Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»OPINI»EKONOMI POLITIK»Resmikan Gedung Kopdit Boawae, Ini Pesan Uskup Agung Ende
EKONOMI POLITIK

Resmikan Gedung Kopdit Boawae, Ini Pesan Uskup Agung Ende

By Redaksi3 September 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota memberkati air untuk diperciki bangunan gedung baru Kopdit Boawae itu, Sabtu (01/09/2018). (Foto: Arkadius Togo)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Gedung baru Koperasi Kredit (Kopdit) Boawae diresmikan. Peresmian gedung baru yang berdomisili di Kelurahan Natanage Timur, Kecamatan Boawae ini dirayakan dengan misa kudus yang dipimpin langsung Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota, Sabtu (01/09/2018).

Sebelum memimpin perayaan ekaristi syukur tersebut, Uskup Sensi terlebih dahulu menandatangani prasasti dan pengguntingan pita, dilanjutkan pemberkatan seluruh ruangan Gedung berlantai empat, termasuk Gua Maria di Lantai V gedung tersebut.

Uskup Sensi didampingi sejumlah imam konselebran seperti, Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae, Romo Yosep Liwu Pe, Pastor Paroki Nangaroro, Romo Wempy da Silva, Pastor Kapelan Paroki Boawae, Romo Paulus Bongu, Pastor Paroki Wudu dan Pastor Kapelan Paroki Wudu, Pater John Gono SVD.

Dalam khotbahnya, Uskup menegaskan dua hal pnenting dalam membangun serta mengembangkan Kopdit tersebut yakni, Solidaritas dan Kemandirian. Dia menjelaskan, dua hal itu tidak terlepas satu dengan yang lainnya.

Bila kemandirian dimaknai sebagai suatu yang lebih manusiawi dan lebih martabat, maka dibutuhkan senjata solidaritas.

Tuhan, ungkap Uskup, berpihak pada orang-orang yang tersingkir termasuk status sosial dalam konsep Solidaritas, Tuhan menghendaki untuk hidup tanpa sistem sekat-sekat yang membedakan.

Dia juga menjelaskan, solidaritas itu memutuhkan kesetaraan, keadilan yang dapat dirasakan oleh semua orang.

“Tuhan juga menghendaki Solidaritas yang kita dengarkan dan didengungkan serta diyakini dalam perlakuan satu terhadap yang lain. Harus membangun solidaritas sebagai jembatan untuk mencapai cita-cita,” ungkapnya.

Kemegahan gedung tersebut terang Sang Uskup harus diselaraskan dalam sikap terhadap sesama dan terhadap Tuhan.

“Bangunan ini megah. Bermegahlah dalam Tuhan dan selaraskan diri dalam kehidupan bersama dan Tuhan,” ujarnya.

Ditambahkannya, solidaritas yang dibangun adalah sukses menurut pikiran Allah dengan tidak menciptakan sekat-sekat, perbedaan-perbedaan.

“Sebagaimana dikatakan tadi, bangunan yang ada harus selaras pula dengan pelayanan yang optimal tanpa pandang bulu kepada anggota,” pinta Sang Uskup.

Menyetir injil Mateus yang bicara tentang talenta, Uskup Sensi kembali menegaskan, Tuhan memberi setiap orang talenta.

“Bagi Tuhan, walau yang sedikit talenta namun mau dikembangkan maka akan menjadi besar. Tuhan marah dan menghukum orang yang mana talenta yang diberikan tapi tidak dikembangkan,” tegasnya.

Dia menambahkan, alasan kemalasan dalam membangun usaha itu tidak bisa dibenarkan. Sebab lanjut dia, kemalasan menyebabkan talenta yang Tuhan berikan tidak bisa dikembangkan.

“Namun dengan talenta yang ada, yang diberikan Tuhan dapat dibungakan, diinvestasikan dan dikembangkan,” tuturnya.

Mengakiri petuahnya, dia kembali menegaskan tentang dua kata kunci, Solidaritas dan Kemandirian menentukan hakikat koperasi karena di dalamnya ada usaha saling membutuhkan dan melengkapi untuk mencapai kesuksesan.

“Tidak akan ada artinya bila Koperasi mengabaikan solidaritas yang merupakan nafas dan kata kunci sebuah koperasi kredit, katanya.

Menurutnya, kemandirian akan menjadi konkret ketika setiap orang tidak bekerja untuk dirinya sendiri namun untuk sesamanya dan tentu perlu bantuan orang lain.

“Tuhan memberikan kita segala potensi yang kita butuhkan dan jangan sampai mengabaikan Tuhan. Bangun bersama Koperasi ini, jaga dan rawatilah,” Pesan yang mulia.

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Boni J

kopdit boawae Nagekeo uskup ende uskup sensi
Previous ArticleBupati Deno Minta Pegawai RSUD Ruteng Taat pada Struktur
Next Article PMKRI Ruteng Desak KPU Tetapkan Pemilu Susulan untuk NTT

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.