Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»80 % yang Masuk 10 Besar Kelulusan Tingkat SMA di NTT dari Sekolah Berasrama
HEADLINE

80 % yang Masuk 10 Besar Kelulusan Tingkat SMA di NTT dari Sekolah Berasrama

By Redaksi5 Mei 20185 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sekretaris Dinas Pendidikan NTT, Aloysius Min (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Hampir 80 % tingkat kelulusan yang masuk 10 besar kategori SMA di NTT berasal dari sekolah berasrama. Hal ini disampaikan sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Aloysius Min.

Hal itu dikatakan Alo saat ditemui VoxNtt.com di ruangan kerjanya, Jumat (04/05/2018).

“Itulah peringkat 10 besar SMA yang kita lihat dari UNKP dan UNBK. Dari 10 besar untuk UNBK, kita lihat lebih banyak dari sekolah-sekolah swasta, seminari, yang berasrama dengan rata-rata nilai 74 sampai 54 terbawah,” ujar Alo.

Menurut Alo, Keberhasilan para siswa tersebut tidak hanya ditentukan di sekolahnya, tetapi juga jam belajar di Asrama juga sangat menentukan.

“Kita melihat banyak yang masuk 10 besar itu berasal dari sekolah-sekolah berasrama. Oleh karena itu, bagi saya, jam belajar anak ini memang mesti diatur. Kalaupun tidak diasramakan minimal pemusatan jam belajar anak di titik tertentu. Di sini, peran orang tua juga penting untuk mengatur jam belajar anak,” tambahnya.

Masih Alo, untuk pemusatan belajar, kata dia perlu difasilitasi oleh sekolah dan pemerintah supaya anak-anak itu mempunyai kesempatan belajar yang teratur.

“Toh, dengan kata lain mesti kita menghidupkan kembali revitalisasi gong belajar untuk meningkatkan UN,” katanya

UN itu sendiri kata Alo, walaupun bukan penentu kelulusan tetapi tetap dianggap sebagai pemetaan mutu.

“Oleh karena itu data UN ini kami akan melakukan intervensi. Salah satu nantinya adalah evaluasi kinerja sekolah. Untuk jangka pendeknya, kita akan tingkatkan lagi tentang pelatihan guru, kemudian berbagai workshop juga kita akan lakukan, salah satunya tadi pemusatan jam belajar dan dukungan orang tua,” imbuhnya.

Untuk jangka menengah dan jangka panjang lanjut Alo,  pihak Dinas Pendidikan NTT akan mengatur tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk jumlah peserta didik per rombongan belajar (Rombel).

“Tidak boleh lebih dari 36 orang, kemudian sesuai Rombel. Kalau kita lihat data sekolah 10 besar ini juga yang siswanya diatur betul, tidak ada membludak di sana,” ungkapnya.

“Jadi, saya kira ini kita evaluasi bersama, kita memberi kontribusi pemikiran untuk peningkatan mutu pendidikan hasil UN ke depan. Dari hasil UN ini kita tentu kita jadikan evaluasi untuk kita bersinergi semua pihak terlibat didalam tanggung jawabnya sesuai tugas masing-masing,” cetus Alo.

Nilai Turun

Lanjut Alo, hasil ujian Nasional tahun 2018 khusus untuk SMK rata-rata nilainya 42,27. Tahun 2017 42,25. Sedangkan SMA tahun 2017 45, 51 tahun 2018 42,34, ada turun 3 poin.

“Kalau SMA tadi ia naik di komanya, atau dianggap saja masih sama. Memang tidak pas juga untuk kita bandingkan hasil nilai 2017 dan 2018. Mengapa, karena dari segi tingkat kesukaran soalnya bertambah 10 persen lagi. Atau yang sering disebut hots atau soal-soal irisan. Soal analisis itu naik sebanyak 10 persen. Sehingga dibandingkan dengan rata-rata 2017 dan 2018 sepertinya juga tidak pas. Tetapi seringkali publik dan kita ingin tahun 2017 berapa? Dan 2018 berapa? Dengan alasan apa?. Alasannya itu tadi, memang tidak pas untuk dibandingkan,” jelasnya.

