ini merupakan wujud dukungan nyata untuk sama-sama menolak politik uang dan politisasi Sara yang telah nyata merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan bebas KKN,” imbuhnya.

 

Kontributor: Ano Parman
Editor: Adrianus Aba

Manggarai
Previous ArticleCurahan Hati Kaum Difabel Ende Pada Tahun Politik
Next Article Pemdes Banain B TTU Bangun PAM Sendiri

Related Posts

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Satlantas Polres Manggarai Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar dan Kecelakaan Lalu Lintas

24 Juni 2026

Rokok Ilegal Humer Diduga Kuasai 50 Persen Pasar Manggarai, Bea Cukai Turunkan Tim Penindakan

19 Juni 2026
Terkini

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.