Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Puluhan Hektare Sawah di Desa Keli Tidak Dialiri Air
Regional NTT

Puluhan Hektare Sawah di Desa Keli Tidak Dialiri Air

By Redaksi31 Mei 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
(Foto: Arkadius Togo/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Puluhan hektare lahan sawah di Desa Keli, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo tidak dialiri air. Itu terutama di wilayah irigasi Mburu.

Warga pun tidak menikmati penghasilan sawah. Situasi ini sudah berlangsung belasan tahun.

Penyebabnya, saluran irigasi yang dibangun Pemkab Nagekeo lebih tinggi dari pintu air. Akibatnya, air tidak bisa mengalir ke persawahan warga.

“Kami hampir belasan tahun kami tidak bisa kerja sawah lagi. Karena saluran yang dikerjakan Pemda Nagekeo tidak sampai pada bibir parit. Sementara saluran permanen itu lebih tinggi dari bibir parit. Sehingga air dari bibit parit itu tidak bisa mengalir lagi ke saluran yang dikerjakan itu,” kata Silvester jago dan Gaspar Ude, dua petani asal Desa Keli saat ditemui VoxNtt.com usai peresmian kantor Desa Mbaenuamuri I pada Rabu, 30 Mei lalu.

Silvester dan Gaspar mengaku, kurang lebih 20-an hektare sawah milik warga Desa Keli di irigasi Mburu hingga kini tidak bisa dikerjakan.

Saluran irigasi Mburu, lanjut mereka, kurang lebih berjarak 300 meter. Sekitar 200 meter di antaranya yang sudah dikerjakan Pemkab Nagekeo tahun 2017 lalu.

“Sisanya dari bibir parit ke saluran yang sudah dikerjakan itu sekitar 100 meter,” beber Silvester.

Menurut Silvester, saluran irigasi itu hingga kini tidak difungsikan, sebab tidak bisa mengaliri air.

“Mau mengalir bagaimana. Masa kerja bukan star dari bibir parit malah kerja star dari tengah. Bukan hanya itu tetapi saluran permanen yang dikerjakan itu lebih tinggi dari bibir parit. Yang jelas air tidak bisa jalan mendaki,” ujar Silvester.

Menurut dia, keluhan itu pihak sudah pernah disampaikan berkali-kali saat Musrembangdes Keli. Namun sampai saat ini tidak ada tanggapan.

Sebab itu, Silvester berharap Pemkab Nagekeo segera memperhatikan nasib petani di Desa Keli.

 

Penulis: ArkadiusTogo
Editor: Adrianus Aba

Nagekeo
Previous ArticleMendagri Sebut Pancasila Diawali dari Kota Ende
Next Article Empat Pelaku Penculikan Putra Kundrat Mantolas Ditetapkan Sebagai Tersangka

Related Posts

PT SJA Sosialisasikan Rencana Tambang Mangan di Reok, Warga Kampung Jengkalang Nyatakan Dukungan

29 Juni 2026

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026
Terkini

PT SJA Sosialisasikan Rencana Tambang Mangan di Reok, Warga Kampung Jengkalang Nyatakan Dukungan

29 Juni 2026

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.