Lebih lanjut Alo mengatakan, faktor yang mempengaruhi UN di tahun 2018 yakni jumlah sekolah yang mengikuti UNBK sangat tinggi sekitar 43,34 persen dari tahun lalu 105, tahun ini menjadi 328 sekolah yang mengikuti UNBK.

“Itu artinya, menurut saya anak-anak kita bisa menyelesaikan soal Ujian Nasional (UN). Kalau kita bandingkan juga dengan provinsi lain juga sama. Mengalami penurunan, karena ada peningkatan tingkat kesukaran 10 persen dari tahun lalu. Kalau SMP nanti baru naik 10 persen. Kali ini SMA/SMK yang naik lagi 10 persen, menjadi 201 persen,” pungkasnya.

“Tapi, ini tentu tidak dianggap sebagai alasan utama tetapi bagi kita ini tantangan yang kemudian untuk menata mutu pendidikan kita dari tahun ke tahun,” tambahnya.

Secara nasional kata dia, hingga saat ini sejak 2 tahun lalu Nasional tidak membuat peringkat kelulusan.

“Dua tahun terakhir, Nasional tidak lagi membuat peringkat. Oleh karena itu, nantinya mereka akan melihat, misalnya dari segi hasil nilai baru mereka kelompokkan, kategorikan lalu mereka membuat zona. Kecuali itu di tingkat provinsi, kita membuat 5 besar tingkat kabupaten dari segi hasil nilai,” tuturnya

Peringkat 5 besar Kabupaten UNKP NTT Tahun 2018 dari segi rata-rata yakni , TTS, Manggarai Barat, Rote Ndao, Manggarai Timur, dan Ngada. Kemudian UNBK ada Belu, Ngada, Flotim, Sikka, dan Lembata.

Sedangkan SMK, untuk UNBK yang mendapat 5 besar yakni, Kota Kupang, Belu, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Sikka. Kemudian UNKP ada Manggarai Barat, Manggarai Timur, Alor, Sumba Barat Daya, dan TTS.

Di bawah ini adalah daftar sekolah yang masuk dalam 10 besar UNKP 2018 yakni: SMAN 2 Kuwus, SMAN 1Elar, SMAN 1 Mbeliling, SMA Seminari Lalian, SMAN 3 Pocoranaka, SMAN 1 Molo Selatan, SMAN 2 Macang Pacar, SMAN 7 Kota Komba, SMAK St. Maria Trinitas, SMAN 1 Macang Pacar. 10 besar untuk Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat sekolah yakni, SMAN 1 Molo Selatan, SMA Kristen Kapan, SMAN 2 Kuwus, SMAN Uspimnasi, SMAN 3 Pocoranaka, SMAN 1 Lamba Leda, SMA Seminari Lalian, SMAN Oeleu, SMAN 8 Borong, SMAN 4 Lamba Leda. 10 besar untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat sekolah yakni, SMA Kristen Kapan, SMAN Uspimnasi, SMAK Sanctisima Trinitas, SMAN 1 Macang Pacar, SMAN 3 Poco Ranaka, SMAN 1 Mbeliling, SMA Seminari Lalian, SMAN 2 Kuwus, SMAN 3 Lamba Leda, SMAN Bokong.

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Boni J

Kota Kupang
Previous ArticleDinas PUPR Ende Mulai Membuka Jalan di Daerah Terisolir
Next Article Lambatnya LPJ Dana Desa di Matim Diduga Karena Lemahnya SDM Aparat Desa

Related Posts

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

LBH GAMKI NTT Buka Layanan Konsultasi Hukum Gratis untuk Masyarakat

3 Juni 2026

Kasus Dugaan Penggelapan Dokumen PH Tanah 10 Hektare di Kupang Berakhir Damai

2 Juni 2026
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.