Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Di Kupang, Senat Unwira Beri Kartu Merah untuk DPR RI
MAHASISWA

Di Kupang, Senat Unwira Beri Kartu Merah untuk DPR RI

By Redaksi1 Maret 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Salah Satu Anggota Aksi, Sedang Berorasi Depan Kampus Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Sebelum menuju Kantor DPRD NTT. Rabu 28 Februari 2018 (Foto : Tarsi/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Jika sebelumnya publik Indonesia dihebohkan dengan aksi peringatan kartu kuning untuk presiden Jokowi dari BEM UI, di Kupang, ibu kota Provinsi NTT, aksi kartu juga dimainkan Senat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) di DPRD NTT, Rabu, (28/2/2018).

Bedanya mahasiswa di Kupang memberi kartu merah kepada DPR RI terkait revisi Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3).

Pantauan VoxNtt.com, sambil melakukan orasi dan long march, masa aksi memegang kartu merah di tangan mereka sambil sesekali mengangkat kartu tersebut di hadapan pengguna jalan yang lewat.

Koordinator Umum Aksi, Veky Tameon saat diwawancarai usia beraudiens dengan DPRD NTT mengatakan, aksi  kartu merah ini  sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap lembaga DPR yang membungkam sikap kritis rakyat.

“Undang-undang ini merupakan bentuk kemunduran demokrasi di Indonesia. Ini adalah upaya untuk membungkam masyarakat yang ingin mengkritik DPR. DPR seakan menjadi lembaga yang otoriter. 250 juta masyarakat terancam dengan peraturan ini,” tegas Veky usai menggelar demo di Gedung DPRD NTT, Rabu, (28/2/2018).

Senat Unwira menilai revisi undang-undang ini hanya sebagai tameng untuk melindungi diri para anggota dewan dari segala kebobrokan oknum yang selama ini merusak citra DPR.

“Hal ini dapat menghambat pemberantasan korupsi dengan semakin sulitnya memeriksa anggota DPR yang diduga melakukan korupsi. Lama-kelamaan, ini akan membuat korupsi makin tumbuh subur di DPR. Karena itu, bagi kami melihat ada hal yang akan menciderai demokrasi di Indonesia,” kata Veky.

Sementara itu, Ketua Senat Unwira, Elfrem Woni mengatakan, sejak lahirnya revisi UU MD3 pada 12 Februari tahun 2018 lalu sudah menuai kontroversi di masyarakat.

“Sambutan kurang hangat dari publik menandakan ada yang tidak beres dengan UU MD3 ini,” kata Woni.

“UU MD3 ini dijadikan tameng untuk melindungi berbagai persoalan yang menyeret para wakil rakyat,” lanjutnya.

Menurut dia, UU MD3 mengandung banyak pasal yang bertentangan dengan aturan perundang-undangan lainnya. Padahal aturan atau hukum yang dibuat, tidak harus lahir di atas aturan lainnya.

UU MD3 juga berpotensi mengerdilkan KPK yang sedang memantau korupsi di DPR. Dalam UU tersebut dikatakan kalau dipanggil DPR, tidak datang, bisa dipanggil paksa oleh polisi.

“Pemanggilan paksa ini termasuk kepada pimpinan KPK yang sebelumnya bukan menjadi kewenangan DPR. Langkah ini bisa menjadi intervensi DPR terhadap proses pemberantasan korupsi di KPK,” pungkas Woni.

Menanggapi aspirasi itu, wakil ketua  DPRD NTT, Alex Ofong  mengatakan sebagai lambaga perwakilan di daerah aspirasi yang disampaikan oleh senat mahasiswa Unwira Kupang itu akan meneruskan ke lembaga DPR RI.

“Kita juga melihat bahwa di media sosial sudah banyak beredar permintaan menolak revisi UU ini.  Sudah sekian juta orang yang menandatangani ini. Maka hari ini apa yang dilakukan oleh teman-teman ini adalah  bentuk aspirasi perlawanan terhadap arogansi DPR dan lembaganya. Tentu kita yang ada disini sepakat dengan teman-teman,” kata Ofong.

Penulis  :  Tarsi Salmon

Editor    :   Boni Jehadin

Kota Kupang
Previous ArticleUskup Agung Ende: Peran DPD RI Perlu Dimaksimalkan
Next Article Dinilai Merampas Hak Politik Pemilih, Ini Tanggapan KPU Matim

Related Posts

Proyek Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Dinas Pertanian Akui Lahan Diklaim Milik Polri

12 Agustus 2026

Camat Welak Rutin Datangi Pasien ODGJ, Mandi Bersama hingga Berbagi Cerita

9 Agustus 2026

Cakades Termuda di Pilkades Wewa, Yohanes Dedipati Usung Desa MAJU

8 Agustus 2026
Terkini

PAN Manggarai Gelar Rakerda, Bupati Tantang Kader Tekan Kemiskinan di Wilayah Utara

12 Agustus 2026

Tiga Pria Diamankan Polisi Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup di Manggarai Barat

12 Agustus 2026

Proyek Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Dinas Pertanian Akui Lahan Diklaim Milik Polri

12 Agustus 2026

Kolang FC Hantam Wae Mata FC 6-1 di PSSI Manggarai Barat Cup II

12 Agustus 2026

Krisna FC Menang 2-0 atas Menjaga FC di PSSI Manggarai Barat Cup 2026

11 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.